RSPON - Kamis 6 Mei 2021 dilakukan pembahasan perjanjian kerja sama antara RSPON dengan Pro Stem tentang Penelitian Uji Klinis Terapi Allogenic Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cells (UCMSCs) DAN Allogenic Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cells-Conditioning Media (UCMSCs-CM) terhadap anak dengan Cerebral Palsy. Rapat pembahasan perjanjian kerja sama tersebut dihadiri oleh Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS (Direktur SDM dan Pendidikan RSPON), dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS (Direktur Pelayanan Medik, Keperawatan dan Penunjang) dr. H. Febindra Eka Widisana, MKM (Kabag Organisasi dan Umum RSPON), Jatmiko, SE, MM (Kabag Akuntansi dan BMN) Prapti Widyaningsih SH, MH (Kasubbag Hukormas RSPON), dr Anna Ritonga (Riset dan Terapan RSPON), Adlina Novia (ProStem) dan Cyntia R.S (ProStem).

Dengan adanya pembahasan perjanjian kerja sama tentang Penelitian Uji Klinis Terapi Allogenic Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cells (UCMSCs) DAN Allogenic Umbilical Cord Mesenchymal Stem Cells-Conditioning Media (UCMSCs-CM) terhadap anak dengan Cerebral Palsy diharapkan dalam waktu dekat setelah penelitian dilakukan dengan beberapa tahap serta indicator penelitian dan hasilnya dapat dimanfaatkan oleh medis serta bagi masyarakat.
(Teguh–Humas)

RSPON - Senin 12 April 2021, RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta bekerja sama dengan Bank BTN mengadakan pelatihan melalui zoominar dengan tema “Effective Customer Handling Skills & BTN Solusi”.

Dalam acara zoominar tersebut pegawai RSPON terutama pegawai yang menerima handling complaint dan frontliner diberikan pelatihan peningkatan kemampuan serta pemahaman untuk meminimalisir komplain dan cara menangani komplain dengan cara yang lebih elegant.

Bertempat di Gedung B RSPON penyerahan sertifikat dilaksanakan, hadir dalam acara penyerahan sertifikat tersebut Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS Direktur SDM dan Pendidikan RSPON, dr. H. Febindra Eka Widisana, MKM Kabag Organisasi dan Umum RSPON, Prapti Widyaningsih SH, MH Kasubbag Hukormas RSPON, Bp. R. Bambang Tjahjo Kacab Bank BTN Jakarta Cawang, Popit Febriyanti Branch Consumer Funding Head Senior Manager Bank BTN Jakarta Cawang
(Teguh–Humas)

RSPON - Pada hari Jumat 19 Maret 2021, bertempat di Lantai 10 Gedung B Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, dilakukan pelaksanaan vaksinasi perdana untuk Lansia, yang telah menentukan lokasi vaksinasinya di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Adapun pelaksanaan vaksin dilakukan mulai pukul 07:00 WIB sampai dengan pukul 14:00 WIB.

Pasien pertama kali datang dengan mengisi formulir peserta vaksin, yang dilanjutkan menuju meja Pendaftaran dan Verifikasi. Setelah dilakukan Verifikasi, pasien yang sudah terdaftar, dipersilahkan ke meja Screening untuk dilakukan pemeriksaaan oleh dokter dan tensi. Apabila hasil dari pemeriksaan screening pasien dinyatakan layak untuk dilakukan vaksinasi, maka selanjutnya dapat menuju meja Penyuntikan vaksin. Setelah dilakukan penyuntikan vaksin, pasien diarahkan ke meja Observasi, dan diminta menunggu selama 30 menit untuk observasi, apakah ada gejala yang timbul setalah dilakukan vaksinasi atau tidak. Jika tidak ada gejala yang timbul, dan kondisi pasien setelah observasi 30 menit baik, pasien akan diberikan kartu vaksin, dan diminta datang kembali setelah 28 hari untuk pelaksanaan vaksinasi yang ke dua. Setelah itu pasien diperbolehkan untuk pulang. Diharapkan, dengan dilakukannya vaksinasi untuk lansia, masyarakat yang termasuk kedalam kategori lansia yang rentan terkena virus covid 19, dapat dicegah penularan virus covid 19.
(Ruly–Humas)

RSPON - Pandemi COVID-19 melanda Indonesia sejak Maret 2020 tentu membawa perubahan pada roda kehidupan masyarakat Indonesia dan khususnya dalam pelayanan kesehatan di Indonesia. Rumah sakit yang merupakan salah satu tombak pemberian pelayanan kesehatan kepada masyarakat Indonesia terus berinovasi dalam pemberian pelayanan kesehatan. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta memberikan pelayanan kesehatan prima dan terus berinovasi dalam bidang kesehatan sebagai bentuk percepatan penanganan penyakit saraf dan otak khususnya stroke di era pandemi COVID-19 saat ini. Salah satu inovasi terbaru yang diberikan oleh Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta adalah menghadirkan ruang CT-scan bertekanan negatif sebagai bentuk upaya percepatan penanganan penanganan penyakit saraf dan otak di era pandemi COVID-19.

Bertempat pada hari Selasa tanggal 2 Februari 2021, Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (dr. Mursyid Bustami Sp.S(K), KIC, MARS) bersama Direktur Pelyanan Medik Keperawatan dan Penunjang (dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS), Direktur Perencanaan, Keuangan dan BMN (Diana Mutiara, SE, M.Akun) dan Direktur SDM, Pendidikan dan Umum (Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawan, Sp.S(K), MARS) meresmikan ruangan IGD dan CT-Scan bertekanan negatif baru di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Acara peresmian ruangan IGD dan CT-Scan bertekanan negatif baru dihadiri oleh Kepala Instalasi IGD Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (dr. Arif Rachman, Sp.S), Kepala Instalasi Radiologi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (dr. Melita, Sp.Rad(K)) serta perawat IGD Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Dengan simbolis pemontongan pita dan tumpeng, ruangan IGD dan CT-Scan bertekanan negatif baru resmi dibuka untuk pelayanan umum kepada masyarakat.

Peresmian ruangan IGD dan CT-Scan bertekananan negatif baru diharap dapat menjadi inovasi dan semangat baru dalam mengwujudkan pelayanan kesehatan yang prima untuk masyarakat Indonesia khususnya dalam pelayanan penangan penyakit sistem persarafan dan otak di era pandemi COVID-19.
(Ayu–Humas)

RSPON - (26/1/2021) Selasa siang ini, 26 Januari 2021, tengah berlangsung "Pelatihan Spesimen Swab Nasofaring dan Orofaring" di Ruang Auditorium Lantai 16 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Kegiatan yang diikuti oleh 40 karyawan yang terdiri dari dokter umum dan perawat IGD pada tanggal 26 dan 28 Januari 2021 ini, bertujuan membekali para tenaga kesehatan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. Mahar Mardjono Jakarta agar menguasai keterampilan pengambilan spesimen swab agar pasien nyaman, tidak menimbulkan cedera.
(Ratna F–Humas)

RSPON - Zoominar Edukasi Awal Tahun 2021 yang dilaksanakan pada Kamis 14 Januari 2021 dalam rangka memperingati 1 Tahun Clinic Pituitary RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Zoominar ini diikuti oleh pegawai RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta dan masyarakat umum yang bertujuan untuk memberikan informasi serta pemahaman tentang adaptasi kebiasaan baru di era pandemi Covid-19.

Pada zoominar kali ini dr. Redy, M.Kes, Sp.Ok sebagai pembicara yang memberikan edukasi tentang “Adaptasi Kebiasaan Baru dan Latar Belakangnya di Era Pandemi Covid-19”. Sebagai narasi pembukaan dr. Redy, M.Kes, Sp.Ok memberikan penjelasan asal-usul Covid-19 diduga pertama kali berasal dari reservoir hewan (kemungkinan kelelawar atau trenggiling) yang menularkannya ke manusia secara langsung atau melalui inang perantara. Kasus Covid-19 pada manusia pertama ditemukan di Wuhan, Provinsi Hubei, China pada Desember 2019, dimana banyak di antaranya pernah mengunjungi atau bekerja di pasar hewan besar di daerah tersebut. Setelah penularan awal dari hewan ke manusia, terjadi penularan virus dari manusia ke manusia yang menyebabkan semua kasus baru Covid-19.

R adalah rate replikasi suatu penyakit yaitu jumlah rata-rata orang yang tertular oleh setiap orang yang menderita penyakit tersebut. R bersifat dinamis, tergantung pada berbagai faktor, termasuk tingkat kesehatan masyarakat.

Ro adalah penularan yang melekat dari agen infeksi, sebelum tindakan kesehatan masyarakat dimulai.

Ro untuk Covid-19 tidak diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan besar berada di antara 1,5 dan 3,5.

Masa Inkubasi yaitu jangka waktu antara terjangkit virus dan munculnya gejala penyakit, masa inkubasi Covid-19 diperkirakan berkisar dari 1 hingga 14 hari. Pada umumnya sekitar 5 hari dan perkiraan ini akan diperbarui seiring dengan tersedianya lebih banyak data. Gejala Umum yaitu seperti Demam, Batuk Kering dan Sesak Nafas, sedangkan gejala lain yang berkaitan yaitu cepat lelah, sakit otot dan nyeri persendian, nyeri menelan, hidung tersumbat, hidung meler dan diare (jarang).

Dan saat ini sedang ramai diperbincangkan perkembangan vaksin Covid-19, Saat ini beberapa negara telah mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) atau ijin penggunaan darurat untuk vaksinasi. Syarat pemberian izin EUA juga umumnya mengikuti standar Emergency Use Listing (EUL) yang diberlakukan oleh WHO, di Indonesia, peraturan mengenai EUA tercantum dalam Peraturan BPOM Nomor 27 Tahun 2020 tentang Perubahan Kedua dan Peraturan Kepala Badan POM Nomor 24 Tahun 2017 tentang Kriteria dan Tata Laksana Registrasi Obat.

Tujuan Vaksinasi Covid-19 yaitu membentuk kekebalan kelompok, menurunkan kesakitan dan kematian akibat Covid-19, melindungi dan memperkuat sistem kesehatan secara menyeluruh dan menjaga produktifitas dan meminimalkan dampak sosial ekonomi.

Kiriman pertama vaksin Covid-19 produksi Sinovac Biotech (China) tiba di Indonesia, namun pemerintah masih harus menunggu untuk penggunaan darurat otorisasi sebelum memulai program vaksinasi. Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia (BPOM) memberikan persetujuan penggunaan dalam kondisi emergensi untuk vaksin Covid-19 yang pertama kali kepada vaksin CoronaVac, produksi Sinovac Biotech Inc yang bekerja sama dengan PT Bio Farma.

Adapun 6 vaksin yang telah sah penggunaannya berdasarkan KepMenKes No. HK.01.07/Menkes/9860/2020 per tanggal 3 Desember 2020 : PT Bio Farma (Persero), AstraZeneca, China National Pharmaceutical Group Corporation (Sinopharm), Moderna, Pfizer Inc. and BioNTech, dan Sinovac Biotech Ltd.
(Teguh–Humas)

RSPON - (4/1/2021) Membuka awal 2021, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON), mengadakan kegiatan orientasi umum untuk CPNS serta tenaga kontrak dengan tujuan agar pegawai baru mengenal dan memahami tata organisasi serta prinsip-prinsip keselamatan pasien di RSPON.

Kegiatan ini diikuti oleh 47 orang peserta yang terdiri dari 7 dokter spesialis, 2 dokter umum, 12 perawat, 2 ahli gizi, 4 pranata laboratorium, Fisioterapis, Okupasi Terapis, Terapis Wicara, Radiografer, Analis Kesehatan Kerja, Pengelola Penyehatan Lingkungan, Pengelola Data, Analis Data dan Informasi, Pranata Komputer serta Pengelola Kepegawaian.

“Remunerasi dan Pajak“ oleh Agus Purwono, SE, MM; “SOP dan Kebijakan di Direktorat Pelayanan” oleh Rodlia, S.Gz; serta “Profil Keperawatan dan Fasilitas Alat Penunjang” oleh Elis Nurhayati Agustina, M.Kep., Sp.KMB.

Sedangkan pada tanggal 5 Januari 2021 menyusul peserta orientasi umum dari mahasiswa PKL/PBL dari Universitas Aisyiyah Yogyakarta Prodi Fisioterapi, Poltekkes Semarang Prodi Radiologi, Poltekkes Jakarta III Prodi Analis, Universitas Indonesia Prodi Farmasi, Universitas Pancasila Prodi Farmasi dan PPDS dari Universitas Padjajaran Bandung serta Universitas Sam Ratulangi Manado.
(Ratna F–Humas)

RSPON - Senin, 28 Desember 2020 Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin melantik pejabat fungsional dan penyetaraan jabatan fungsional di lingkungan Kementerian Kesehatan RI. Meski pelantikan dilakukan secara virtual tidak mengurangi rasa khidmat bagi para peserta.

Dalam pidatonya Menteri Kesehatan mengatakan bahwa perputaran atau rotasi jabatan sudah biasa dilakukan sehingga kita harus tetap menjaga ritme kerja yang biasa dilakukan. Selanjutnya Menkes menyampaikan ada dua tugas prioritas Kementerian Kesehatan yang berhubungan dengan pandemi COVID-19, yakni pemberian vaksin COVID-19 dan pasca pemberian vaksin COVID-19.
(Teguh–Humas)

RSPON - Pelatihan Tata Naskah Dinas dan Kode Unit Pengolah yang dilaksanakan pada hari rabu dan kamis tanggal 16 dan 17 Desember 2020 bertujuan untuk mengseragamkan tata persuratan dan pengarsipan di lingkungan RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, peserta terdiri dari medis dan non medis yg diberikan tugas sebagai pelaksana pengarsipan di bagian atau instalasi masing-masing.

Dalam pelatihan tersebut Ibu Pelita Apriany, SKM, MM (Kasubbag Umum RSPON) pada pemaparannya memberikan contoh dan informasi mengenai tata naskah dinas seperti ukuran huruf, jenis huruf hingga spasi yang digunakan dalam setiap penulisan guna mendapatkan keseragaman dalam penulisan tata naskah dinas. Dalam kesempatan pelatihan ini RSPON mengundang narasumber yaitu dr. Ann Natallia Umar (Kepala Bagian Kearsipan dan Administrasi, Biro Umum Setjen Kemkes) dan Rani Tresnayani, S.AP (Yankes Kemkes).

dr. Ann Natallia Umar menyampaikan tentang pengelolaan arsip dinamis, yang diharapkan dapat membuka pandangan dari peserta untuk lebih memperhatikan lagi pengelolaan pengarsipan karena arsip itu penting bagi setiap instansi dan bisa dikatakan sebagai surat berharga.

Selain materi mengenai pengelolaan arsip peserta pun diberikan praktik dan pemahaman tentang pengelolaan arsip yang disampaikan oleh Rani Tresnayani, S.AP sehingga terciptanya pengarsipan yang baik pada setiap bagian atau unit masing-masing, dari dilaksanakan pelatihan ini diharapkan pada tahun 2021 tata naskah dan pengarsipan pada bagian dan instalasi lebih tertata dan lebih baik dalam pengarsipan.
(Teguh–Humas)

RSPON - Bertempat di Aula lantai 16 Gedung B Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, pada Selasa 10 November 2020 dilakukan Pelaksanaan Ujian Dinas dan Ujian Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah Bagi PNS di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta secara Virtual On line. Pada Pelaksanaan Ujian Dinas dan Ujian Kenaikan Pangkat Penyesuaian Ijazah ini, turut disaksikan secara langsung Direktur SDM, Pendidikan dan Umum Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS, Kepala Bagian SDM dan Pendidikan Ibu Dra. Nura Ridhawati, M.Si dan Kepala Sub. Bagian Administrasi SDM Ibu Raden Nila Mutia, S.Sos, M.Si
(Ruly–Humas)

RSPON - Jumat 6 November 2020, CNN Indonesia melakukan wawancara secara live streaming dengan Direktur Utama RSPON Prof Dr dr Mahar Mardjono dalam memperingati hari stroke sedunia yang jatuh pada tanggal 29 Oktober setiap tahunnya. Dalam wawancara tersebut diajukan beberapa pertanyaan salah satunya “faktor yang dapat membuat anak muda terkena stroke” dalam penjelasannya dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS selaku Direktur Utama RSPON Prof Dr Mahar Mardjono Jakarta menyebutkan ada beberapa faktor yang menyebabkan anak muda terkena stroke, yaitu :

1. Pola hidup anak muda yang kurang bergerak dan kurang olah raga,
2. Pola makan yang tidak sehat, yang tidak memperhitungkan asupan gizi yang cukup dan merokok,
3. Stres dan pola istirahat yang tidak teratur.

Dalam kesempatan wawancara tersebut Direktur Utama RSPON Prof Dr dr Mahar Mardjono Jakarta, memberikan informasi bahwa RSPON sebagai Rumah Sakit Rujukan Khusus Otak dan Persyarafan telah berinovasi dengan membangun sistem yang komprehenshif untuk menangani pasien stroke, yaitu :

1. Membentuk team stroke untuk pelayanan pasien dari IGD sampai dengan pasien pulang,
2. Mempersiapkan terapi pasca stroke setelah pulang untuk proses pemulihan di rumah,
3. Membina masyarakat untuk meningkatkan tentang kesadaran terhadap penyakit stroke,
4. Mempersiapkan rumah sakit jejaring agar memiliki team stroke untuk penanganan pertama kali.

Pada akhir wawancara Direktur Utama RSPON Prof Dr dr Mahar Mardjono Jakarta mengajak kita untuk menjaga pola hidup sehat guna untuk mencegah dari serangan stroke sedini mungkin dan berpartisipasi dalam penekanan gejala stroke.
(Teguh–Humas)

RSPON - Bertepatan dengan peringatan hari cuci tangan pakai sabun sedunia (15 Oktober) dan minggu pencegahan infeksi (16-22 Oktober), Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan “Kampanye Gerakan Hari Cuci Tangan” di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Kampanye Gerakan Hari Cuci Tangan merupakan salah satu rangkaian acara “Gebyar Edukasi Oktober 2020”.

Dalam kampanye yang diadakan pada tanggal 15 Oktober 2020 bersama Tim PPI, Instalasi PKRS, Sub Bagian Hukormas dan panitia acara Gebyar Edukasi Oktober 2020 mengadakan inspeksi ke seluruh lantai yang berada di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Inspeksi diadakan mulai dari Ruang Manajemen Lantai 15 Gedung B, Ruang Dokter Lantai 14 Gedung B, Lantai Ruang Rawat Inap (Lantai 10 hingga Lantai 6, Ruang Isolasi Lantai 8, dan Ruang ICU Lantai 3 Gedung A), Poliklinik Eksekutif Lantai 5 Gedung A, Laboratorium dan Poliklinik Lantai 2 Gedung A, Lobby Utama Lantai 1 Gedung A, Instalasi Radiologi Lantai 1, Instalasi Rekam Medis Lantai Dasar Gedung A, Instalasi Gizi Lantai Dasar Gedung A dan Instalasi Sterilisasi Sentral & Binatu Lantai Dasar Gedung A.

Kampanye Gerakan Hari Cuci Tangan, dilaksanakan tidak hanya diikuti oleh dokter, perawat, paramedis dan karyawan manajemen yang berada di Lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta namun Kampanye Gerakan Hari Cuci Tangan diikuti oleh pengunjung Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta yang berada di poliklinik sebagai bentuk edukasi kepada seluruh pegawai serta pengunjung bahwa cuci tangan merupakan salah satu hal yang sangat penting dalam mencegah penularan COVID-19 di era pandemi saat ini. Kedepan diharapkan, dengan diadakanya kampanye Gerakan cuci tangan ini menjadikan cuci tangan sebagai budaya kebersihan diri untuk mencegah penularan infeksi dan menjadi tren gaya hidup sehat.
(Ayu–Humas)

RSPON - Trigeminal Neuralgia (TN) adalah salah satu kondisi umum penyebab terjadinya nyeri pada wajah. Nyeri yang dirasakan memiliki dampak yang sangat signifikan dalam kehidupan sehari-hari seperti kesulitan untuk mencuci wajah, mencukur, dan menjaga kebersihan oral.

Sensasi nyeri wajah yang dirasakan dapat bermacam-macam, seperti disayat, tertusuk, terbakar ataupun tersengat listrik dan dapat diderita bertahun-tahun (kronis). Trigeminal Neuralgia bahkan dianggap sebagai “The Most Excruciating Pain Known to Humanity”, nyeri paling menyiksa yang dapat dirasakan oleh seorang manusia.

Penderitaan kronis menyebabkan banyak pasien yang terganggu menjalankan fungsi biologis, sosial, menjadi khawatir dan depresi sehingga menimbulkan ide untuk bunuh diri pada beberapa penderitanya “The Suicide Disease”.

Banyak sekali terapi pilihan untuk TN, baik berupa terapi obat maupun non-obat. Terapi pembedahan dibutuhkan apabila pasien masih merasakan nyeri tak tertahankan setelah melakukan terapi obat, atau jika ada efek samping dari obat yang dikonsumsi.

Dalam peringatan Hari Trigeminal Neuralgia Sedunia 2020, yang dirayakan setiap 7 Oktober setiap tahunnya, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta menyelenggarakan "WEBINAR TRIGEMINAL NEURALGIA 2020” pada Rabu, 7 Oktober 2020 pukul 13.00 – 15.00 WIB.

Acara dibuka oleh dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS. Adapun narasumber berkompeten dalam penanganan Trigeminal Neuralgia dihadirkan dalam acara ini yaitu :

1. dr. Iswandi Erwin, M.Ked(Neu), Sp.S membawakan materi “Mengenali dan Mengatasi "The Suicide Disease""
2. dr. Mustaqim Prasetya, SpBS membawakan materi “Tatalaksana Nyeri Wajah Trigeminal Neuralgia di RS.PON : Data hasil Operasi MVD dan Radiofrequency Rhizotomy“

serta yang tak kalah menarik yaitu Testimoni Pasien yang sembuh dari Trigeminal Neuralgia yaitu Bapak Abdalloh Jamhur yang menderita Trigeminal Neuralgia dengan nyeri tak tertahankan selama 7 tahun sebelum dilakukan tindakan operasi di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. DR.dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Kegiatan webinar live yang sangat menarik ini bisa disaksikan kembali di kanal Youtube kami yaitu di :

(Ratna F–Humas)

RSPON - Di Indonesia, berdasarkan Data BPS RI tahun 2012, tercatat sebanyak 532.130 anak menderita Cerebral Palsy (CP) atau sekitar 0,6% dari jumlah seluruh anak. Dari data Riset Kesehatan Dasar yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada tahun 2010, persentasi anak-anak berusia 24-59 bulan dengan CP adalah 0,09% (WHO, 2013). Hal tersebut menunjukkan bahwa pravelansi CP di Indonesia memiliki jumlah besar yaitu 9 kasus dalam setiap 1000 kelahiran. Insidensi CP lebih tinggi pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Surveillance of Cerebral Palsy in Europe (SCPE) melaporkan perbandingan laki-laki : perempuan yaitu 1,33 : 1.

Cerebral palsy (CP) merupakan istilah deskriptif klinis untuk serangkaian gangguan perkembangan gerak, postur, dan koordinasi yang disebabkan oleh gangguan otak yang bersifat tidak progresif yang berpengaruh pada masa awal perkembangan otak. CP merupakan gangguan motorik pada anak yang paling sering terjadi. Kerusakan otak yang menyebabkan CP dapat terjadi saat prenatal, perinatal, atau bahkan postnatal.

Penderita CP Umumnya mengalami gangguan pemenuhan aktivitas sehari-hari sehingga menjadi bergantung pada orang lain. Keterbatasan yang dimiliki penderita CP terkadang membuat mereka rendah diri serta tidak percaya diri. Dibutuhkan dukungan dari semua pihak, terutama keluarga. Tak kalah pentingnya, diperlukan edukasi secara berkesinambungan untuk menumbuhkan kesadaran keluarga penderita CP.

Dalam peringatan Hari Cerebral Palsy Sedunia 2020, yang dirayakan setiap 6 Oktober setiap tahunnya, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta menyelenggarakan “WEBINAR AWAM SEREBRAL PALSY 2020” pada Senin, 5 Oktober 2020 pukul 13.00 – 15.00 WIB.

Acara dibuka oleh dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS. Adapun narasumber berkompeten dalam Cerebral Palsy dihadirkan dalam acara ini yaitu :

1. dr. Roy Amardiyanto, Sp.A(K) membawakan materi “Mengenal Cerebral Palsy“
2. Elis Nurhayati Agustina, M.Kep, Sp.KMB membawakan materi “Keperawatan Terintegrasi & Kontinuitas Terapi pada Anak Cerebral Palsy“
3. Desi Silvia Isherlianti S.Gz membawakan materi “Nutrisi Tepat & Seimbang Untuk Anak Cerebral Palsy“

Kegiatan webinar live yang sangat menarik ini bisa disaksikan kembali di kanal Youtube kami yaitu di :

(Ratna F–Humas)

RSPON - Sejak dilaporkan pada tanggal 2 Maret 2020, jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19 terus meningkat dan menyebar dengan cepat di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini turut berdampak pada keselamatan dan kesehatan tenaga kesehatan yang bertugas dalam penanganan COVID-19.

Sebagai garda terdepan, tenaga kesehatan memiliki faktor risiko yang sangat tinggi terpapar COVID-19. Untuk itu diperlukan upaya sistematis untuk meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya keselamatan tenaga kesehatan dalam hubungannya dengan keselamatan pasien.

Dalam peringatan World Patient Safety Day 2020, yang dirayakan setiap 17 September setiap tahunnya, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON) menyelenggarakan “WEBINAR Patient Safety 2020” pada hari Kamis, 24 September 2020 pukul 13.00 – 15.00 WIB.

Acara dibuka oleh Direktur Utama RSPON, dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS. Adapun narasumber berkompeten dalam ruang lingkup keselamatan pasien terutama dalam pandemi COVID-19 dihadirkan dalam acara ini yaitu :

1. dr. Rama Garditya, Sp.An (Ketua Tim COVID-19 RSPON) membawakan materi “Tatalaksana Penanganan COVID-19 di RSPON”
2. dr. Sasmayani Eko Winanti, Sp.P membawakan materi “Adaptasi Kebiasaan Baru di Era pandemi COVID-19”
3. dr. Endang Rahmawati, Sp.MK membawakan materi “Peran Laboratorium BSL-2 RSPON dalam Percepatan Penanganan COVID-19”
4. dr. Redy Tan, M.Kes., Sp.Ok. membawakan materi “Strategi Perlindungan Sumber Daya Manusia Kesehatan dari COVID-19”

Kegiatan webinar live yang sangat menarik ini bisa disaksikan kembali di kanal Youtube kami yaitu di :

(Ratna F–Humas)

RSPON - Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta untuk mewujudkan visi dan misi Kementerian Kesehatan maka pada tanggal 23 dan 24 September 2020 diadakan Self Assessment WBK yang dilakukan oleh Tim Penilai Internal. Meski dilakukan tidak dengan tatap muka melainkan dengan daring tidak mengurangi semangat dalam proses penilaian.

Dalam proses penilaian tersebut diklasifikasikan menjadi 6 (enam) kelompok kerja yaitu Manajemen Perubahan, Penataan Tatalaksana, Penataan Sistem Manajemen SDM, Penguatan Akuntanbilitas Kinerja, Penguatan Pengawasan, Penguatan Kualitas Pelayanan Publik, dari masing-masing kelompok kerja memiliki agent of change.

Pembukaan Self Assessment WBK dibuka langsung oleh Direktur Utama RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta yaitu Mursyid Bustami, Sp.S(K), KIC, MARS. Sebelum Self Assessment WBK dilaksanakan, pada tahun 2018 sudah dilaksanakan pendampingan Satuan Kerja, pada tahun 2019 dilakukan Pre Assessment dan pada bulan Juni 2020 telah dilakukan pendampingan WBK oleh ITJEN.

Tim Penilai Self Assessment WBK yaitu drg. Rarit Gempari, MARS, dr. Trisa Wahjuni Putri, M.Kes, Drs. Bayu Teja Muliawan, M.Pharm, MM, Apt, Dian Ambarini, S.Sos, MM, Andri Rubiana, S.Kom dan Laurent Renato Sitorus, SKM yang dilakukan selama 2 (dua) hari tersebut yang nantinya menjadi bahan penilaian Self Assessment WBK atas Satuan Kerja berpredikat sebagai Unit Kerja WBK.
(Ayu–Humas)

RSPON - Bertepat tanggal 25 September 2020 dalam rangka memperingati hari apoteker sedunia (25 September), Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan seminar virtual profesi apoteker. Seminar virtual profesi apoteker menghadirkan pembicara yang terdiri dari apoteker dan dokter di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Dalam seminar virtual profesi apoteker, membahas tema “Pelayanan Neurofarmasi di Era Pandemi COVID-19” dengan 4 sub tema yaitu: “Manajemen Instalasi Farmasi di Era Pandemi COVID-19” (oleh apt. Dra. Hadijah Tahir, SP.FRS) , “Terapi Trombolisis Pada Pasien Stroke Iskemik Akut di Era Pandemi COVID-19” (oleh dr. Ricky Gustanto, Sp.S, FINR), “Pengelolaan Perbekalan Farmasi untuk Penuhan Pasien COVID-19” (oleh apt. Rizka Dahliyanti, S.Farm) dan “Asuhan Kefarmasian Pada Kasus Neuroinfeksi (HIV/ADIS) di Era Pandemi COVID-19” (oleh apt. Dra. Masfiah) dengan dipandu oleh moderator (apt. July, S.Si).

Seminar virtual profesi apoteker resmi dibuka dengan sambutan oleh Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), MARS) dan diikuti oleh hampir 800 peserta yang berprofesi sebagai apoteker. Dengan diadakan seminar virtual profesi apoteker diharapkan dapat memberi ilmu yang bermanfaat bagi seluruh peserta.
(Ayu–Humas)

RSPON - Pada tanggal 23 September 2020, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan seminar virtual awam dalam rangka memperingati hari kesehatan di bulan September yaitu; Hari Paru Sedunia (25 September), Hari Apoteker Sedunia (25 September), dan Hari Pangan Nasional (16 September). Seminar virtual awam pada kesempatan kali ini merupakan rangkaian acara yang diadakan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Pembicara yang turut hadir adalah dokter, apoteker dan ahli gizi yang berasal dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Dalam seminar virtual awam yang diadakan pada tanggal 23 September 2020 membahas tentang tiga sub tema yaitu; “Kesehatan Paru, COVID-19 dan Kaitan dengan Penyakit Saraf”, “Penggunanan Obat-obatan Penyakit Paru” dan “Pemenuhan Gizi dan Imunitas di Era Pandemi COVID-19”. Acara dipandu oleh Moderator (dr. Asnelia Devicaesaria, Sp.S ), dan dibuka oleh Direktur Utama RSPON (dr. Mursyid Bustami, Sp.S(K), KIC, MARS), serta dihadiri oleh peserta yang berasal dari Aceh hingga Papua.
(Ayu–Humas)

RSPON - Bertepat di tanggal 16 September 2020, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan seminar virtual awam dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Gigi dan Mulut (12 September), Hari Pangan Nasional (16 September) dan Hari Alzheimer Sedunia (21 September). Pembicara dalam acara seminar virtual awam terdiri dari dokter gigi (drg. Nella Arman Saibi), dokter saraf (dr. Ratih Puspa, Sp.N) dan ahli gizi (Sheila Oktavia, S.Gz) yang berasal dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Pada seminar virtual awam membahas tentang kesehatan gigi untuk penderita Alzheimer, bagaimana kondisi pasien Alzheimer di tengah pandemic COVID-19 dan bagaimana mengatur gizi yang seimbang untuk penderita Alzheimer. Acara dipandu oleh Moderator (dr. Asnelia Devicaesaria, Sp.S), dengan dihadiri oleh 446 peserta yang berasal dari Aceh hingga Papua dan Jerman.
(Ayu–Humas)

RSPON - Pada tanggal 11 Agustus hingga 14 September 2020, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta telah mengadakan pelatihan Hak Pasien dan Keluarga. Tujuan pelatihan ini adalah memberi edukasi dan pemahaman tentang apa saja yang termaksud dalam hak pasien dan keluarga di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.

Pelatihan berlangsung secara virtual, dengan 7 pokok bahasan antara lain : Pengantar Standar Akreditasi SNARS 1.1, khususnya HPK (Hak Pasien dan Keluarga), General Consent (Persetujuan Umum), Menjaga Privasi Pasien dan Melindungi Terhadap Kekerasan Fisik, Second Opinion, Informed Consent, Handling Complaints, DNR (do-not-resuscitate) dan End Of Life, Manajemen Nyeri dan Asuhan Keperawatan Nyeri. Pembicara yang dihadirkan terdiri Dokter, Perawat, Perekam Medis dan Humas yang berasal dari internal Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta.
(Ayu–Humas)

RSPON - Pada tanggal 7 September 2020 bertempat di ruang Auditorium Lantai 16 Gedung B. Diadakan pelantikan dan pengambilan sumpah jabatan fungsional yang terdiri dari Dokter, Perawat, Apoteker, dan Humas di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta secara serentak dilantik oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan.

Acara berlangsung secara virtual dan sesuai dengan protokol kesehatan yang berlaku untuk mencegah penularan COVID-19, peserta mengucapkan sumpah yang dipandu oleh rohaniawan masing-masing agama dengan khidmat.
(Ayu–Humas)

RSPON - Instalasi Diklat dan Instalasi Kesling - K3 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional kembali mengadakan Pelatihan Workshop Damkar pada tanggal 31 Agustus 2020 di ruang Auditorium lantai 16 gedung B. Acara ini dihadiri oleh 32 karyawan baru dari berbagai unit kerja. Acara dimulai dari pukul 8 pagi hingga 4 sore. Kegiatan terdiri dari pemberian materi tentang faktor yang dapat memicu terjadinya kebakaran, sistem proteksi aktif dan pasif oleh Agus Wuryanto, SMTP dari tim DAMKAR Jakarta Timur serta praktik penggunaan APAR (Alat Pemadam Api Ringan) serta cara memadamkan api dengan cara konvensional (karung goni, selimut, sprei). Tujuan akhir workshop ini untuk memberikan pemahaman kepada karyawan bila terjadi bencana kebakaran di lingkungan rumah sakit, sehingga meminimalkan korban dan kerusakan.
(Widad–Humas)

RSPON - Untuk mendukung kampanye gerakan 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan). Tim (Pencegahan dan Pengendalian Infeksi) PPI dan Hukormas Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, melakukan supervisi Pencegahan dan Pengendalian Infeksi harian di ruang isolasi Perawatan lantai 8A Gedung A Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada rabu, 26 Agustus 2020, dan di ruang perawatan di lantai 7 pada kamis, 27 Agustus 2020 kampanye gerakan 3M (Memakai Masker, Menjaga Jarak, Mencuci Tangan) di lingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Kegiatan yang direncanakan berlangsung sampai dengan akhir tahun ini meliputi cara mencuci tangan, monitoring kebersihan ruangan, kepatuhan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD), pembuangan limbah, dan monitoring menjaga jarak. Kegiatan bertujuan untuk mengedukasi dan mengingatkan seluruh pegawai dan pengunjung Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengenai pencegahan dan risiko penularan covid-19.
(Widad–Humas)

RSPON - Pada tanggal 15-17 Juli tahun 2020 untuk pertama kalinya Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan pelatihan in house tranning Basic Neurologi Life Support (BNLS) di era new normal. Tentu pelatihan ini mematuhi aturan protokol kesehatan yang berlaku. Pelatihan Basic Neurologi Life Support (BNLS), diikuti oleh peserta yang terdiri dari perawat-perawat di setiap ruang rawat inap yang belum mengikuti pelatihan sebelumnya.

Pelatihan dibuka dan dihadiri oleh Direktur SDM, Pendidikan dan Umum (Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S(K),MARS), dan dilaksanakan selama 3 hari. Pembicara dalam in house tranning Basic Neurologi Life Support (BNLS) adalah pembicara yang sudah berkompetensi dan berpengalaman dibidangnya, seperti dokter dan perawat. Diharapkan kedepan dengan inovasi terbaru dalam penyelengaraan pelatihan di era new normal, tidak menurunkan semangat dalam menambah ilmu pengetahuan.
(Ayu–Humas)

14 Juli 2020 dengan simbolis sirene oleh Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Bpk dr. Bambang Wibowo, Sp.OG(K), MARS sebagai pertanda bahwa dalam usia ke-6 tahun Rumah Sakit Pusat Otak Nasional telah memiliki nama baru sebagai Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Marjono Jakarta dengan pemotongan tumpeng oleh Dirjen Pelayanan Kesehatan (dr. Bambang Wibowo, Sp.OG(K), MARS).

Pada acara ini turut serta hadir, jajaran direksi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Marjono Jakarta, Sekretaris Ditjen Yankes (dr. Agus Hadian Rahim, Sp. OT(K)), Direktur Pelayanan Kesehatan Rujukan (dr. Tri Hesty Widyastoeti Marwotosoeko, Sp.M), Kepala Cabang BPJS Wilayah Jakarta Timur (BestyM.O.Roeroe), Dewas RSPON (Dra. Maura Linda Sitanggang, Ap.t., Ph.D, Marwono Hajowiyono, dr. Ratna Rosita M.P.H, Drs. Setyo Budi Hartono, M.M dan Robi Toni SE, MM), Vice President Bank Mandiri serta keluarga Alm. Prof. Dr. dr Mahar Mardjono.

Pada sambutannya Dirjen Pelayanan Kesehatan menyampaikan harapan agar RSPON dapat meningkatkan kualitas pelayanan di bidang otak dan sistem persarafan secara cepat, mudah dan terjangkau.
(Ayu–Humas)

RSPON – RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono mengadakan edukasi live dalam memperingati ulang tahun ke-6 pada media sosial Instagram serta Youtube untuk publik. Tema pada hari Senin, 13 juli 2020 adalah New Normal bersama dokter spesialis Paru RSPON yaitu dr. Sasmayani Eko Winanti, Sp.P.

Pemerintah Indonesia melalui Juru Bicara Penanganan COVID-19, Achmad Yurianto mengatakan, masyarakat harus menjaga produktivitas di tengah pandemi virus corona COVID-19 dengan tatanan baru yang disebut new normal.

Agar pengunjung, karyawan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta tetap sehat saat menjalani new normal di situasi COVID-19 maka harus mematuhi protokol kesehatan, karena keselamatan dan keselamatan semua orang yang masuk ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta adalah PRIORITAS UTAMA.

Hal-hal utama yang perlu dilakukan Manajemen untuk mencegah penularan covid-19

• Memutakhirkan situasi dan informasi terkini mengenai COVID-19 kepada karyawan
• Membentuk gugus tugas internal penangangan COVID-19
• Mengurangi jam kerja agar karyawan cukup istirahat sehingga daya tahan tubuh tetap terjaga baik
• Untuk kerja shift, shift malam diisi karyawan yang usia kurang dari 50 tahun

Hal-hal lainnya yang harus dilakukan untuk menyambut NEW NORMAL di tempat kerja sebagai berikut:

1. Di pintu masuk tempat kerja lakukan pengukuran suhu dengan menggunakan thermogun untuk semua pengunjung rumah sakit. Pintu masuk karyawan dan pengunjung selain karyawan dipisah.

2. Bila pada staf ditemukan saat skring kondisi demam ≥ 37.5 °C dan batuk / pilek / sakit tenggorokan serta sesak. Maka Jangan pergi ketempat kerja, segera periksakan diri ke dokter. RSPON memiliki klinik khusus karyawan terkait COVID-19.
3. Semua staf dan pengunjung yang datang ke RSPON WAJIB menggunakan MASKER. Semua karyawan RSPON wajib memakai masker dari/ ke rumah dan selama bekerja di RSPON.
4. Sering melakukan cuci tangan dengan air dan sabun atau handsanitizer dengan konsentrasi alkohol minimal 70%.
5. Konsumsi makanan bergizi setiap hari. Perbanyak konsumsi sayur mayur dan buah buahan untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
6. Memastikan seluruh area kerja bersih dan higienis dengan melakukan pembersihan secara berkala menggunakan pembersih dan desinfektan yang sesuai standar.
7. Menjaga kualitas udara tempat kerja dengan mengoptimalkan sirkulasi udara dan sinar matahari masuk ruangan kerja, pembersihan filter AC secara berkala.
8. Gunakan aplikasi rapat daring untuk rapat atau kegiatan kantor lainnya.

9. Memasang poster edukasi cara mencuci tangan yang benar di tempat strategis yang bisa dilihat banyak orang, misalnya di depan lift, toilet, lobi dsb.
10. Physical Distancing dalam semua aktifitas kerja, minimal satu meter pada setiap aktifitas kerja (pengaturan meja kerja, pengaturan kursi saat di kantin, dll).
11. Hindari berjabat tangan
12. Membudayakan etika batuk dan bersin dimanapun berada.

13. Lakukan latihan fisik 3-5 kali seminggu, minimal 30 menit perhari.
14. Hindari penggunaan alat pribadi secara bersama dengan orang lain, seperti alat sholat, alat makan, dan lain lain. Selalu bawa dari rumah.

KEWASPADAAN ADALAH KUNCI PENCEGAHAN. Semoga pandemi COVID-19 segera berakhir dan kita selalu sehat.
(Ratna F–Humas)

RSPON – RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono mengadakan edukasi live dalam memperingati ulang tahun ke-6 pada media sosial Instagram serta Youtube untuk publik. Tema pada hari Jumat, 10 Juli 2020 adalah “Menjaga Aktivitas Fisik di Masa Pandemi COVID-19” bersama oleh Tim Fisioterapis RSPON yaitu Utami Gaswi, A.Md, Ft dan Vira Aisyah Mercury, STr, Ft.

Di tengah pandemi COVID-19 yang sedang melanda, menjadi penting bagi kita untuk selalu menjaga kondisi tubuh dan daya tahan tubuh, salah satu caranya adalah tetap aktif dan juga berolahraga.

Cara yang paling sederhana untuk meningkatkan kekebalan tubuh adalah dengan melakukan latihan fisik atau olahraga, konsumsi makanan yang bergizi serta istirahat dan tidur yang cukup.

Apakah arti aktivitas fisik, apakah berbeda dengan olahraga?

Aktivitas fisik adalah adalah aktivitas yang dilakukan dengan melibatkan gerakan tubuh dan membutuhkan energi, sedangkan olahraga adalah latihan fisik yang terencana, terstruktur, dilakukan berulang-ulang dan merupakan bagian dari aktivitas fisik.

Manfaat melakukan akvifitas fisik

Melakukan aktivitas fisik dan olahraga sangat bermanfaat bagi tubuh dan pikiran. Jika dilakukan secara rutin dapat mengurangi tekanan darah tinggi, membantu mengelola berat badan, dan mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga kanker, jadi jika dilakukan secara teratur dapat menjadi cara untuk menjaga kesehatan, kebugaran, dan daya tahan tubuh di masa pandemi COVID-19 ini.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam melakukan aktivitas fisik:

1. Intensitas

Hindari olahraga dengan intensitas tinggi dan terlalu berlebihan, sangat direkomendasikan untuk melakukan olahraga dengan intensitas ringan sampai ke sedang.

Apakah perbedaan aktivitas ringan, sedang, dan tinggi dan apa saja contohnya ?

- Aktivitas fisik dengan intensitas ringan yakni aktivitas yang tidak memerlukan energi yang besar, masih dapat berbicara dan bernyanyi contohnya seperti berjalan biasa. Saat melakukan aktivitas fisik ringan, kita tidak akan merasa terengah-engah atau jantung berdegup lebih kencang dari biasanya. Aktivitas fisik ringan meliputi mencuci piring, memasak, jalan-jalan santai di pusat perbelanjaan, mengemudikan kendaraan bermotor, memancing, dan melakukan peregangan otot.

- Aktivitas sedang saat berolahraga adalah kita masih dapat berbicara namun sudah merasa sedikit terengah engah . Aktivitas fisik sedang ditandai dengan detak jantung yang lebih cepat, napas lebih memburu, dan suhu tubuh meningkat. Contoh aktivitas sedang antara lain berjalan cepat, bersepeda, naik tangga juga seperti yoga dan menari atau zumba dan senam aerobik dengan intensitas sedang.

- Aktivitas atau olahraga dengan intensitas berat. Olahraga high impact melibatkan gerakan dengan hentakan seperti saat melompat. Dikatakan latihan high impact jika ada saat di mana kedua kaki tidak menginjak lantai atau tanah pada saat yang bersamaan. Contohnya joging, lompat tali, skiping, jumping jack, dan latihan lainnya yang mengharuskan kedua kaki melompat. Olahraga high-impact akan membuat pembebanan ekstra di lutut, pergelangan kaki, dan pinggul.

Alasan mengapa olahraga dengan intensitas ringan dan sedang lebih direkomendasikan?

Olahraga dengan intensitas tinggi sebaiknya tidak dilakukan saat pandemi COVID-19 ini. Berdasarkan Panduan Hidup Aktif Selama Pandemi COVID-19 dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO), menunjukkan jika berolahraga dengan intensitas berat malah berpotensi untuk mengalami risiko terinfeksi tertinggi termasuk terinfeksi COVID-19 dan juga cedera maupun gangguan kesehatan lainnya.

Hal ini dikarenakan aktivitas olahraga ini cenderung membakar lebih banyak kalori dan jantung akan memompa darah lebih cepat sehingga pembakaran kalori akan semakin besar. Oleh sebab itu masa pemulihan dari tubuh juga membutuhkan waktu yang lebih lama.

2. Durasi dan Frekuensi Latihan

Joging atau senam dengan durasi 30-45 menit, idealnya dalam seminggu dilakukan 150 menit yang artinya berolahraglah 3-5x dalam seminggu atau sesuai kemampuan tubuh.

Jenis – Jenis Olahraga

Bagi anda yang sedang bekerja dari rumah, bisa melakukan olahraga kardio menggunakan treadmill atau sepeda statis. Alternatif lain adalah senam aerobik ataupun Zumba yang tentunya dengan intensitas sedang. Agar aman, olahraga bisa dilakukan dirumah dengan menonton video yang dengan mudah bisa anda temukan di youtub atau media sosial lainnya. Hal lain yang bisa dilakukan adalah naik turun tangga atau jalan cepat selama 15 menit yang bisa diulang 2 sampai 3 kali sehari.

Bila memungkinkan anda juga bisa joging atau sepeda di sekitar tempat tinggal anda dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, dan tetap melakukan protokol kesehatan.

Melakukan latihan kekuatan otot dengan menggunakan beban tubuh sendiri yang caranya juga bisa dengan mudah diunduh dengan aplikasi pada ponsel pintar, contohnya plank, lunges, push up dan lain sebagainya.

Jangan lupa melakukan peregangan sebelum melakukan olahraga.

Persiapan sebelum olahraga

1. Pastikan kondisi tubuh sehat
2. Denyut nadi istirahat kurang dari 100kali/menit
3. Gunakan pakaian olahraga yang dapat menyerap keringat dan nyaman untuk dipakai dan bergerak
4. Gunakan sepatu dan kaos kaki
5. Minum air putih sebelum latihan, selama, dan setelah latihan

Tips dan panduan melakukan olahraga diluar rumah
1. Jangan berolahraga jika demam, batuk, dan susah bernafas.
2. Mencuci tangan dengan sabun, sebelum dan sesudah keluar rumah, serta tetap membawa hand sanitizer.
3. Lebih direkomendasikan untuk melakukan aktivitas di sekitar halaman rumah. Namun, jika harus ke tempat terbuka seperti taman atau bersepeda, tetap jaga jarak dengan orang lain, dan hindari kerumunan atau berkelompok.
4. Pilihlah aktivitas dan intensitas olahraga sesuai dengan status kesehatan dan kondisi kebugaran.
5. Pilih rute olahraga yang sepi untuk menghindari kerumunan banyak orang. Dengan begitu, anda tidak akan memerlukan masker saat berolahraga.

Tanda atau alarm sebaiknya menghentikan olahraga
Yaitu bilamana kita merasakan sesak nafas, tidak nyaman, nyeri dada, pusing dan sebagainya.

Benarkah menggunakan masker saat berolahraga berbahaya?
Berolahraga sambil menggunakan masker sebenarnya boleh saja, selama olahraga yang dilakukan bukanlah olahraga berat atau hanya olahraga intensitas rendah seperti berjalan kaki atau bersepeda dengan tempo lambat dan jarak yang tidak jauh. Bila saat olahraga pakai masker mulai muncul gejala seperti pusing, napas pendek, sesak atau hal lain yang mengkhawatirkan, ada baiknya segera dihentikan.

Tips Memakai masker saat berolahraga
• Bawa masker cadangan yang diganti setiap 4 jam atau saat masker sudah kotor
• Hanya menggunakan masker jika memasuki area yang padat pengunjung atau kawasan wajib masker karena tubuh membutuhkan banyak oksigen saat berolahraga
• Menggunakan masker yang tidak terlalu rapat seperti masker N95 karena dapat menghambat kita untuk bernafas lebih lega

Amankah berolahraga pada malam hari ?
Olahraga pada malam hari aman dilakukan dan sebaiknya dilakukan 2-3 jam sebelum tidur

Manakah yang lebih baik olahraga pada malam hari atau pagi hari?
Tidak ada bukti penelitian yang menjelaskan tentang waktu yang tepat untuk olahraga. Hal ini karena setiap orang memiliki ritme sirkadian tubuh yang berbeda setiap orang.

Manfaat olahraga pagi hari
• Membuat tubuh lebih berenergi.
• Meningkatkan mood atau suasana hati sepanjang hari.
• Meningkatkan metabolisme tubuh, sehingga kalori yang terbakar dalam sehari cenderung lebih banyak.
• Meningkatkan performa kerja, karena olahraga pagi terbukti dapat meningkatkan konsentrasi dan kemampuan mengambil keputusan.
• Membantu mengontrol nafsu makan di sepanjang hari dan membantu menurunkan berat badan.

Manfaat olahraga di malam hari
• Membantu menghilangkan stres, sehingga dapat membuat pikiran Anda lebih rileks.
• Membantu tidur lebih nyenyak.
• Menurunkan tekanan darah.
• Meningkatkan kekuatan otot.
(Ratna F–Humas)

RSPON – RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono mengadakan edukasi live dalam memperingati ulang tahun ke-6 pada media sosial Instagram serta Youtube untuk publik. Tema pada hari Kamis, 9 Juli 2020 adalah “Penggunaan Obat-obatan Tanpa Resep Dokter di Masa Pandemi COVID-19. Amankah?” bersama Kepala Instalasi Farmasi RSPON, Dra. Hadijah Tahir, Apt, SpFRS.

Apakah boleh membeli obat secara bebas tanpa resep dokter?

Pembelian obat tanpa resep dibolehkan untuk obat yang masuk golongan Obat Bebas dan Obat Bebas Terbatas. Terdapat tiga jenis golongan obat yaitu obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras.

1. Obat bebas adalah obat yang dijual bebas di pasaran dan dapat dibeli tanpa resep dokter. Tanda khusus untuk obat bebas adalah berupa lingkaran berwarna hijau dengan garis tepi berwarna hitam.

2. Obat bebas terbatas adalah obat yang dijual bebas dan dapat dibeli tanpa dengan resep dokter, tapi disertai dengan tanda peringatan. Tanda khusus untuk obat ini adalah lingkaran berwarna biru dengan garis tepi hitam.

Tanda peringatan yang menyertai terkait dosis dan aturan pakai obat, karena hanya dengan takaran tertentu obat ini aman dipergunakan untuk pengobatan sendiri. Tanda peringatan berupa empat persegi panjang dengan huruf putih pada dasar hitam yang terdiri dari 6 macam, yaitu:

3. Obat keras adalah obat yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Ciri-cirinya adalah bertanda lingkaran bulat merah dengan garis tepi berwarna hitam, dengan huruf K ditengah yang menyentuh garis tepi. Obat ini hanya boleh dijual di apotek dan harus dengan resep dokter pada saat membelinya.

Bagaimana cara menyimpan obat yang aman di rumah?

Cara menyimpan obat yang aman di rumah :
1. Menyimpan semua obat jauh dari jangkauan anak-anak;
2. Bila memungkinkan punya kotak obat yang menempel di dinding agak tinggi yang tidak terjangkau anak-anak dan dalam kondisi selalu terkunci;
3. Semua sediaan padat, cair oral dan eksternal harus diserahkan dalam wadah yang dapat ditutup yang tidak dapat dibuka oleh anak-anak;
4. Bila tidak diinyatakan dalam kemasan obat untuk disimpan dalam refrigerator, maka obat disimpan pada tempat yang sejuk dan terlindung dari cahaya;
5. Simpan obat dalam kemasan asli;
6. Jangan menyimpan lebih dari satu macam obat dalam kemasan yang sama.

Di tengah pandemi COVID-19 amankah membeli obat atau suplemen secara daring?

Tidak semua obat dan suplemen yang beredar aman untuk dikonsumsi, apalagi bila dibeli melalui daring, karena :
1. Banyak obat dan suplemen ilegal yang dijual secara online;
2. Banyak obat dan suplemen palsu yang beredar di platform belanja online;
3. Identitas penjual obat dan suplemen secara daring tak diketahui dengan pasti. Dengan begitu, tak ada pula jaminan keamanan dan mutu obat dan suplemen yang dibeli secara daring;
4. Pembelian obat dan suplemen secara daring juga berisiko mendapatkan obat yang rusak dan/atau sudah melewati masa kedaluwarsa;
5. Cara penggunaan obat dan suplemen yang dibeli secara daring, hanya didapatkan lewat brosur (itupun tidak selamanya ada dalam kotak obat/suplemen yang dibeli secara daring). Dengan kata lain masyarakat yang membeli obat/suplemen secara daring tidak mendapatkan informasi tentang cara penggunaan dan efek samping obat/suplemen dari Apoteker.

Bagaimana cara aman mendapatkan obat di era Pandemi COVID-19?

1. Gunakan resep dokter :
Jangan sembarang membeli atau menggunakan obat, terutama obat keras tanpa menggunakan resep dokter. Obat keras yang diminum tanpa resep dokter dan tidak sesuai aturan pakai yang seharusnya, hanya akan menimbulkan efek samping.

2. Beli di tempat resmi
Akan jauh lebih aman bila langsung membeli obat di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian yaitu instalasi farmasi rumah sakit, apotek, puskesmas, klinik, dan toko obat, namun harus tetap menerapkan physical distancing selama berada di tempat tersebut.

3. Hati-hati pembelian obat secara daring
Di abad digital seperti sekarang, apa pun bisa didapat secara daring. Tetapi perlu berhati-hati akan penawaran obat dan suplemen secara daring dari sumber yang tidak diketahui secara pasti. Jangan asal pilih toko yang belum diketahui identitas penjualnya.

4. Beli secukupnya
Walaupun era Pandemi COVID-19 dianjurkan untuk mengurangi aktivitas di luar rumah, tidak berarti harus menyimpan obat dan suplemen sebanyak mungkin. Potensi terjadi obat rusak atau kedaluwarsa untuk obat/suplemen yang dibeli dalam jumlah banyak yang tidak berdasarkan kebutuhan. Dianjurkan untuk membeli obat dan suplemen secukupnya.

5. Cek KLIK :
Setiap obat dan suplemen yang legal akan beredar atas izin BPOM. Lakukan beberapa pengecekan sebelum membeli dan mengonsumsi obat dan suplemen yaitu dengan cek KLIK.

Apa yang dimaksud dengan Cek KLIK?

Cek KLIK adalah empat hal penting yang harus dicek pada saat membeli obat/suplemen (kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa).
Kemasan
Perhatikan kemasan produk dalam kondisi baik, tidak berlubang, robek, karatan, penyok, dan lain-lain.
Label
Baca informasi produk yang tertera pada label kemasan dengan cermat.
Izin edar
Pastikan memiliki izin edar dari BPOM.
Kedaluwarsa
Pastikan agar obat dan suplemen yang dibeli tidak melebihi batas kedaluwarsa.

Bagaimana mendapatkan obat kronis secara aman di era pandemi COVID-19?

Penyakit kronis membutuhkan pengobatan jangka panjang atau disebut juga mengonsumsi obat kronis. Konsumsi obat secara rutin, sesuai dosis dan aturan pakai dan tepat waktu adalah hal yang penting dalam mencapai keberhasilan terapi penyakit kronis. Permasalahannya adalah bagaimana mendapatkan obat kronis secara rutin sehingga tidak terjadi putus obat. Untuk pasien BPJS yang mendapatkan obat kronis, saat ini bisa mendapatkan resep obat kronis untuk tiga bulan dengan hanya satu kali konsul ke dokter mendapatkan resep dengan iter (pengulangan resep) sebanyak dua kali. Untuk mendapatkan obat dibulan ke-2 dan ke-3 pasien tidak perlu lagi konsultasi ke dokter, tetapi tetap melakukan pendaftaran untuk mendaptkan SEP sebagai lampiran untuk mendapatkan obat dari apotek/depo farmasi.

Apa yang dimaksud Telemedicine ?

Telemedicine adalah pelayanan medis jarak jauh (konsultasi penyakit dengan dokter) termasuk mendapatkan obat tanpa harus ke rumah sakit. Telemedicine menjadi salah satu pilihan berobat di tengah pandemi COVID-19 yang melanda dunia saat ini.

Bagaimana cara mendapatkan obat lewat jalur Telemedicine ?

Bila suatu rumah sakit sudah memberikan pelayanan telemedicine, maka pelayanan obatnya juga berdasarkan prinsip physical-distancing, dengan memperhatikan hal berikut:
1. Dokter meresepkan obat secara elektronik yang terbaca langsung di komputer Farmasi (peresepan online by EHR), jadi tidak ada kontak penyerahan kertas resep dari dokter ke pasien, dan dari pasien ke petugas farmasi.
2. Apoteker memberikan informasi obat secara tertulis yang dimasukkan dalam kemasan obat, atau secara langsung kepada pasien lewat media online (WA).
3. Obat-obatan yang dilayani berdasarkan resep elektronik dapat diambil langsung oleh pasien/keluarga pasien di farmasi, atau dapat menggunakan jasa kurir untuk menjemput obat yang sudah disiapkan (dikecualikan untuk obat golongan narkotika dan psikotropika harus diambil sendiri oleh pasien).

Bagaimana mekanisme pengantaran obat yang aman menggunakan jasa kurir ?

Bila menggunakan jasa pengantaran atau kurir obat, maka harus memenuhi ketentuan berikut :
1. Kurir obat menjamin keamanan dan mutu obat yang diantar sampai diterima oleh pasien;
2. Menjaga kerahasiaan pasien;
3. Mengantarkan obat dalam wadah yang tertutup dan tidak tembus pandang;
4. Memastikan obat yang diantarkan sampai pada tujuan;
5. Kurir mendokumentasikan saat serah terima obat dengan pasien;
6. Pengantaran dilengkapi dengan dokumen pengantaran, dan nomor telepon yang dapat dihubungi;
7. Pasien menginformasikan kepada Apoteker bahwa obat sudah diterima lewat media online (misalnya by WA);
8. Bila ingin konsultasi obat lebih lanjut, pasien bisa menghubungi Apoteker lewat nomor WA yang sudah diberikan.
(Ratna F–Humas)

RSPON – RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono mengadakan edukasi live dalam memperingati ulang tahun ke-6 pada media sosial Instagram, Facebook serta Youtube untuk publik. Tema pada hari Selasa, 7 Juli 2020 adalah “Pentingnya Konsumsi Sayuran di Tengah di Era New Normal” bersama ahli gizi RSPON yaitu Rizka Pratiwi S.Gz.

Setelah hampir tiga bulan pandemi COVID-19, kita diharuskan untuk belajar, bekerja dan beribadah di rumah, akhirnya pemerintah memulai tatanan kehidupan baru dengan istilah New Normal. New normal sendiri bertujuan agar masyarakat bisa kembali produktif meski pandemi COVID-19 masih berlangsung. Tentunya produktifitas yang dimaksud adalah produktifitas yang mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Kedisiplinan masyarakat dalam mematuhi protokol kesehatan yang telah ditetapkan menjadi kunci keberhasilan New Normal dan pencegahan meluasnya dampak COVID-19 ini.

Protokol kesehatan yang dimaksud antara lain penggunaan masker, pembatasan fisik dan sosial, menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun. Selain itu, perlu diperhatikan juga asupan gizi yang seimbang dan tepat untuk menjaga imunitas tubuh, karena COVID-19 mudah menular pada orang yang memiliki imunitas yang rendah. Salah satu bagian dari komponen dalam asupan gizi seimbang adalah sayuran yang mengandung tinggi antioksidan yang dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Bagaimana peran asupan gizi dalam upaya pencegahan infeksi COVID-19 di era new normal saat ini?

Saat ini kita berada pada situasi khusus, yaitu pandemi COVID-19. Ditemukan bahwa bahwa ini penyebaran virus COVID-19 sangat cepat, melalui droplet yang mungkin tidak sengaja kita sentuh kemudian tangan yang terkena droplet mengenai mata hidung atau mulut, maka virus masuk ke tubuh kita. Dalam era new normal, saat orang sudah melakukan aktivitas di luar rumah maka kemungkinan untuk kontak dengan banyak orang akan semakin besar. Karena penularannya yang cepat dan masa new normal inilah kita harus memiliki sistem imun yang kuat agar tidak mudah terpapar. Salah satu cara untuk menjaga sistem imun tetap kuat adalah dengan memastikan makanan yang masuk ke dalam tubuh merupakan makanan yang bergizi dan seimbang.

Gizi seimbang adalah gambaran dalam satu piring atau satu menu makan kita, terdapat sumber karbohidrat, protein, sayur dan buah-buahan. Jumlahnya disesuaikan dengan kebutuhan tiap individu, jadwal makan juga teratur , tidak bisa diakumulasikan. Batasi konsumsi gula garam lemak, disertai konsumsi air putih minimal delapan gelas per hari. Lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari. Dengan begitu diharapkan maka akan sistem imun kita meningkat sehingga siap untuk melawan virus COVID-19.

Sebenarnya seperti apa pentingnya sayuran untuk menjaga daya tahan tubuh ?

Ada empat kandungan penting dalam sayuran yang berperan dalam meningkatkan sistem imun, yaitu kandungan berbagai vitamin, mineral, serat pangan dan zat fitokimia. Vitamin, mineral yang terkandung dalam sayuran berperan sebagai antioksidan atau penangkal radikal bebas dalam tubuh. Sayuran juga mengandung serat yang dapat menjaga kesehatan pencernaan, yang merupakan salah satu organ yang menghasilkan kekebalan tubuh. Dalam sayuran juga terdapat kandungan fitokimia. Fitokomia merupakan senyawa lain pada bahan makanan yang dikategorikan sebagai senyawa non-gizi. Fitokimia memiliki peran sebagai pemberi warna (misalnya daun, buah dan bunga), pemberi aroma, serta juga pencegah kerusakan akibat bakteri atau virus.

Sayuran banyak mengandung vitamin dan mineral yang berfungsi sebagai antioksidan, apa sajakah vitamin dan mineral yang terdapat dalam sayuran?

Vitamin yang ada pada sayuran antara lain vitamin A, B kompleks, C serta E. Vitamin A misalnya, selama ini kita mengenal vitamin A sebagai senyawa yang penting bagi sistem penglihatan manusia. Padahal vitamin A juga berperan penting dalam menjaga sistem imun tubuh, terutama dalam hal pembentukan sel darah putih. Sel darah inilah yang berfungsi melawan dan memberantas bakteri atau virus dalam tubuh kita. Contoh sayuran yang mengandung vitamin A antara lain wortel, brokoli, labu dan tomat.

Vitamin C mengandung antioksidan yang berperan sebagai penghalau radikal bebas, juga dapat meningkatkan kadar antibodi (zat pembentuk kekebalan tubuh) sehingga memperbaiki respons kekebalan tubuh. Contoh sayuran yang banyak mengandung vitamin C antara lain kangkung, brokoli, kembang kol, serta sawi hijau.

Vitamin B secara umum berfungsi pada metabolisme energi dan pembentukan sel- sel baru yang memiliki peran untuk menghasilkan energi. Asam folat yang termasuk dalam kelompok vitamin B, berfungsi pada pembentukan sel darah putih di dalam sumsum tulang. Sel darah putih merupakan bagian dari sistem pertahanan tubuh. Sumber asam folat terdapat pada sayuran berdaun hijau.

Vitamin E merupakan jenis vitamin yang mudah larut dalam lemak dan mempunyai efek antioksidan. Radikal bebas merupakan molekul reaktif dan dapat merusak, fungsi dari vitamin E ini dapat membuat radikal bebas menjadi tidak reaktif.

Secara umum, mineral berperan penting dalam proses pembentukan energi, menjadi pembawa sinyal pada sistem saraf dan kontraksi otot, menjaga keseimbangan asam-basa tubuh, serta menjadi komponen dari enzim dan hormon yang dihasilkan tubuh. Mineral yang terkandung dalam sayuran antara lain zat besi (Fe), zinc/seng dan selenium . Zat besi bermanfaat meningkatkan fungsi dari enzim-enzim yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Zat besi terdapat dalam sayuran hijau ( bayam, sawi, daun katuk, kangkung, dan daun singkong).

Zinc merupakan mineral penting yang terlibat dalam produksi sel-sel darah putih dan pembentukan antibodi. Antibodi mempunyai kemampuan dalam mengenali zat anti virus yang masuk ke dalam tubuh, kemudian mengirimkan sinyal pada sel darah putih untuk menyerang zat asing tersebut. Kekurangan zinc dapat menyebabkan respons imun yang melemah. Sayuran yang mengandung zinc antara lain kangkung, buncis dan kacang panjang, yaitu per 100 gram kangkung mengandung sekitar tiga persen kebutuhan zinc setiap hari.

Selenium yang terdapat dalam bayam dan jamur memiliki peran dalam sintesis imunoglobulin dan enzim yang bertugas memerangi sel radikal bebas. Selenium membantumendetoksifikasi hati serta membuang zat berbahaya yang masuk melalui makanan.

Apa saja manfaat dari zat fitokimia ini ?

Senyawa fitokimia bukan termasuk zat gizi karena tidak termasuk golongan karbohidrat, lemak, vitamin, mineral maupun air. Fitokimia adalah zat alami yang ada pada tanaman, yang berfungsi memberikan aroma, warna dan rasa. Fitokimia ini juga sangat berfungsi untuk kesehatan manusia. Kombinasi zat fitokimia menghasilkan enzim-enzim sebagai detoksifikasi (penangkal racun), dapat merangsang sistem imunitas, meningkatkan metabolisme hormon, melancarkan pencernaan serta mengikat zat karisinogen dalam liang usus.

Jenis fitokimia sangat banyak, misalnya klorofil, sering disebut sebagai zat hijau daun yang terdapat dalam sayuran yang berwarna hijau. Dipercaya dapat memaksimalkan fungsi hati sebagai pembuang racun di tubuh dan meningkatkan daya tahan tubuh dengan membuat lingkungan di sekitarnya menjadi basa. Hal ini membuat bakteri anaerob penyebab penyakit tidak dapat bertahan hidup.

Contoh lain adalah karotenoid, yang merupakan kelompok pigmen pada tumbuh-tumbuhan. Pigmen ini memberikan warna kuning, merah, atau oranye pada sayuran. Beta karoten yang bermanfaat untuk kesehatan mata dan sumber antioksidan, senyawa ini bisa ditemukan pada wortel, labu kuning, jagung. Flavonoid merupakan antioksidan penetralisir radikal bebas yang menyerang sel-sel tubuh dan membantu tubuh menyerap vitamin C dengan lebih baik . Sumber flavonoid bisa ditemukan pada brokoli dan bayam.

Kandungan lain dalam sayuran yang bisa meningkatkan sistem imun adalah serat, bagaimana serat ini dapat meningkatkan imunitas tubuh?

Anjuran WHO untuk konsumsi serat adalah 25 gram per hari. Konsumsi serat harian yang cukup dapat menurunkan peradangan usus dan membantu mencegah penyakit saluran cerna, seperti konstipasi, radang unsur, dan sindrom iritasi usus.

Dengan mengonsumsi serat yang cukup, dapat merangsang pertumbuhan bakteri baik yang ada dalam saluran pencernaan, sehingga dapat menstimulasi sistem kekebalan tubuh. Bila sistem pencernaan sehat, zat gizi yang masuk ke dalam tubuh pun akan terserap baik dan berdampak positif untuk sistem imunitas tubuh. Hal ini sangat bermanfaat, khususnya di tengah pandemi sekarang ini.

Berapakah anjuran kecukupan konsumsi sayuran setiap hari ?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) secara umum menganjurkan konsumsi sayuran dan buah-buahan untuk hidup sehat sejumlah 400 gram per orang/hari. Terdiri dari 250 gram sayur (setara dengan 2 porsi atau 2 gelas sayur setelah dimasak dan ditiriskan) dan 150 gram buah, (setara dengan 3 buah pisang ambon ukuran sedang atau 1 potong pepaya ukuran sedang atau 3 buah jeruk ukuran sedang). Sekitar dua-pertiga dari jumlah anjuran konsumsi tersebut adalah porsi sayur.

Sayuran apabila disajikan dalam 1 porsi makan kita setiap hari itu seperti apa?

Konsep Isi Piringku adalah satu piring makan yang terdiri dari 50 % buah dan sayur, serta 50 % sisanya terdiri dari karbohidrat dan protein. Berdasarkan “isi piringku” terdiri dari makanan pokok : 2/3 dari ½ piring, l pauk : 1/3 dari ½ piring, sayur : 2/3 dari ½ piring, dan buah : 1/3 dari ½ piring.”

Gambar : Isi Piringku


Berdasarkan data Riskesdas 2018, sebanyak 95,5% masyarakat Indonesia tidak mengonsumsi sayur dan buah dengan jumlah yang dianjurkan. Bagaimana cara agar masyarakat bisa menyukai makan sayuran dan bagaimana saja cara pengolahannya?

Kebanyakan orang dewasa tidak menyukai sayur karena rasanya yang hambar atau pahit. Untuk itu cobalah masak sayur dengan variasi bumbu dan rempah yang lebih beragam supaya lebih meningkatkan cita rasa makanan. Misalnya tumis sayuran dengan menambahkan ketumbar, lada, bawang putih, perasan jeruk nipis atau lemon untuk memperkuat rasa. Cara lainnya adalah dengan menambahkan sedikit potongan cabai atau beberapa tetes minyak zaitun untuk mengurangi rasa hambarnya.

Cara lain yaitu dengan membuatnya jadi jus atau smoothies. Campurkan dengan buah-buahan kesukaan untuk menetralisir rasa sayuran. Namun ingat, memblender sayuran akan akan mengurangi kandungan seratnya. Meskipun tetap bisa mendapatkan asupan vitamin dan mineralnya, jadikanlah jus sayuran hanya sebagai selingan di waktu makan.

Tips lainnya, untuk yang baru mulai makan sayur, yaitu makanlah sayur yang kita paling suka. Misalnya , bagi yang tidak suka pare atau daun singkong tetapi suka bayam dan pokcoy, mulailah dengan bayam dan pokcoy ada dalam setiap menu makan. Sayuran favorit bisa jadi jembatan untuk mengenalkan kita pada variasi rasa yang lebih beragam. Misalnya jika kita suka bayam hijau kemudian cobalah makan bayam merah. Atau kita suka brokoli selanjutnya bisa mencoba kembang kol yang teksturnya mirip. Dengan begitu, semakin banyak jenis sayuran yang akan kita makan semakin kita tidak akan bosan mengonsumsi sayuran.

Proses memasak sayuran dapat menghilangkan nutrisi yang terkandung dalam sayuran, terutama vitamin dan mineralnya. Bagaimana cara memasak sayuran agar nutrisinya tidak banyak hilang? Cara apakah yang paling sedikit menyebabkan kehilangan zat gizi?

Adanya pemanasan saat memasak sayur dapat mengurangi kadar vitamin dan mineral di dalamnya sebanyak 15-20%. Terdapat banyak cara dalam memasak sayuran, mulai dari merebus, mengukus, sampai menumis dengan sedikit minyak. Metode memasak dengan cara dikukus adalah metode memasak yang paling baik untuk sayuran, terutama untuk sayuran yang mengandung vitamin larut air. Ketimbang merebus, metode ini dianggap lebih baik karena sayuran tidak bersentuhan langsung dengan air yang mendidih. Dengan demikian, zat gizi yang ada pada sayuran tidak banyak yang hilang, khususnya pada vitamin yang larut air.

Merebus sayuran (bukan untuk dijadikan sup) menyebabkan vitamin-vitamin larut air seperti asam folat, vitamin B dan C luluh ke dalam air rebusan dan akhirnya terbuang. Menumis juga baik untuk mengolah sayuran, terlebih bila menggunakan minyak sehat seperti minyak zaitun. Faktanya, menumis menggunakan minyak zaitun tak hanya memberikan rasa dan aroma khas, tapi juga meningkatkan penyerapan vitamin larut lemak seperti vitamin A, D, E, dan K. Secara umum, mengukus merupakan cara paling baik untuk memasak berbagai jenis sayuran atau makanan lain, karena tidak menyebabkan banyak zat gizi yang hilang.

Bagaimana cara penanganan sayuran yang baru kita beli agar aman dikonsumsi?

Pastikan tempat penyimpanan yang tersedia dalam keadaan bersih (misalnya wadah plastik ataupun plastik yang akan digunakan sebagai pembungkus), cuci tangan dengan sabun sebelum menyentuh bahan makanan, sebaiknya buang pembungkus sayuran dari pasar ganti dengan yang baru. Bagian sayur yang sudah rusak atau memar dibuang sambil bersihkan dari kotoran yang menempel. Sebaiknya sayuran tidak perlu dicuci karena dikhawatirkan sayuran menjadi lembab atau memar. Bila terpaksa sayuran harus dicuci karena terlalu kotor maka sayuran segera ditiriskan.

Kemudian bagaimana cara penyimpanan sayuran yang baik dan tahan berapa lama ?

Jika membeli bahan dari pasar dengan kemasan yang tidak layak simpan, pindahkan ke dalam plastik bening atau wadah tertutup. Pisahkan sesuai jenis bahan makanan dan dibagi sesuai jumlah porsi masak. Lapisi dengan tisu pada wadah penyimpanan sayur yang sudah disiangi/dibersihkan. Simpan sayuran di lemari es dengan suhu 4 – 10 C. Untuk sayuran yang berbentuk daun tahan 1-2 hari. Untuk brokoli , jagung, terong, labu, serta kubis bisa tahan satu minggu. Timun, wortel, kembang kol bisa tahan dalam dua minggu. Jika disimpan dalam suhu ruangan usahakan diletakkan di tempat kering. Meletakkan sayuran dengan dibungkus kertas atau tisu cukup membantu untuk menghalau pertumbuhan bakteri penyebab kebusukan. Sayuran yang lebih awet jika disimpan dalam suhu ruang adalah paprika, mentimun dan tomat.

Kapan waktu yang tepat untuk makan sayuran ? Mkan sayuran duluan baru nasi dan lauk pauknya atau sebaliknya?

Konsumsi sayuran dan buah bisa dilakukan beriringan dengan makan nasi atau makan besar, sebelum atau sesudah makan tergantung selera. Namun ketika kita sedang berdiet, konsumsilah sayur dan buah di awal sebelum makan supaya kita tidak berlebihan dalam mengonsumsi nasi dan hidangan sumber lemak. Karena sayur sebagai sumber serat yang menimbulkan rasa kenyang di dalam perut sehingga keinginan kita untuk mengonsumsi makan tinggi lemak dan karbohidrat bisa diminimalkan.

Kesimpulan :

Menghadapi era new normal, kita semua harus tetap melaksanakan protokol kesehatan dengan patuh, seperti mencuci tangan, memakai masker, dan menjaga jarak aman dengan orang disekitar. Tingkatkan kekebalan tubuh dengan konsumsi makanan bergizi serta menerapkan pola gizi seimbang. Lakukan kebiasaan konsumsi sayuran yang merupakan salah satu komponen gizi seimbang, yang kaya akan antioksidan dan bermanfaat pula untuk mencegah penyakit tidak menular. Menghadapi new normal, kita juga harus menciptakan new habit /kebiasaan baru dengan salah satunya dengan rajin mengonsumsi sayuran. Jika ada pertanyaan seputar gizi dan bahan makanan silahkan tanyakan kepada ahlinya, yaitu ahli gizi di sekitar anda. Salam sehat!
(Ratna F–Humas)

RSPON – RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan edukasi live dalam memperingati ulang tahun ke-6 pada media sosial Instagram serta Youtube untuk publik. Tema pada Senin, 6 Juli 2020 adalah “Perawatan Paska Stroke di Rumah” bersama supervisor perawat RSPON yaitu R.Isnawan Risqi Rakhman, S.Kep., Ners. Tema edukasi membahas bagaimana cara keluarga/saudara terkena stroke dan diperbolehkan pulang ke rumah. Persiapan apa saja yang diperlukan dan bagamaimana cara merawat pasien stroke di rumah?

Stroke merupakan suatu gejala neurologis atau gangguan persarafan, yang terjadi secara mendadak/tiba-tiba, baik fokal (sebagian) maupun umum. Ada dua jenis stroke, yaitu stroke penyumbatan dan stroke perdarahan. 80% kasus adalah stroke penyumbatan.

Apakah Faktor Penentu kepulangan pasien paska rawat dirumah sakit?

Diputuskan oleh dokter yang merawat pasien berdasarkan indikator-indikator klinis dalam rata-rata perawatan 5 – 7 hari. Bahwa pasien yang dirawat selama masa krisis sudah lewat, tanda tanda vital/klinis stabil, tidak ada komplikasi yang berat, faktor risiko sudah terkontrol dengan baik.

Keputusan juga melihat dari keputusan tim stroke. Penanganan tatalakasana stroke di RSPON sangat komprehensif, terdiri dari tim stroke. Tim tersebut terdiri dokter, perawat, fisioterapi. Masing- masing anggota tim akan mengevaluasi pasien stroke tersebut. Maka keputusan tim tersebut juga dijadikan faktor pertimbangan pemulangan pasien.

Apa yang harus dipersiapkan pasien dan keluarga untuk pulang ke rumah?

Keadaan pasien stroke berbeda berdasarkan tingkat keparahannya. Apapun tingkat keparahannya, yang terpenting yang harus disiapkan keluarga adalah kesiapan psikis keluarga untuk merawat pasien stroke di rumah. Persiapan lainnya sebagai berikut :
1. Persiapan Care giver (pengasuh)
2. Persiapan lingkungan (modifikasi lingkungan)
3. Persiapan kebutuhan aktivitas sehari-hari

Apakah wajib ada pengasuh di rumah untuk menjaga pasien?

Ya. Pengasuh ini tidak harus dari Yayasan, atau sejenisnya. Keluarga terdekat pun dapat dilatih untuk merawat pasien di rumah. Sebagian besar pasien stroke, memiliki gejala sisa yang menetap saat dipulangkan dari rumah sakit. Pengasuh ini sangat penting untuk membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari di rumah, dan mengawasi serta mencegah risiko-risiko kondisi lingkungan yang dapat membahayakan pasien.

Paling sering gejala sisa yang dialami pasien stroke adalah gangguan/kelemahan pada anggota gerak. Bayangkan, biasanya pasien bisa bergerak mandiri, karena ada kelemahan akibat stroke bisa jatuh kalau tidak dibantu pengasuh. Contoh lain bila pasien stroke mengalami gangguan bicara/komunikasi. Pasien stroke terutama strokedi sisi otak sebelah kiri, berada di pusat bahasa. Pasien bisa afasia motorik dan sensorik. Motorik mengerti tapi tidak bisa berkata kata, tidak bisa merespon kata-kata. Sensorik bisa bicara tapi tidak bisa menerima stimulus (tidak menyambung). Karena kondisi tersebut maka pasien stroke sangat butuh pengasuhan tersendiri untuk membantunya.

Bisa juga untuk menguatkan keluarga dan pasien, dengan mengikuti klub stroke

Apa saja modal yang perlu dimiliki oleh pengasuh di rumah?

1. Pengasuh harus siap secara psikis dan mental
2. Pengetahuan tentang prinsip-prinsip perawatan di rumah
3. Pengetahuan tentang tanda kegawatan yang harus diwaspadai

Gejala apa saja mungkin masih ada saat pasien sudah boleh pulang ke rumah?

1. Kelemahan satu sisi tubuh
2. Gangguan bicara dan komunikasi
3. Gangguan fungsi menelan
4. Gangguan buang air kecil dan buang air besar
5. Gangguan melakukan aktivitas harian (memakai baju, dll)
6. Gangguan memori
7. Gangguan kepribadian dan emosi

Bagaimana persiapan lingkungan di rumah? Apakah perlu ada modifikasi lingkungan di rumah?

1. Persiapan kamar tidur: lokasi, ventilasi, pencahayaan
2. Persiapan tempat tidur : single bed, 3 crank
Posisi di tengah kamar sehingga bisa diakses dari sebelah kanan dan sebelah kiri.
3. Meja di samping tempat tidur
Untuk meletakan barang barang yang biasa dipakai pasien agar pasien bisa mandiri dan bisa meningkatkan kepercayaan diri pasien. Misal kacamata, gelas, buku dsb.
4. Kursi dan kursi roda
Alat ini mengusir kebosanan pasien dengan menbawa pasien jalan-jalan ke luar ruangan, tidak hanya berkutat di tempat tidur saja.
5. Kamar mandi : kloset duduk, hand rail, keset anti slip, hati-hati dengan pemanas air

Hal-hal di atas bisa mulai ditanyakan oleh keluarga pada perawat di rumah sakit saat pasien masih dirawat, sehingga saat pasien di rumah, semua persiapan sudah optimal.

Persiapan apa saja yang mungkin harus dimodifikasi untuk membantu pasien melakukan aktivitas sehari-hari di rumah?

Prinsipnya adalah libatkan pasien dalam kegiatan sehari-hari, untuk mencegah komplikasi, meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri pasien. Sehingga pasien pun dapat kooperatif dan terlibat aktif dalam perawatan di rumah.

Yang dapat disesuaikan diantaranya:

1. Pakaian : longgar, berbahan lembut, bisa berkancing depan, celana karet
2. Alat personal hygiene : untuk memandikan di tempat tidur
3. Alat-alat makan, khususnya NGT
Misalnya pasien dengan NGT masih terpasang selang, maka keluarga harus punya peralatan makan cair, tata terbitnya, gelas ukurnya, alat untuk membersihkan. Bila tidak disiapkan dengan benar, misal tidak bersih malah akan menimbulkan masalah kesehatan baru pada pasien tersebut
4. Alat-alat untuk buang air kecil dan buang air besar: pispot/ urinal, kondom kateter

Kok banyak banget persiapan yang harus dilakukan?

Gejala sisa tiap pasien berbeda. Persiapan alat disesuaikan dengan kondisi pasien dan gejala sisanya. Keluarga bisa mendiskusikan hal ini dengan perawat ruangan. Atau bisa juga percaya diri untuk bisa melakukan dengan terampil dengan batasan-batasan sejauh mana keluarga dalam membantu pasien.

Mengapa modifikasi-modifikasi kondisi di rumah perlu dilakukan?

Untuk mengoptimalkan status fungsional pasien, mencegah komplikasi. Saya pernah menerima pasien-pasien stroke di IGD RSPON yang datang mengalami kondisi kegawatan karena komplikasi perawatan jelek dirumah. Contoh pasien datang dengan suara nafas kencang dan cepat. Setelah di asses, ternyata disebabkan karena keluarga memberikan makanan tidak sesuai dengan kondisi pasien yang masih menggunakan NGT, sehingga pasien sering tersedak. Contoh lainnya, ada pasien datang karena diet tidak cukup dengan gula darah rendah, ternyata belum diberikan makan oleh kerluaga. Ada pasien datang dengan kondisi demam, setelah diases ada paru paru infkesi ternyata ada infkesi luka tekan.

Komplikasi apa saja yang bisa muncul jika perawatan di rumah tidak optimal?

1. Kontraktur otot gerak
2. Dekubitus/luka tekan
3. Aspirasi/tersedak yang dapat menyebabkan kegawatan
4. Pneumonia karena tirah baring
5. Infeksi yang diakibatkan buruknya personal hygiene

Bagaimana keluarga dan pasien mengelola bagian tubuh yang mengalami kelemahan?

1. Posisi : tidur telentang, miring, setengah duduk/duduk senyaman mungkin. Selalu ganjal dengan bantal pada area-area yang mengalami kelemahan
2. Posisi : pindahkan posisi per -2 jam pada pasien bed ridden. Hati-hati dengan bahu pasien, hindari mengangkat pasien dengan memegang ketiak.

Posisi ini juga untuk mencegah luka tekan pada pasien.

Bagaimana mencegah agar tidak terjadi kekakuan pada anggota gerak pasien?

1. Lakukan latihan rentang gerak sendi secara aktif dan pasien dua kali sehari
2. Konsultasikan dengan fisioterapis untuk jadwal latihan yang terencana

Bagaimana mengelola gangguan fungsi menelan?

1. Jika terpasang NGT : posisikan duduk saat pasien akan diberi cairan. Pastikan posisi NGTnya sesuai. Konsul dengan speech terapy/perawat mahir untuk latihan menelan
2. Pada pasien yang sudah bisa makan padat: Masukkan makanan pada sisi yang sehat, kepala sedikit menunduk saat menelan, tengok ke sisi yang lemah saat menelan. Pastikan tidak ada makanan tersisa. Lakukan oral hygiene.

Apakah keluarga perlu mengetahui tanda-tanda kegawatdaruratan?

Harus, sangat harus.

Yang perlu diperhatikan adalah :

a. Kesadaran pasien : hubungi segera ambulans atau ke rumah sakit jika pasien mengalami penurunan kesadaran (sulit dibangunkan pada jadwal biasa pasien sadar/ngorok) bisa karena kekurangan oksigen, karena nafas tersumbat, ada kelemahan baru atau bisa ada stroke berulang.
b. Kenali adanya kejang
c. Nyeri kepala hebat dan memberat
d. Tanda gejala stroke : “SEGERA KE RS” untuk mengantisipasi stroke berulang

Gejala stroke bisa dikenali, yaitu dikenal dengan singkatan “SEGERA KE RS” yaitu:
SEnyum tidak simetris pada wajah
GErak melemah, dengan cara membandingkan antara kiri dan kanan
bicaRA pelo, cadel, tidak bisa berkomunikasi, sulit untuk berbicara
KEbas
Rabun, gangguan dimata, gangguan lapang pandang, bahkan sampai tidak melihat sama sekali
Sakit Kepala, tidak semua sakit kepala adalah stroke, ada kriteria sakit kepala karena stroke, yaitu sakit kepala hebat, tiba-tiba, mendadak, dan ada gejala stroke lainnya di atas

Golden Period (periode emas) untuk stroke adalah bagaimana upaya kita untuk mengupayakan sel-sel saraf otak segera mendapatkan kembali nutrisi yang baik, karena jika sel-sel saraf rusak, kemungkinan kembali normal akan sulit. Waktu golden period pasien sekitar 3-4,5 jam. Di masa golden period ini, pasien stroke harus segera diberi terapi untuk mencegah kecacatan paska stroke.

Bagaimana mengendalikan faktor risiko agar stroke tidak berulang :

a. Kontrol tekanan darah
b. Kontrol kolesterol dan kadar gula darah
c. Diet seimbang, rendah garam
d. Olahraga teratur dan terukur
e. Berhenti merokok

(Ratna F–Humas)

RSPON – RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta mengadakan edukasi live dalam memperingati ulang tahun ke-6 pada media sosial Instagram serta Youtube untuk publik. Tema pada hari Jumat, 3 Juli 2020 adalah “Periode Emas (Golden Period) Penanganan Stroke di Masa Pandemi COVID-19” bersama dr. Ricky Gustanto Kurniawan, Sp.S.

Stroke merupakan suatu gejala neurologis atau gangguan persarafan, yang terjadi secara mendadak/ tiba-tiba, baik fokal (sebagian) maupun umum. Ada dua jenis stroke, yaitu stroke penyumbatan dan stroke perdarahan. 80% kasus adalah stroke penyumbatan.

Gejala stroke bisa dikenali, yaitu dikenal dengan singkatan “SEGERA KE RS” yaitu:
SEnyum tidak simetris pada wajah
GErak melemah, dengan cara membandingkan antara kiri dan kanan
bicaRA pelo, cadel, tidak bisa berkomunikasi, sulit untuk berbicara
KEbas
Rabun, gangguan dimata, gangguan lapang pandang, bahkan sampai tidak melihat sama sekali
Sakit Kepala, tidak semua sakit kepala adalah stroke, ada kriteria sakit kepala karena stroke, yaitu sakit kepala hebat, tiba-tiba, mendadak, dan ada gejala stroke lainnya di atas.

Golden Period (periode emas) untuk stroke adalah bagaimana upaya kita untuk mengupayakan sel-sel saraf otak segera mendapatkan kembali nutrisi yang baik, karena jika sel-sel saraf rusak, kemungkinan kembali normal akan sulit. Waktu golden period pasien sekitar 3-4,5 jam. Di masa golden period ini, pasien stroke harus segera diberi terapi untuk mencegah kecacatan paska stroke.

Di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSPON, 30 – 50% pasien stroke di masa golden period sudah dapat tertangani segera.

Penanganan yang dilakukan pada masa golden period :
1. Pemeriksaan CT Scan, untuk membedakan jenis stroke penyumbatan atau perdarahan
2. Untuk stroke penyumbatan, jika masih kurang dari 4.5 jam dari waktu serangan, diberikan terapi r-tpa/ trombolisis, yaitu diberikan zat/ obat yang efektif sekali untuk menghancurkan penyumbatan pada sel saraf yang terkena stroke
3. Trombolisis ini tidak boleh diberikan lebih dari 4.5 jam dari serangan stroke penyumbatan karena akan mengakibatkan perdarahan
4. Saat ini, Terapi trombolisis ini merupakan terapi terbaik untuk stroke penyumbatan
5. Untuk stroke perdarahan segera mungkin diberikan obat untuk menghentikan perdarahan, menjaga tensi tetap bagus, dan menjaga aliran darah tetap bagus

Kasus Stroke Lebih dari 4.5 jam dari Kejadian Serangan
Untuk kasus stroke yang sampai IGD lebih dari 4,5 jam dari masa golden period, untuk pasien stroke penyumbatan di pembuluh darah besar, dilakukan endovaskuler terapi, berupa tindakan trombektomi, dengan teknik kateterisasi. Untuk Tindakan ini tidak semua rumah sakit dapat melakukan ini, di RSPON, tindakan ini sudah dapat dilakukan untuk pasien-pasien yang lebih dari 4.5 jam dari golden period.

Golden period di Masa Pandemi COVID-19
Tidak ada perbedaan penangan di saat pandemik COVID-19 ataupun bukan pandemi. Adapun hal-hal yang berbeda saaat pandemi COVID-19 yaitu :
- Pasien dan keluarga wajib menggunakan masker
- Di Triase IGD, ada screening COVID-19, jika ternyata pasien terdeteksi COVID-19, akan dimasukkan ke ruangan isolasi COVID-19 di IGD

Apabila menemukan gejala stroke diatas, harus segera ke rumah sakit, agar dokter dapat segera memperbaiki kondisi pembuluh darah

Upaya pencegahan stroke dapat dilakukan dengan melakukan pemeriksaan medis secara rutin dan deteksi dini sejak usia 20 tahun. Pemeriksaan medis rutin yang direkomendasikan sebaiknya meliputi pemerikaan tekanan darah, pemeriksaan fisik, kadar kolesterol lengkap saat puasa (LDL, HDL, trigliserida), kadar gula darah, ukuran lingkar pinggang, dan rekam jantung standar (EKG).

Stroke merupakan kondisi kegawatan yang dapat terjadi pada usia tua dan muda. Penanganan medis pada stroke seperti berlomba dengan waktu. Begitu berbahayanya penyakit ini, ketahui berbagai fakta tentang stroke lalu segera lakukan langkah-langkah pencegahan dengan mengawasi pola makan, berolahraga secara rutin, hindari kebiasaan buruk seperti merokok dan minum minuman beralkohol, jauhi diri dari stres, serta rutin lakukan pemeriksaan kesehatan.
(Ratna F–Humas)

Tim Bedah Saraf menyelenggarakan rangkaian Webinar Edukasi berskala internasional dalam bidang Bedah Saraf. Sabtu, 13 Juni 2020 pukul 08.00-10.00 WIB telah berlangsung Webinar Series #4 dengan narasumber Mojgan Hodaie, MD, MSc, FRCS, Professor of Surgery dari Faculty of Medicine, University of Toronto, Canada and Alfonso Fasano, MD, PhD, Professor of Neurology dari Faculty of Medicine, University of Toronto, Canada dengan Moderator dr. Adi Sulistyanto, Sp.BS yang merupakan salah satu Dokter Bedah Saraf RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Webinar ini mengusung tema Movement Disorder: Patient Selection & Surgical Treatment, secara garis besar membahas Diagnosis dan penentuan kandidat pasien dengan gangguan gerakan untuk tindakan operatif. Tindakan operatif meliputi stimulasi dengan bantuan elektroda maupun dengan membuat jejas yang terkontrol di area tertentu di otak. Webinar dihadiri oleh 410 peserta dari berbagai negara dan turut mengundang panelis yang merupakan dokter spesialis bedah saraf dan dokter spesialis saraf dari berbagai rumah sakit di Indonesia. Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan terkini mengenai pelayanan bedah saraf yang nantinya dapat diaplikasikan dalam pelayanan kepada masyarakat khususnya pasien bedah saraf.
(Ratna F–Humas)

Tim Bedah Saraf menyelenggarakan rangkaian Webinar Edukasi berskala internasional dalam bidang Bedah Saraf. Selasa, 9 Juni 2020 pukul 07.00-09.00 WIB telah berlangsung Webinar Series #3 dengan narasumber Prof. Luis A. B. Borba, MD, PhD, Professor and Chairman dari Neurosurgery Department, Federal University of Parana, Curtiba, Brazil dan dengan Moderator dr. Ryan Rhiveldi Keswani, Sp.BS yang merupakan salah satu Dokter Bedah Saraf RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Webinar ini mengusung tema Transpetrosal Approaches, secara garis besar membahas Penanganan berbagai kasus tumor otak dengan tindakan operatif dari pendekatan transpetrosal. Webinar dihadiri oleh 353 peserta dari berbagai negara dan turut mengundang panelis yang merupakan dokter spesialis bedah saraf dari berbagai rumah sakit di Indonesia. Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan terkini mengenai pelayanan bedah saraf yang nantinya dapat diaplikasikan dalam pelayanan kepada masyarakat khususnya pasien bedah saraf.
(Ratna F–Humas)

Tim Bedah Saraf menyelenggarakan rangkaian Webinar Edukasi berskala internasional dalam bidang Bedah Saraf. Senin, 8 Juni 2020 pukul 19.00-21.00 WIB telah berlangsung Webinar Series #2 dengan narasumber Prof. Hugues Duffau, MD, PhD, Professor and Chairman dari Neurosurgery Department-Montpellier University Medical Center, France dan dengan Moderator dr. Selfy Oswari, Sp.BS, S.Si yang merupakan salah satu Dokter Bedah Saraf RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Webinar ini mengusung tema Early Maximal Safe Resection In Low Grade Glioma: A personalized connectome-based approach over 1000 awake surgery, secara garis besar membahas Penanganan kasus tumor otak glioma dengan awake surgery, yaitu operasi dengan teknik pembiusan khusus sehingga pasien tetap sadar selama tindakan operatif. Dengan demikian, tumor dapat dibuang dengan mempertahankan fungsi otak semaksimal mungkin. Webinar dihadiri oleh 521 peserta dari berbagai negara dan turut mengundang panelis yang merupakan dokter spesialis bedah saraf dari berbagai rumah sakit di Indonesia. Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan terkini mengenai pelayanan bedah saraf yang nantinya dapat diaplikasikan dalam pelayanan kepada masyarakat khususnya pasien bedah saraf.
(Ratna F–Humas)

Tim Bedah Saraf menyelenggarakan rangkaian Webinar Edukasi berskala internasional dalam bidang Bedah Saraf. Sabtu, 30 Mei 2020 pukul 07.00-09.00 WIB telah berlangsung Webinar Series #1 dengan narasumber Prof. Michael T. Lawton, MD dari Barrow Neurological Institute, President & CEO Chair, Department of Neurological Surgery dan dengan Moderator dr. Abrar Arham, Sp. BS yang merupakan Ketua Tim Bedah Saraf RS Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Webinar ini mengusung tema Surgical Strategies for Ruptured Intracranial Aneurysm: "How I Do It?", secara garis besar membahas penanganan aneurisma intrakranial yang ruptur dengan teknik operatif berupa clipping dan bypass. Webinar dihadiri oleh 301 peserta dari berbagai negara dan turut mengundang panelis yang merupakan dokter bedah saraf dari berbagai rumah sakit di Indonesia. Webinar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetuhan terkini mengenai pelayanan bedah saraf yang nantinya dapat diaplikasikan dalam pelayanan kepada masyarakat khususnya pasien bedah saraf.
(Ratna F–Humas)

RSPON – RS PON Prof. Dr. Dr. Mahar Mardjono bekerjasama dengan Pusat Inovasi Pembelajaran dan Sertifikasi Universitas Airlangga mengadakan pelatihan PEKERTI yang dilaksanakan pada tanggal 7-9 Februari 2020. Pelatihan/Lokakarya Program Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Instruksional atau yang disebut dengan PEKERTI diikuti oleh dokter spesialis yang berada RS PON Prof. Dr. Dr. Mahar Mardjono.

Pelatihan PEKERTI diselenggarakan dalam rangka mempersiapkan RS PON Prof. Dr. Dr. Mahar Mardjono menjadi Rumah Sakit Pendidikan Afliasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, pelatiahan diikuti oleh 67 dokter spesialis. Pelatihan dilaksanakan dengan metode Blende berbasis teknologi online (Masive Open Online Course)
(Teguh–Humas)

RSPON – Tepat diusianya yang ke 5 tahun pada 14 Juli 2019, RSPON mengadakan acara hari jadinya dengan menyambangi Car Free Day (CFD) untuk pertama kalinya dalam sejarah RSPON. Kegiatan ulang tahun ini memang sengaja dipusatkan di acara CFD di pusat kota Jakarta di mana banyak masyarakat yang dapat turut serta dalam acara tersebut. Memilih lokasi di jalan pintu senayan 1 (samping mall FX Sudirman) dimaksudkan untuk dapat lebih mendekatkan diri dengan masyarakat sekitar dan memasyarakatkan RSPON, agar masyarakat semakin mengenal keberadaan RSPON sebagi pusat rujukan saraf dan otak pertama dan satu-satunya di Indonesia.

Acara diawali dengan senam sehat aerobik, Fun Walk (jalan santai), dan senam otak yang spesial dan khusus dari RSPON yang dibawakan oleh staf fisioterapis RSPON. Fun Walk kali ini mengawali garis start dari depan gapura GBK di jalan pintu 1 senayan yang dilepas oleh Dirut RSPON dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS. Rute yang diambil adalah arah jalan sudirman, naik ke jembatan semanggi melalui jalur hidup jembatan semanggi, turun kembali ke jalan sudirman dan dilanjutkan lurus ke arah patung senayan dan memutar balik kembali ke jalan pintu 1 senayan.

Acara senam dan Fun Walk ini diikuti oleh masyarakat sekitar yang ada di lokasi, karena semua acara yang diadakan gratis dan terbuka untuk umum. Tidak lupa juga pada acara ini dilakukan prosesi tiup lilin dan potong tumpeng yang dilakukan oleh seluruh jajaran Direksi RSPON dan diikuti oleh seluruh karyawan RSPON yang hadir. Acara ditutup dengan pembagian doorprize yang khusus dibagikan hanya untuk karyawan RSPON. Dalam sambutannya Dirut RSPON berpesan agar diusia selanjutnya, RSPON dapat terus meningkatkan layanannya yang terbaik kepada masyarakat, seperti saat ini yang sudah 5 tahun RSPON melayani dengan mulia.
(Erlangga–Humas)

RSPON – Untuk mengembangkan jejaring dan relasi yang baik guna meningkatkan layanan RSPON yang semakin baik dan berkembang luas sesuai dengan perkembangan zaman dan perkembangan dunia internasional. Maka, RSPON bekerjasama dengan Prasat Neurological Institute (PNI), Bangkok, Thailand dalam bentuk penandatanganan MoU. Penandatanganan MoU antar kedua pihak ini dilakukan pada Jumat, 5 Juli 2019 bertempat di ruang serbaguna lantai 11 RSPON. Kerjasama ini ditandatangani langsung Direktur Utama RSPON dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS dan dr. Nutthapong Wongwiwat, MD selaku Deputy Director General Department of Medical Services, Ministry of Public Health, Thailand beserta dr. Pairat Saengdith, MD selaku Director Prasat Neurological Institute, Department of Medical Services. Kerjasama ini berlaku selama 5 tahun (hingga 2024).

Adapun kerjasama yang dilakukan akan terkait dengan berbagai aspek diantaranya adalah saling menyediakan pelatihan bagi tenaga medis/kesehatan dalam bidang neurologi dan bedah saraf dari masing-masing pihak, penelitian, dan pertukaran ilmu antar tenaga medis. Dan kerjasama lainnya yang saling menguntungkan dan disetujui kedua belah pihak tanpa melanggar hukum masing-masing negara. Sebagai rumah sakit rujukan yang terdepan dibidang otak dan persarafan, maka sudah sewajarnya RSPON menjalin kerjasama yang luas dengan rumah sakit dan/atau dengan lembaga pendidikan di luar negeri, yang juga sesuai dengan klasifikasi RSPON yang akan menjadi RS pendidikan utama dibidang neurologi dan bedah saraf.

Setelah acara penandatanganan MoU, delegasi dari Prasat Neurological Institute diajak berkeliling RSPON untuk hospital tour guna mengenalkan RSPON lebih jauh dan memperlihatkan fasilitas yang ada di RSPON yang dapat menunjang pelayanan dengan mumpuni.
(Erlangga–Humas)

RSPON – RSPON dan London School of Public Relations (LSPR) menandatangani nota kesepahaman/Memorandum of Understanding (MoU) dalam hal sinergi untuk mencegah dan mengendalikan stroke di Indonesia. Penandatanganan MoU antar kedua pihak ini dilakukan pada Selasa, 2 Juli 2019 bertempat di Prof Djajusman Auditorium and performance hall, LSPR. Kerjasama ini ditandatangani langsung oleh Prita Kemal Gani, MBA, MCIPR, APR selaku Founder dan Director LSPR dan Direktur Utama RSPON dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS. Kerjasama ini berlaku selama 2 tahun (hingga 2021).

Adapun kerjasama yang dilakukan akan terkait dengan berbagai aspek diantaranya adalah sosialisasi, penelitian, pengabdian masyarakat serta membantu kampanye CERDIK (Cek Kesehatan secara rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik, Diet sehat dan seimbang, istirahat cukup, dan kelola stress) yang merupakan program GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) suatu gerakan nasional dari Kemenkes guna mewujudkan Indonesia sehat.

Dalam upacara penandatanganan ini juga dihadiri oleh Direktur Jenderal (Dirjen) Pelayanan Kesehatan (Yankes) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dr. Bambang Wibowo, Sp.OG (K), MARS yang memberikan keynote speech. Dalam kesempatan tersebut Dirjen Yankes menyampaikan data dari Sample Registration System (SRS) Indonesia pada tahun 2014, diketahui bahwa stroke merupakan penyebab kematian utama di Indonesia dengan persentase sebesar 21,1 persen dari seluruh penyebab kematian untuk semua umur. Disusul dengan penyakit kardiovaskuler dan diabetes mellitus beserta komplikasinya.

Selain itu data dari BPJS Kesehatan tahun 2016, menyatakan bahwa penyakit stroke merupakan penyakit ke empat yang menghabiskan biaya kesehatan terbesar setelah penyakit jantung, gagal ginjal, dan kanker yaitu sebesar 1,3 trikun rupiah. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis dalam pencegahan dan pengendalian stroke yaitu melalui perubahan perilaku masyarakat melalui penguatan upaya promotif preventif dengan penerapan GERMAS.

Kemitraan ini dimulai dengan seminar “Peduli Stroke, Because I Care” yang diadakan langsung seusai acara penandatanganan MoU, dengan pembicara utama adalah Direktur utama RSPON. dalam seminar tersebut ditekankan perlunya masyarakat mengenal stroke awareness (cara untuk mendeteksi tanda dan gejala awal stroke) yaitu FAST yang merupakan F untuk Face, apakah wajah berubah menjadi turun sebelah/tidak simetris, A untuk Arm apakah ada gejala mati rasa/kebas pada tangan dan saat mengangkat kedua tangannya, satu tangan tertinggal/tidak mampu mengimbangi tinggi tangan sebelahnya, S untuk Speech apakah tiba-tiba cara bicara berubah menjadi cadel/pelo, dan T untuk Time bahwa waktu sangatlah berharga dalam penanganan stroke, sehingga saat gejala tersebut muncul maka segeralah bawa ke IGD RS terdekat.
(Erlangga–Humas)

RSPON – Rabu Ilmiah merupakan tempat charging ilmu terkini untuk para tenaga dokter di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) yang diselenggarakan setiap hari Rabu. Kali ini, pada 20 Maret 2019, narasumber yang berbagi ilmu adalah dr. Anis Karuniawati PhD, Sp.MK (K) (Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Kemenkes, FKUI RSCM) dengan tema : Antibiotic Stewardship program/PPRA : How Important? The Roles of Clinical Microbiologist.

Berikut adalah artikel yang di sarikan oleh dr. Nanda Charitanadya Adhitama, Sp.N

Antibiotik adalah kelompok obat yang digunakan untuk mengatasi dan mencegah infeksi bakteri, dengan cara membunuh dan menghentikan bakteri berkembang biak di dalam tubuh. Namun saat ini, semakin banyak antibiotik yang menjadi tidak efektif. Penyebabnya bukan dari antibiotik, namun dari bakteri yang berkembang biak dan mengalami berbagai mekanisme genetik sehingga menjadi resisten terhadap antibiotik. Bakteri yang resisten akan menimbulkan infeksi yang sulit diatasi.

Sebagai contoh Eschericichia coli (E.coli) dan Klebsiella adalah bakteri yang umum terdapat di usus. Akan tetapi bakteri ini dapat mengakibatkan penyakit infeksi. Sebagian besar kasus infeksi E.coli maupun Klebsiella dapat diobati secara efektif dengan antibiotik. Beberapa E.coli dan Klebsiella dapat memproduksi enzim Extended-spectrum beta-lactamase (ESBL). Enzim ini menyebabkan bakteri tahan terhadap banyak jenis antibiotik sehingga infeksi akan lebih sulit untuk diobati.

Penyebab utama dari resistensi bakteri terjadi cepat adalah karena penggunaan antibiotik secara luas yang tidak tepat, misal konsumsi antibiotik tidak sesuai anjuran dokter, menggunakan antibiotik pada ternak untuk menjaga kesehatan hewan ternak, dan pembuangan limbah antibiotik ke lingkungan.

Resistensi antimikroba adalah masalah global. WHO telah mengkampanyekan “Global action plan on antimicrobial resistance” yang bertujuan untuk mencegah dan mengobati penyakit infeksi dengan pengobatan yang efektif. Untuk itu Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengeluarkan aturan untuk pengendalian resistensi antimikroba di Indonesia sehingga prevalensi resistensi antimikroba di Indonesia dapat menurun.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah resistensi bakteri terhadap antibiotik. Yaitu:

  • Menggunakan antibiotik dengan bijak,
  • Tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter
  • Tidak menggunakan antibiotik untuk selain infeksi bakteri,
  • Tidak menyimpan antibiotik di rumah,
  • Tidak memberi antibiotik sisa kepada orang lain,
  • dan tanyakan pada apoteker informasi obat antibiotik.

Hal utama lainnya adalah mencegah penggunaan antibiotik dengan cara mencegah terjadinya infeksi, dengan menjaga kebersihan seperti vaksinasi, mencuci tangan, menjaga kebersihan makanan dan lingkungan.
(Editor & Photo : Ratna Fitriasih, S.Sos)

RSPON – Orientasi Umum yang dilaksanakan oleh Bagian Diklat dilingkungan RS PON dimaksudkan untuk memberikan materi serta informasi kepada peserta orientasi seperti Profil RS PON, Pencegahan Penanggulangan Infeksi (PPI) serta Komunikasi Informasi Edukasi. Peserta orientasi di ikuti oleh FK Unpad/RSHS Neurologi (PPDS) Poltekes III Fisioterapi, Akfar Hang Tuah dan Poltekes Jakarta II Farmasi.
(Ratna–Humas)

RSPON – Hari ini RSPON kembali mendapatkan predikat Paripurna pada Re-Akreditasi KARS 2018. Sertifikat diterima oleh Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS. Semoga dengan adanya kegiatan rutin ini semakin meningkatkan pelayanan kesehatan RSPON kepada masyakarat Indonesia.
(Ratna–Humas)

RSPON – Selasa, 15 Januari 2019 telah dilakukan penandatanganan kerjasama tentang Pelayanan Kesehatan Spesialistik Bidang Otak Dan Persarafan, antara RSPON dan Dinas Kesehatan Sulawesi Barat yang disaksikan langsung oleh Gubernur Sulawesi Barat Bapak Ali Baal Masdar. Seremoni penadatanganan tersebut dilakukan di Aula utama RSPON lantai 16 yang juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Barat, Bapak Dr. H. Achmad Aziz, M.Kes, beserta jajarannya. Juga dihadiri oleh pejabat, staf, dan dokter RSPON untuk dapat menyaksikan dan menjadi saksi kegiatan tersebut.

Perjanjian kerjasama ini dilaksanakan dalam rangka upaya peningkatan kualitas layanan dan pengendalian penyakit otak dan persarafan, khususnya di wilayah Sulawesi Barat. Dan RSPON akan menjadi sister hospital (kemitraan antara Rumah Sakit besar dan maju dengan Rumah Sakit yang sedang berkembang) bagi RSUD Provinsi dan RSUD Polewali Mandar. Nantinya dengan adanya kerjasama ini RSPON akan menjadi tempat pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan dari Rumah Sakit yang menjadi sasaran sister hospital dalam perjanjian kerjasama ini.

Dalam sambutannya, Direktur Utama RSPON dr. Mursyid Bustami, Sp.S(K), KIC, MARS, menyampaikan bahwa RSPON akan terus berkomitmen utk mengurangi terjadinya peningkatan penderita penyakit otak dan persarafan dengan akan melakukan kerjasama rujukan antar RS dengan daerah-daerah di Indonesia, agar pasien di daerah yang jauh dari RSPON bisa segera mendapatkan penanganan secara cepat dan tepat. Sehingga dapat mengurangi angka kematian akibat penyakit otak dan persarafan.

Selain melakukan penandatanganan, Gubernur Sulawesi Barat juga melakukan pemeriksaan Brain Check Up (BCU) yang merupakan layanan unggulan RSPON, dan dalam sambutannya Bapak Ali Baal Masdar menyampaikan bahwa layanan BCU tersebut baik dan lengkap.Selain melakukan penandatanganan, Gubernur Sulawesi Barat juga melakukan pemeriksaan Brain Check Up (BCU) yang merupakan layanan unggulan RSPON, dan dalam sambutannya Bapak Ali Baal Masdar menyampaikan bahwa layanan BCU tersebut baik dan lengkap.
(Erlangga–Humas)

RSPON – Memasuki awal tahun 2019, Bagian Diklat RSPON mengadakan orientasi sebagai bentuk ajang pengenalan “siapa dan seperti apakah RSPON itu?” orientasi ini diselenggarakan oleh Diklat agar dapat memperkenalkan RSPON lebih intim kepada semua karyawan baru, juga untuk peserta magang dari sekolah/kampus yang bekerjasama dengan RSPON.

Karena pada awal tahun 2019 ini RSPON menerima karyawan/ti baru medis dan non medis, yang akan turut serta berpartisipasi dalam mengembangkan RSPON. orientasi ini diikuti oleh peserta sebanyak 44 orang. Acara diadakan di ruang Dendrit yang merupakan ruang pertemuan khusus di lantai 16 gedung B RSPON. pesertanya antara lain dokter PPDS di bidang bedah saraf, neurologi, peserta magang keperawatan dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, pemagang dari SMK Bina Citra Asia, Jakarta Timur. Karyawan baru terdiri dari dokter umum IGD, dokter neurologi, petugas farmasi, sterilisasi sentral, rekam medis, operator telepon, penata rekening, dan ada satu peserta perawat pindahan dari luar RSPON. acara dibuka oleh Direktur SDM dan Pendidikan dan Penelitian, dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS.

Materi orientasi diantaranya adalah mengenai struktur organisasi RSPON yang diberikan oleh Kepala Bagian Administrasi Umum, dr. Febindra Eka Widisana, MKM. Ada juga materi manajemen komunikasi dan edukasi tentang bagaimana cara berkomunikasi dalam bekerja di bidang perumahsakitan. Juga materi dasar mengenai kesehatan di RS, seperti materi mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi, disertai dengan kegiatan praktik cuci tangan yang baik dan benar. Dan materi dasar mengenai teknik penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dalam menghadapi musibah kebakaran di lokasi kerja.
(Erlangga–Humas)

RSPON – Kamis, 22 November 2018 diadakan penyuluhan masyarakat di ruang tunggu pasien lantai 2 RSPON dengan tema “Terapi Wicara pada Pasien Afasia” yang disampaikan dengan baik oleh saudara Bany Setyo Saputro A.Md TW.

Apakah afasia itu? Afasia merupakan gangguan bahasa perolehan yang disebabkan oleh cedera otak dan ditandai oleh gangguan pemahaman serta gangguan pengutaraan bahasa, lisan maupun tertulis. Umumnya afasia muncul bila otak kiri terganggu. Karena otak kiri bagian depan berperan untuk kelancaran menuturkan isi pikiran dalam bahasa dengan baik, dan otak kiri bagian belakang untuk mengerti bahasa yang didengar dari lawan bicara. Namun ada beberapa laporan yang menyatakan gangguan ini dapat terjadi di belahan otak kanan, meski kasusnya sangat jarang.

Afasia disebabkan oleh beberapa faktor yaitu stroke (iskemik dan hemoragik), tumor otak (space occupying lesion), trauma kepala, infeksi otak (meningitis dan meningioencephalitis) serta penyakit degenerative (dementia).

Jenis-jenis afasia antara lain sebagai berikut:

  1. Afasia Broca: bervariasi antara ringan sampai berat. Pasien mengalami kesulitan menemukan kata-kata yang tepat dan bicaranya ragu-ragu/berjeda, dengan kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Pada umumnya, gangguan menulisnya setara dengan gangguan berbicaranya. Pemahaman bahasa lisan maupun tulis lebih baik.
  2. Afasia Wernicke: bervariasi antara berat sampai sedang. Yang terutama terganggu adalah pemahaman bahasa lisan dan tulis. Pasien berbicara dengan lancar, tetapi menggunakan kata-kata yang salah. Pada umumnya, gangguan menulis seorang penderita afasia wernicke setara dengan gangguan berbicaranya.
  3. Afasia Global: afasia yang sangat berat. Pasien tidak bisa berbicara, kecuali terkadang satu kalimat otomatis, tidak dapt meniru ucapan, sulit mengerti bahasa orang lain dan tidak dapat menulis maupun membaca.
  4. Afasia anomis: tipe afasia yg paling ringan. Termasuk afasia tidak terlokalisasikan. Gejala utamanya yaitu kesulitan dalam menemukan atau memberi nama suatu benda. Pasien dapat menunjukkan objek dgn benar bila nama benda disebutkan oleh pemeriksa, bisa mengulang tapi tidak bisa menyebut secara spontan nama objek tersebut.
  5. Afasia Transkortikal Motoris: bervariasi antara berat sampai ringan. Pasien sulit berbicara spontan dan terbata bata, dengan kalimat-kalimat yang tidak lengkap. Meniru ucapan jauh lebih baik, tetapi sering dilakukan secara otomatis. Gangguan menulisnya biasanya setara dengan gangguan bicaranya. Pemahaman bahasa lisan dan tulis jauh lebih baik.
  6. Afasia Transkortikal Sensoris: bervariasi antara berat sampai ringan. Yang terutama terganggu adalah pemahaman bahasa lisan dan tulis. Pasien dapat berbicara dengan lancar tetapi menggunakan kata-kata yang salah. Pasien dapat meniru ucapan kata dan kalimat dengan baik walaupun tidak memahaminya. Gangguan menulisnya umumnya setara dengan gangguan berbicaranya.
  7. Afasia Transkortikal Campuran: bervariasi antara berat sampai ringan. Pemahaman maupun pengungkapan bahasa lisan dan tulis terganggu. Pasien dapat meniru ucapan dan menyelesaikan kalimat, walaupun ia tidak memahaminya.
  8. Afasia Konduksi: bervariasi antara sedang sampai ringan. Pasien dapat berbicara lancar, tetapi ragu-ragu karena mencari kata-kata. Kesukaran mengulang kata atau kalimat. Pemahaman bahasa jauh lebih baik.

Metode stimulasi multi modal:

  • Menyamakan kartu bergambar
  • Menunjuk gambar anggota tubuh, angka, warna, kata benda, kata kerja, kata keterangan tempat, kata sifat
  • Menamai gambar anggota tubuh, angka, warna, kata benda, kata kerja, kata keterangan tempat, kata sifat secara verbal dan tertulis
  • Menyebutkan dan menulis nama benda dalam satu kategori tertentu
  • Membuat kalimat dari kata tertentu
  • - Bercerita

Cara berkomunikasi dengan pasien afasia :

  • Ada kontak mata antara pasien dengan terapis/lawan bicara
  • Gunakan kalimat singkat dan jelas saat bertanya maupun memberikan instruksi
  • Beri waktu pasien untuk merespon pertanyaan dan instuksi yang diberikan untuk melihat apakah ia memahaminya, kalau perlu ulangi lagi
  • Kalau pasien kesulitan memahami pertanyaan maupun instruksi, jelaskan dengan isyarat atau gambar
  • Kalau pasien mengalami kesukaran menjawab suatu pertanyaan, ajukan pertanyaan yang memungkinkan jawaban ya atau tidak
  • Tunjukkan bahwa proses komunikasi telah berjalan dengan baik, hal itu dapat mendorong pasien untuk mencobanya lagi pada kesempatan lain

Yang perlu diperhatikan saat latihan yaitu :

  • Pasien jang an terlalu letih
  • Cobalah bercakap cakap dalam lingkungan yang tenang agar perhatian tidak teralihkan
  • Jangan membicarakan pasien atau penyakitnya di depan pasien tersebut
  • Ciptakan suasana kebersamaan yang tidak harus selalu melalui percakapan, komuniasi dapat dilakukan dengan kegiatan seperti menonton tv bersama
  • Cobalah membuat pasien tertawa dan cipatakan suasana santai untuk komunikasi
  • Libatkan lingkungan sebanyak mungkin ke dalam proses penangan seperti keluarga, perawat serta orang lain di sekitarnya.

(Ratna F–Humas)

RSPON – Pameran Pembangunan Kesehatan dalam rangka perayaan Hari Kesehatan Nasional yang selalu diadakan setiap November, merupakan pameran berskala nasional, yang diselenggarakan oleh Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan (Farmalkes). Menghadirkan peserta dari unit utama dan unit pelaksana teknis Kementerian Kesehatan dan para pelaku bisnis yang bergerak di bidang kesehatan, perumahsakitan, peralatan medis, dan lain sebagainya dari dalam negeri, yang menampilkan inovasi terbaru dibidang pelayanan kesehatan/alat kesehatan dan inovasi/promosi pelayanan kesehatan dari setiap Rumah Sakit yang mengikuti pameran tersebut.

Pada pameran kali ini, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional memperkenalkan layanan unggulan seperti, Brain Check Up (BCU), penjelasan tentang alat-alat kesehatan unggulan yang dimiliki oleh RSPON untuk memberikan pelayanan terbaik dalam pengobatan otak dan persarafan (MRI, Neurodiagnostik, dsb). Juga layanan konsultasi dan asesmen tentang deteksi dini stroke kepada peserta dan/atau pengunjung pameran. BCU adalah layanan baru yang merupakan terobosan dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, untuk memperkenalkan pemeriksaan deteksi dini pencegahan stroke, gangguan ingatan (memori) dan gejala kelainan organ-organ tubuh serta kelainan otak dan pembuluh darah otak bawaan sehingga bisa tertangani dengan lebih cepat dan dapat menjaga kualitas hidup pada usia produktif.

Pada tahun ini, Panitia penyelenggara memilih lokasi pameran yang baru dan pertama kalinya di luar Jakarta, yaitu di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD, Tangerang, Banten, pada Kamis-Sabtu, 8-10 November 2018, pukul 8.00-16.00 WIB. Bertempat di hall 9 dan 10 yang digabung menjadi satu lokasi pameran. Hal ini menjadi pasar yang potensial untuk memperkenalkan layanan Brain Check Up kepada masyarakat luas di luar Jakarta, terutama untuk kalangan menengah atas yang berada di sekitar BSD.

Selama 3 hari pameran banyak umpan balik (feedback) yang diberikan oleh pengunjung booth RSPON, terutama mengenai layanan BCU yang masih belum banyak diketahui oleh masyarakat umum. Pengunjung juga sangat memahami bahwa sangat penting untuk melakukan deteksi dini otak dan persarafan melalui BCU ini. Hanya saja masih banyak keluhan yang disampaikan oleh pengunjung terutama pada soal tarif yang menurut mereka masih sangat mahal dan sulit untuk dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Pengunjung berharap agar harga layanannya dapat dikurangi atau mungkin untuk dipecah paket layanannya menjadi beberapa paket kecil yang mudah dijangkau seluruh kalangan, dan ini menjadi masukan yang sangat kami terima dengan baik dan untuk menjadi bahan pertimbangan manajemen. (Erlangga–Humas)

RSPON – sebagai rumah sakit baru yang akan beroperasional tidak lama lagi, maka pada Selasa, 9 Oktober 2018 rombongan RSUI datang berkunjung ke RSPON. Dengan maksud untuk bimbingan dokumen dan kerjasama operasional dengan RSPON. Dan disertai dengan sharing session antar RS, karena RSUI merasa RSPON adalah RS baru berkembang yang sama-sama memulai operasionalnya dari nol. Oleh karena itu, RSUI merasakan perlu banyak tahu dari RSPON tentang bagaimana pengalamannya dalam menjalankan roda bisnis RS yang dimulai dari nol.

Rombongan dari RSUI diikuti oleh kurang lebih 17 orang, diantaranya dari bagian farmasi, bagian keperawatan, bagian gizi, kepala IGD, Unit Layanan Pengadaan (ULP), bagian laundry, unit K3, business development, bagian SDM, bagian pendidikan, penelitian, dan pelatihan, bagian Teknologi Informasi (TI), bagian kemitraan, dan Direktur RSUI. Dan dari RSPON dihadiri oleh seluruh Direksi dan seluruh jajaran pejabat struktural dan para kepala instalasi, bidang, dan bagian, juga dr. Nizar Yamanie selaku saksi sejarah berdirinya RSPON.

Acara dilaksanakan di ruang rapat struktural RSPON lantai 15 dengan agenda dimulai dari Direktur Utama RSPON yang memperkenalkan sejarah berdirinya RSPON hingga perjalanannya sampai di usia yang ke-4 pada tahun ini. RSUI berkonsultasi mengenai bagaimana pengelolaan pertama kali RSPON beroperasional setelah dilakukan soft opening oleh Ibu Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi pada 2013.

Diceritakan bahwa saat itu RSPON menerima 1 pasien pertama yang akhirnya dirujuk ke RS Tebet untuk dilakukan perawatan selanjutnya, dikarenakan RSPON masih belum bisa beroperasional 100%. Dan diceritakan bagaimana RSPON harus membeli makan siang untuk pasien pertamanya di kantin kantor Badan Narkotika Nasional (BNN) yang berlokasi bersebelahan dengan RSPON.

RSUI yang rencananya akan beroperasional pada November 2018 ini berlokasi di kota Depok dan akan berperan sebagai pengampu bagi rumah sakit dan puskesmas di wilayah kota Depok dan sekitarnya untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang terintegrasi. (Erlangga–Humas)

RSPON – sebagai rumah sakit pusat rujukan nasional dibidang persarafan dan dalam rangka menuju fungsi sebagai rumah sakit pendidikan, maka RSPON menerima mahasiswa yang akan Praktik Kerja Lapangan (PKL) dan juga karyawan/mahasiswa lainnya yang ingin magang di RSPON. Diantaranya RSPON menerima peserta PKL dari mahasiswa S1 dan S2 Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dan peserta magang dari Perawat pada Rumah Sakit Stroke Nasional Bukit Tinggi yang magang di bagian cathlab RSPON.

Sedangkan peserta PKL dari UMJ adalah mahasiswa yang PKL di ruang rawat inap RSPON. Sebagai standar operasional RSPON dan SNARS, maka seluruh peserta PKL dan magang wajib mengikuti orientasi yang diberikan oleh bagian Diklat RSPON. Orientasi tersebut adalah kegiatan berupa pengenalan terhadap institusi RSPON, mulai dari pengenalan Direksi, pejabat struktural, bahkan hingga pengenalan bagian-bagian gedung, lantai, dan fungsinya. Hal ini dilakukan agar seluruh peserta PKL dan magang bisa lebih optimal dalam menjalankan kegiatannya di RSPON, karena dengan mengenalnya maka peserta akan lebih mudah untuk beradaptasi dan mengenal untuk dapat merasa memiliki RSPON sehingga akan bisa menjalankan kegiatannya dengan sepenuh hati dan dapat saling memberikan manfaat.

Acara dilaksanakan pada Selasa, 9 Oktober 2018 bertempat di aula utama lantai 16 gedung B RSPON. Orientasi diikuti oleh 79 peserta, dengan didominasi oleh mahasiswa PKL dari UMJ sebanyak 72 orang. Dan sisa 2 orang adalah peserta magang perawat dari RSSN Bukit Tinggi.

Acara dibuka oleh Kepala Bagian Diklat Dra. Nura Ridhawati, M.Si. Dan dilanjutkan dengan pemberian orientasi berupa pengenalan seluruh RSPON secara umum oleh Kepala Bagian Administrasi Umum dr. Febindra Eka Widisana, MKM. Dan diikuti pengenalan dari Bidang Keperawatan di RSPON oleh MG. Eny Mulytasih, M.Kep, Sp.KMB selaku Kepala Bidang Keperawatan. Dan diikuti oleh pejabat lainnya yang akan berhubungan dengan peserta PKL dan magang. Seluruh peserta juga diikutkan dalam acara hospital tour sebagai bagian dari acara orientasi guna memperkenalkan peserta kepada RSPON secara langsung, setelah sebelumnya sudah diberikan pengenalan melalui teori. (Erlangga–Humas)

RSPON – Setelah 2 (dua) tahun berturut-turut RSPON selalu dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan pertandingan catur dalam rangka Hari Kesehatan Nasional (KHN). Maka, tahun ini adalah tahun ke-3 bagi RSPON untuk dipercaya kembali sebagai tuan rumah pertandingan catur dalam rangka HKN ke-54 pada 2018, dan RSPON berkolaborasi dengan Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) dan Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Jakarta. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya pertandingan ini akan dilaksanakan di Aula utama RSPON lantai 16 gedung B, yang telah diresmikan oleh Ibu Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek pada Agustus 2017, dengan daya tampung aula utama sebanyak 500 orang.

Pertandingan catur ini memiliki syarat khusus hanya untuk pegawai Kementerian Kesehatan pusat dan UPT di bawahnya yang dibuktikan dengan mensertakan kartu pegawai yang sah pada saat melakukan pendaftaran. Dan kartu pegawai tersebut juga harus dibawa pada saat melakukan pertandingan di lokasi. Danjangan lupa peserta juga harus registrasi ulang pada saat hari H mengikuti pertandingan. Selebihnya tidak ada persyaratan lain, selain tentu saja peserta harus menguasai cara bermain catur agar bisa mendapatkan predikat juara. Dan pendaftaran peserta dimulai pada 1 Oktober 2018.

Pertandingan ini akan dilaksanakan pada 5-7 November 2018, namun sebelumnya ada jadwal technical meeting yang harus diikuti oleh seluruh peserta, pada 31 Oktober 2018 langsung di ruang pelaksanaan pertandingan, Aula utama lantai 16, gedung B RSPON. sama seperti tahun sebelumnya dewan juri dalam pertandingan kali ini adalah juri dari Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI). Dan sistem yang digunakan dalam pertandingan catur ini adalah menggunakan sistem Swiss 6 babak dan pairing computer Swiss Manager. Untuk saat ini juara bertahan selalu didapatkan oleh RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) selama 2 tahun berturut-turut, apakah tahun ini RSCM akan merebut gelar juara kembali ataukah akan diambil oleh yang lainnya? Kita tunggu saja hasilnya pada November nanti.

Untuk keterangan lebih lanjut atau pendaftaran dapat menghubungi nomor whatsapp panitia antara lain Pelita (08129747761), David (085692060789), Yohana (081386603852).

RSPON – Kamis, 27 September 2018 telah dilakukan acara Pisah Sambut anggota Dewan Pengawas yang dimiliki oleh RSPON. Acara dilaksanakan di ruang rapat struktural lantai 15 gedung B RSPON. Acara dihadiri oleh jajaran Direksi RSPON diantaranya, Direktur Utama, Direktur Pelayanan, Direktur SDM dan Diklit, juga Direktur Keuangan dan Administrasi Umum. Disaksikan oleh Ketua Satuan Pengawas Internal (SPI) dan Ketua Komite Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP).

Dalam acara tersebut juga sekaligus dilakukan rapat Dewan Pengawas yang baru untuk pertama kalinya. Dengan sebelumnya didahului dengan acara pemberian souvenir dan ucapan terima kasih kepada Dewan Pengawas yang sudah tidak bertugas di RSPON lagi. Dewan Pengawas RSPON yang baru dilantik pada 21 September 2018, oleh Menteri Kesehatan sebagai berikut:

1. Ibu Maura Linda Sitanggang, Ap.t, Ph.D

2. Bapak Drs. Setyo Budi Hartono, M.M

3. Ibu dr. Ratna Rosita, M.P.H.

4. Bapak Parijono, SE., M.P.P., Ph.D

5. Ibu Dr. Purnama T. Sianturi, SH., M.Hum

Sedangkan Anggota Dewan Pengawas yang digantikan adalah Bapak Didyk Choiroel, S.Sos., M.M., M.Si. dan Bapak Dr. Nufransa Wira Sakti, S.Kom. M.Ec.
(Ditulis kembali:Erlangga–Humas)


RSPON – Kamis, 20 September 2018 sebagai wujud peduli dan bakti kepada masyrakat RS PON mengadakan penyuluhan dengan tema “Diet Pada Pasien Stroke” yang bertempat diruang tunggu poli rawat jalan lantai 2 RSPON, yang digagas oleh TIM PKRS RS PON.

Penyuluhan tersebut disampaikan oleh ahli gizi RS PON yaitu Tian Frastica Amd.Gz, dalam pemaparannya Sdri Tian menjelaskan beberapa hal seperti tujuan diet, syarat diet serta jenis diet untuk pasien stroke dibagi menjadi 2 yaitu Stroke I (Fase Akut) dan Stroke II (Fase Pemulihan).

Dalam pemaparan Sdri Tian memberikan penjelasan bahwa diet untuk pasien stroke tidak seperti diet pada umumnya ada hal-hal penting yang harus sangat diperhatikan seperti Lemak cukup, utamakan sumber lemak tidak jenuh ganda, Bentuk makanan disesuaikan dengan kondisi penderita dan yang hars diperhatikan yakni porsi makan kecil dan sering. Adapun diet yang diberikan kepada pasien stroke bertujuan untuk memberikan makanan yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien, memperbaiki keadaan stroke dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.

Penyuluhan terkait diet pasien stroke cukup penting mengingat RS PON merupakan Rumah Sakit Rujukan Nasional dibidang Otak dan persyarafan yang sebagian pasiennya menderita stroke serta untuk memberikan pemahaman dan berbagi pengalaman dengan keluarga pasien. Tak hanya itu, dalam penyuluhan tersebut diberikan contoh menu diet untuk stroke (Tabel I). (teguh-Humas)



RSPON – Dalam rangka pemberian edukasi kelompok, maka melalui tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSPON mengadakan kegiatan edukasi kepada masyarakat yang berkunjung ke RSPON. Baik itu pasien, keluarga pasien/pengantar, atau bahkan pengunjung yang sengaja datangpun boleh mengikuti kegiatan PKRS ini.

Kegiatan PKRS pada akhir Juli ini mengangkat tema “Pencegahan dan Perawatan Luka Tekan.” Acara dilaksanakan pada Senin, 30 Juli 2018, bertempat di ruang poliklinik rawat jalan lantai 2. Yang diikuti oleh banyak peserta yang sebagian besar adalah pasien dan/atau keluarganya. Materi disampaikan langsung oleh ahlinya dibidang luka tekan/dekubitus, yaitu dr. Beni Herlambang, Sp.BP-RE. Yang merupakan dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi dan estetika yang bertugas di RSPON.

Kenapa PKRS kali ini mengangkat tema Pencegahan dan Perawatan Luka Tekan, hal tersebut didasarkan pada banyaknya jumlah pasien RSPON yang sangat mungkin sekali untuk dapat mengalami luka tekan tersebut pada masa perawatannya. Baik itu pasien rawat jalan maupun rawat inap. Terutama untuk pasien stroke yang mengalami gangguan gerak atau yang sudah tidak bisa beraktifitas sama sekali/harus berbaring di kasur selamanya. Apalagi untuk pasien yang harus dirawat di ruang ICU membuat pasien rawan mengalami luka tekan, karena tidak adanya mobilitas dari tubuh pasien. Sehingga selama pasien dirawat di kasur, maka tubuh akan mengalami tekanan dengan kasur.

Luka tekan/dekubitus adalah kerusakan jaringan kulit dan di bawahnya yang diakibatkan oleh gangguan vaskularisasi dan iritasi kulit yang terdapat tulang yang menonjol, dimana kulit tersebut akan mendapat tekanan yang tinggi secara terus menerus (lebih dari 2 jam dalam satu posisi). Dijelaskan juga mengenai bagaimana peran keluarga untuk membantu pasien agar terhindar dari luka tekan/dekubitus tersebut.

Diantaranya bahwa pasien harus dimobilisasi setiap 2 jam sekali untuk berpindah posisi. Pemindahan pasien juga harus dengan cara yang benar, yaitu jangan sampai terjadi gesekan antara kulit dan tempat tidur/kursi roda. Dan sebaiknya untuk pasien diberikan kasur khusus antidekubitus. Dan jika pasien sudah menderita luka tekan, maka yang harus dilakukan adalah dengan kontrol ke poliklinik bedah plastik terdekat untuk konsultasi mengenai perawatan luka yang baik.

Sebagai bahan informasi untuk keluarga pasien agar dapat mengetahui apakah pasien yang dirawatnya terkena luka tekan dan berapa tingkat keparahannya, dapat dibedakan menjadi Derajat I dan II, juga derajat III dan derajat IV. Derajat I memiliki ciri kulit luar kemerahan, sedangkan untuk derajat II berciri kulit dan sebagian lemak terluka. Untuk derajat III berciri kulit dan seluruh ketebalan lemak terluka. Derajat IV bercirikan luka mengenai kulit, lemak, otot, dan sampai ke tulang, untuk derajat ke IV ini perawatannya adalah dengan operasi penutupan kulit. Sedangkan untuk derajat II dan III adalah dengan melakukan perawatan secara konservatif untuk mencegah jangan sampai meningkat ke derajat III dan IV.

Dalam PKRS tersebut pengunjung banyak sekali mengajukan pertanyaan kepada narasumber langsung, karena sebagian penanya adalah keluarga dari pasien yang terkena stroke dan sedang berobat di RSPON. (Erlangga–Humas)

RSPON – Pernahkah anda mendapatkan broadcast messenger/pesan berantai melalui aplikasi obrolan whatsapp (WA)/aplikasi obrolan lainnya, yang berbunyi seperti ini “sebagai info saja buat semua anggota group. Apabila ada teman atau kenalan atau keluarga terserang stroke, segera dibawa ke RS. Ada obat berupa cairan yang dimasukkan ke dalam tubuh (infus) namanya Trombolisis. Fungsinya “menjebol” blokade di bagian pembuluh darah yang tersumbat. Catatan penting: obat ini harus masuk ke dalam tubuh pasien maksimal 4 jam setelah kejadian (diatas 4 jam metode ini tidak bisa digunakan lagi). Salah satu RS yang bisa menangani ini adalah RS Pusat Otak Nasional (RSPON) di Cawang (persis sebelah BNN-Badan Narkotika Nasional). Fasilitas di sana sangat lengkap dan menerima pasien BPJS. RSPON adalah RS milik Pemerintah, bukan swasta. Contoh kasus yang terjadi: seorang pasien terkena stroke. Tangan kiri tidak dapat digerakkan. Pasien tiba di RSPON dini hari sekitar pukul 5 subuh. Setelah ditrombolisis pukul 8 sudah mulai dapat menggerakkan tangan kembali, setelah dirawat inap beberapa hari pasien sudah boleh pulang ke rumah dengan kondisi normal. Ingat, cairan trombolisis bisa digunakan HANYA maksimal 4 jam setelah kejadian/serangan stroke, tingkat keberhasilan trombolisis ini diatas 95%. Sangat bagus dibanding pasien harus menderita lumpuh berbulan-bulan dengan pemulihan yang jauh lebih lama, dan jauh lebih mahal. Informasi ini didapat dari bagian stroke di RSPON. Silahkan informasi ini dishare biar banyak orang terselamatkan, jangan panik segera antar ke RSPON. JANGAN DIHAPUS INFO INI PENTING. Dan ditambah dengan kutipan alamat website berita online mengenai peresmian RSPON”

Bagaimana kesan anda saat membaca pesan tersebut? Tentu kesan pertama yang timbul adalah bahwa ternyata stroke itu masih sangat bisa diobati dan ditangani dan bisa sembuh 100% dengan cairan yang bernama trombolisis. Dan, kesan kedua adalah bahwa nama RSPON akan semakin dikenal dan akan menjadi RS yang akan menjadi tujuan pasien/keluarga pasien untuk penyembuhan stroke? Hal ini tentu saja ada baik dan buruknya. Juga jika diperhatikan lebih lanjut hal ini bisa menjadi berita hoax yang menyesatkan, beredar luas, dan sulit untuk dimusnahkan. Yang bisa menyebabkan kerugian besar kepada masyarakat umum terutam kepada penerima pesan berantai tersebut.

Oleh karena itu kami pihak RSPON akan memberikan beberapa penjelasan yang valid mengenai pesan berantai tersebut. Pertama bahwa pesan berantai tersebut adalah bukan kiriman RSPON dari pihak manapun dalam manjemen RSPON. Kemudian, penjelasan mengenai penanganan stroke yang benar adalah sebagai berikut yang disampaikan oleh Tatalaksana terpadu hiperakut stroke melibatkan dokter spesialis saraf divisi stroke, spesialis saraf divisi neurointervensi, spesialis radiologi, spesialis bedah saraf, dan spesialis patologi klinik.

Dapat disampaikan bahwa stroke merupakan salah satu penyebab kecacatan dan kematian tertinggi di Indonesia berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2013. Stroke sering disebut sebagai serangan otak (brain attack), serangan ini terjadi akibat suplai oksigen dan nutrisi ke otak terganggu akibat pembuluh darah mengalami penyumbatan atau pecah. 80% pada pasien stroke merupakan tipe stroke sumbatan (stroke iskemik), baik berupa trombus ataupun embolus. 20% lainnya merupakan tipe stroke perdarahan (perdarahan intraserebral ataupun perdarahan subarachnoid).

Serangan otak ini timbul mendadak dan memberikan gejala berdasarkan lokasi pembuluh darah yang terganggu. Sebagian gejala ini mudah dikenali, dengan singkatan SEGERA Ke RS. Apa itu SEGERA Ke RS?

SE = SEnyum yang asimetris,

GE = anggota GErak seisi tubuh yang lemah dan timbul tiba-tiba,

RA = bicaRA tidak jelas atau terjadi pelo/cadel,

Ke = Kebas atau baal, kesemutan separuh badan,

R = Rabun, pandangan satu mata kabur yang terjadi tiba-tiba,

S = Sakit kepala hebat yang muncul tiba-tiba dan tidak pernah dirasakan sebelumnya. Gangguan fungsi keseimbangan, seperti terasa berputar, gerakan sulit dikoordinasi.

Jika seseorang mendapati gejala SEGERA Ke RS, maka sudah saatnya segera untuk membawa orang tersebut ke Rumah Sakit mana saja yang terdekat dengan lokasi keberadaan pasien.

Untuk soal kecepatan waktu dalam penanganan stroke memang sangat mempengaruhi besar/kecilnya kerusakan saraf yang akan terjadi. 2 juta sel saraf mati setiap menitnya pada pasien dengan stroke, mengakibatkan risiko kerusakan otak permanen, kecacatan, ataupun kematian. Kecepatan waktu penanganan merupakan aspek terpenting dalam manajemen stroke, waktu untuk penanganan stroke penting untuk menentukan jenis terapi yang tepat pada pasien.

Dan soal waktu tersebut, bagi RSPON waktu adalah Otak, sehingga RSPON memberikan pelayanan terpadu hiperakut stroke melalui pemberian obat penghancur bekuan darah (trombolisis) dalam waktu kurang dari 4,5 jam (dalam penanganan kasus stroke, hal ini dikenal dengan istilah golden period). Pada kasus stroke sumbatan diatas 4,5 - 6 jam, masih dapat dilakukan metode mekanikal trombektomi, yakni menggunakan alat khusus untuk menarik atau melepaskan sumbatan/bekuan dari pembuluh darah di otak tersebut. Evaluasi tindakan trombektomi dapat dimulai dari awal pemberian trombolisis melalui pemeriksaan monitor pembuluh darah otak yaitu transcranial doppler ataupun melalui pencitraan struktur otak melalui MRI otak dan angiography. Pada beberapa hasil studi, tindakan ini masih bisa dilakukan pada periode sumbatan 6 hingga 12 jam, akan tetapi pada prinsipnya semakin cepat ditangani (dibawah 6 jam), maka hasilnya akan lebih baik.

Deteksi dini gejala stroke yang dilakukan pada pasien, mempengaruhi tatalaksana terpadu hiperakut stroke sehingga kecacatan permanen ataupun kematian dapat dicegah sedini mungkin. Deteksi dini ini dapat dilakukan di RSPON dengan pemeriksaan Brain Check up (BCU) yang merupakan rangkaian pemeriksaan untuk mendeteksi dini adannya gangguan di otak dan pembuluh darah otak (seperti infark/kematian sel otak, aneurisma/pembengkakan pembuluh darah pada otak, tumor, dan lain-lain) sebagai upaya pencegahan berkembangnya penyakit otak lebih lanjut.

Demikian penjelasan valid seputar pelayanan pengobatan stroke pada RSPON, diharapkan dengan penjelasan ini dapat menghapus hoax/berita menyesatkan mengenai stroke dan RSPON, yang sudah beredar sejak 2014 tersebut. karena RSPON “melayani dengan mulia”.
(Ditulis kembal:Erlangga–Humas)

RSPON – Demi mengedukasi dan memperkenalkan salah satu layanan unggulan RSPON yang pertama kali ada di Indonesia yaitu layanan Neurorestorasi, yang merupakan layanan yang masuk dalam salah satu cabang neurologi (persarafan) yang mempelajari pemulihan sistem saraf yang rusak akibat adanya gangguan sistem saraf yang biasanya diakibatkan oleh serangan stroke.

Terkait hal tersebut, tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSPON mengadakan edukasi dan pengenalan layanan tersebut pada Kamis, 26 April 2018 berlokasi di ruang tunggu Poliklinik Eksekutif lantai 5 RSPON, dengan harapan dapat diikuti oleh banyak pengunjung RSPON, baik pasien maupun keluarganya. Bahkan, edukasi ini disasarkan pada keluarga pasien yang nantinya dapat menerapkan layanan tersebut untuk membantu memperbaiki kondisi pasien di rumah setelah selesai perawatan di RSPON.

Tujuan layanan Neurorestorasi ini adalah untuk mengembalikan kemampuan maksimal dan kemandirian pasien, yang disebabkan oleh kerusakan saraf. Secara umum layanan Neurorestorasi adalah suatu proses dinamis untuk membantu seorang individu mencapai kondisi fisik, emosi, psikologi, dan sosial yang optimal pasca gangguan persarafan untuk mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik.

Sasaran layanan ini memang ditujukan kepada keluarga atau care giver pasien/seseorang yang diberikan tanggung jawab untuk merawat pasien/sering berinteraksi dengan pasien. Karena, layanan ini diberikan berupa teori dan contoh-contohnya bagaimana membuat pasien mencapai kondisi fisik, emosi, psikologi, dan sosial yang optimal pasca gangguan persarafan. selain itu, didalamnya ada layanan rehabilitasi komprehensif, partisipasi, dan kolaborasi aktif dengan pasien. Yang melibatkan pasien dan keluarganya; fasilitasi kebutuhan dan persepsi pasien, dan memberikan informasi yang akurat dan realistis dengan edukasi.

Untuk bisa mendapatkan layanan ini, maka pasien harus mendapatkan rujukan terlebih dahulu dari dokter neurorestorasi di RSPON yang akan memeriksa pasien tersebut, apakah masuk dalam kriteria untuk dapat menerima layanan Neurorestorasi tersebut atau tidak. Kelas layanan ini tersedia mulai dari kelas 1 hingga kelas 3 dan ada juga layanan eksekutifnya, hanya saja layanan ini belum dijamin oleh BPJS Kesehatan.

Selain dokter Neurorestorasi yang berperan dalam layanan ini ada juga tim lain yang menunjang layanan tersebut. Seperti, tim fisoterapis untuk menterapi fungsi mobilitasnya, seperti mobilitas di tempat tidur, duduk, atau berdiri. Tim okupasi terapi yang berperan untuk mengembalikan fungsi aktivitas dasar sehari-hari (Activities of Daily Living/ADL) seperti mandi, berdandan, berpakaian. Tim terapi wicara untuk mengembalikan fungsi menelan, fungsi bicara, fungsi kognisi lainnya. Tim perawat untuk mengembalikan kemampuan pasien dalam mobilisasi, melakukan ADL dan edukasi perawatan pasien di rumah. Acara ini ditutup dengan contoh praktik langsung kepada pasien yang mengikuti acara tersebut dan tanya jawab dari pasien dengan narasumber utama yaitu Wilis Silda Tiana, S.Kep., Ners, selaku kepala ruangan poliklinik eksekutif RSPON.
(Erlangga–Humas)

RSPON – Saat ini anggapan masyarakat umum mengenai obat adalah bahwa semua obat diminum setelah makan sehingga perlu adanya edukasi tentang informasi waktu pemberian obatsehari-hari, karena penggunaan obat akan memberikan efek yang maksimal jika diminum secara teratur pada waktu yang tepat. Selain itu dibutuhkan kepatuhan dan kedisplinan dalam meminum obat sesuai dosis yang dianjurkan agar mencapai efek terapi yang maksimal.

Tepatnya hari Kamis (1/03/18) pada pagi hari, berlokasi di lobi ruang tunggu poliklinik eksekutif lantai 5 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, berlangsung penyuluhan dengan tema “Penggunaan Obat yang Efektif dan Aman oleh Rizka Dahliyanti, S.Si, APT dari Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Obat merupakan senyawa kimia yang memiliki aneka sifat dan efek. Untuk mendapatkan efek obat yang optimal maka obat harus diminum pada waktu yang tepat. Ketika masuk ke dalam saluran pencernaan (lambung), obat akan mengalami berbagai reaksi kimia yang dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya adalah pH (keasaman), reaksi komplek serta kelarutan. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi absorbsi/penyerapan obat di saluran cerna yang nantinya akan berpengaruh juga pada efek obat tersebut terhadap tubuh.

    Obat- obat yang sebaiknya dikonsumsi sebelum makan :
  1. Obat yang Terganggu Penyerapannya oleh Makanan Adalah obat yang apabila dikonsumsi bersama makanan maka penyerapannya akan menurun. Contohnya : Antibiotik eritromisin, tetrasiklin, golongan kuinolon (siprofloksasin, levofloksasin, ofloksasin), amoksisilin. Antibiotik ini dapat membentuk reaksi kompleks dengan logam (kalsium, magnesium, aluminium) yang terdapat pada makanan/susu/konsumsi obat maag (antasida) sehingga absorbsi obat tidak maksimal. Waktu yang tepat jika mengkonsumsi obat-obat ini adalah sebelum makan saat perut kosong atau 2 jam sesudah makan.
  2. Obat Anti Tuberculosis (OAT) : Isoniazid dan Rifampisin. OAT ini penyerapannya maksimal dalam kondisi perut kosong sehingga sebaiknya dikonsumsi sebelum makan atau saat perut kosong dengan segelas penuh air.
  3. Obat Anti Diabetes Obat anti diabetes yang dapat bekerja maksimal dalam keadaan perut kosong, misalnya golongan sulfoniluria (glimepiride, glibenklamid).
  4. Obat Anti Hipertensi Obat anti hipertensi yang sebaiknya dikonsumsi sebelum makan adalah golongan Ace Inhibitor (captopril, ramipril) karena penyerapannya terganggu oleh makanan.
    Obat- obat yang sebaiknya dikonsumsi sesudah makan :
  1. Obat anti epilepsy (OAE) misalnya : fenitoin, Depakote
  2. Obat anti hipertensi misalnya propranolol, amlodipin, candesartan
  3. 3. Obat anti diabetes misalnya metformin, acarbose (suapan pertama). Obat-obatan ini sebaiknya dikonsumsi sesudah makan atua bersama makanan.
  4. 4. Obat anti nyeri (analgesik) yang bersifat asam dapat memiliki efek samping mengiritasi lambung. Bagi penderita maag, obat ini semakin memperparah kondisi lambung sehingga sebaiknya konsumsi obat nyeri dilakukan sesudah makan
    Kapan waktu terbaik minum obat?
  1. Obat Anti Diabetes.
    Tubuh manusia paling sensitif terhadap insulin pada pukul 4-5 pagi (subuh) sehingga efeknya paling baik jika dikonsumsi saat itu. Obat Anti Diabetes golongan Sulfoniluria (Glibenklamid, Glimepirid) efeknya lebih maksimal jika dikonsumsi ½ - 1 jam sebelum sarapan (subuh)
  2. Obat Diuretik
    Obat diuretik adalah obat yang bekerja dengan cara mengekskresikan cairan dan mineral yang terdapat di dalam tubuh melalui urin. Jika pasien mengkonsumsi obat ini, maka frekuensi berkemihnya akan semakin sering. Obat diuretik ini paling baik digunakan pada pukul 07.00 pagi. Hal ini berkaitan dengan fungsi ginjal dan hemodinamik. Selain itu juga pada pagi hari umumnya kondisi pasien dalam kondisi terjaga sehingga tidak mengganggu jam tidur. Contoh obat diuretik : HCT, Furosemid.
  3. Obat Penurun Tekanan Darah
    Penelitian menunjukkan bahwa tekanan darah mencapai angka paling tinggi pada jam 9-11 pagi dan paling rendah pada malam hari setelah tidur. Sehingga waktu yang paling baik mengkonsumsi obat penurun tekanan darah adalah pada jam 9-11 pagi. Contoh obat penurun tekanan darah : amlodipine, kandesartan, captopril
  4. Obat Anti Asma
    Waktu terbaik untuk mengkonsumsi obat anti asma yaitu pada jam 3-4 sore karena penelitian menyebutkan bahwa pada saat ini produksi steroid tubuh berkurang dan dapat mencetuskan serangan asma pada malam hari. Dengan mengkonsumsi obat steroid di sore hari, diharapkan akan mencegah serangan asma pada malam harinya.
  5. Obat Anti Anemia
    Waktu terbaik untuk mengkonsumsi obat anti-anemia yaitu pada jam 8 malam. Penggunaan obat anemia seperti Fe glukonat atau Fe Sulfat dapat memberikan efek 3-4 kali lebih baik pada waktu tersebut daripada jika diberikan pada waktu siang hari.
  6. Obat Penurun Kolesterol
    Obat penurun kolesterol baiknya dikonsumsi pada jam 7-9 malam. Hal ini berdasarkan penelitian bahwa sintesis lipid/lemak meningkat di waktu tersebut sehingga efek yang didapat lebih maksimal.
  7. Suplemen dan Vitamin
    Suplemen dan vitamin sebaiknya dikonsumsi pada pagi hari karena akan membantu tubuh terasa segar saat beraktivitas.

Lakukan penggunaan obat secara bijak, dengan memperhatikan cara penggunaannya yang baik dan benar. Selamat melakukannya, sehat, sehat, selalu.
(Ratna Fitriasih– Humas)

RSPON – Untuk menyambut pelaksaan akreditasi seluruh tim pokja dan jajaran direksi mengikuti pelatihan SISMADAK yang dilaksanakan pada tanggal 26 Januari 2016. SISMADAK atau Sistem Dokumen Akreditasi adalah sebuah alat bantu elektronik dalam bentuk database untuk melakukan penyimpanan data bagi Rumah Sakit untuk mengumpulkan, menyimpan, dan mencari kembali dokumen bukti yang berhubungan dengan akreditasi serta dikelola oleh masing-masing rumah sakit sehingga menjamin kerahasian dokumen rumah sakit. (teguh-Humas).

RSPON – Dalam rangka Hari Gizi Nasional ke-58, pada 25 Januari 2018 RSPON dan Puskesmas Kecamatan Kramat Jati melakukan kegiatan bersama sebagai bentuk pengabdian masyarakat RSPON di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati. Tema HGN tahun 2018 adalah Membangun Gizi Menuju Bangsa Sehat Berprestasi : Mewujudkan Kemandirian Keluarga dalam 1000 Hari Pertama Kehidupan untuk Pencegahan Stunting.

Acara tersebut dihadiri oleh Direktur Utama RSPON, Plt. Kepala Puskesmas dan jajarannya, Sektretaris Camat, Kader PKK serta pasien poliklinik anak Puskesmas Kecamatan Kramat Jati. Acara dilaksanakan di area RPTRA Mustika Kelurahan Kramat Jati. Menurut Plt. Kepala Puskesmas, drg S Sholikhah Darmawie dalam pembukaan acara, menyatakan, bahwa tema HGN kali ini mengenai stunting saat penting karena menyangkut masa depan generasi bangsa. Pemantauan gizi akan dilakukan lebih ketat selama golden period perkembangan anak agar generasi penerus bangsa berkembang dengan optimal. Paparan dari Direktur Utama RSPON, pun sama menyatakan pentingnya monitoring status gizi pada balita, yang kedepannya bila balita memiliki status gizi kurang/buruk maka akan menyebabkan mudah terserang penyakit di masa dewasa seperti penyakit jantung, stroke dan lainnya. Sedangkan Drs R Anthon Widodo (Sekretaris Camat) menekankan bahwa sebagai kader dan pemerintah harus bersama sama untuk menghimbau masyarakat agar selalu peduli dengan kesehatan keluarga, berperan aktif dalam melaporkan ke Puskesmas bila di sekitarnya terdapat balita status gizi kurang/buruk, menjaga kebersihan lingkungan serta Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) digiatkan, agar kelak dapat mencetak calon generasi bangsa yang baik dan opitmal perkembangan kesehatannya. Dalam acara juga dilakukan launching Program KRUPUK (Keluarga Baru Pantau Gizi Buruk) serta KULI ASIK (Aku Peduli Layanan Giziku) dimana kedua program ini dikhususkan untuk pemantauan status gizi balita di wilayah Puskesmas Kecamatan Kramat Jati.

Dengan adanya kerja sama ini diharapkan pelayanan kedua belah pihak dapat berjalan dengan baik dan manfaatnya dapat dirasakan secara penuh oleh masyarakat. Sehingga kedua belah pihak bisa mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat selaku pengguna jasa. (Ratna–Humas)

RSPON – Januari 2018 RSPON resmi menerima Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sebanyak delapan belas (18) orang yang pendistribusiannya didapatkan langsung dari Kementerian Kesehatan. CPNS tersebut merupakan tenaga dibidang medis, terdiri atas 4 orang dokter spesialis yang dua (2) diantaranya adalah dokter yang sudah lama bergabung dengan RSPON sebagai tenaga non PNS, yaitu dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis jantung dan pembuluh darah. Sedangkan, dua spesialis lainnya adalah dokter yang baru bergabung dengan RSPON langsung sebagai CPNS, yaitu spesialis saraf dan spesialis bedah plastik.

Selain itu, ada juga tenaga khusus fisioterapis yang terdiri atas 4 orang dan sisanya sebanyak 10 orang adalah tenaga perawat pemula. Tambahan tenaga 18 orang CPNS tersebut, sangat berharga bagi RSPON, karena dengan ini diharapkan mampu meningkatkan pelayanan RSPON untuk menjadi lebih baik dan maksimal dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Agar dapat memberi wawasan dan gambaran terhadap RSPON, maka kepada CPNS tersebut diberikan orientasi CPNS di RSPON oleh bagian Diklat RSPON. Acara dilaksanakan pada Senin-Selasa, 8-9 Januari 2018, di ruang serbaguna Dendrit lantai 16 gedung B RSPON. Dalam acara orientasi tersebut, diberikan berbagai informasi dan pengetahuan seputar RSPON. Seperti, kebijakan RSPON yang dibawakan oleh Direktur Utama, mengenai pembayaran gaji, remunerasi, dan pajak oleh bagian keuangan. Dari SDM memberikan informasi mengenai hak dan kewajiban PNS, juga mengenai peraturan kedisiplinan PNS. Ada juga informasi mengenai pelayanan medis di RSPON yang dibawakan oleh Direktorat Pelayanan seperti kepala bidang medik dan komite mutu. Selain hal mendasar tersebut juga diberikan informasi dasar mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD), pencegahan infeksi, dan penggunaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) dalam menangani bencana kebakaran.

Peserta orientasi juga diberikan pengenalan terhadap fasilitas yang ada pada RSPON berupa hospital tour yang mengajak seluruh peserta untuk mengeksplorasi seluruh fasilitas dan bangunan yang ada di RSPON. Semua lantai dan ruangan yang ada di RSPON tidak luput dari penjelajahan hospital tour tersebut. Diakhir acara, keseluruhan peserta diberikan salinan asli Surat Keputusan (SK) Kementerian Kesehatan mengenai pengangkatan sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil. Dan, selanjutnya masing-masing kelompok peserta diserahkan ke Direktorat masing-masing yang akan menjadi tempat mereka untuk mengabdikan diri pada negara melalui RSPON.
-(Erlangga–Humas)

RSPON - Agar dapat mengimplementasikan amanat dari Undang-undang Nomor 8 tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang diantaranya adalah hak pelayanan publik dan hak kesehatan, khususnya bagi penyandang disabilitas rungu dan wicara maka RSPON menjajaki untuk bekerjasama dengan Panti Sosial Bina Rungu Wicara (PSBRW) Melati, dari Kementerian Sosial. Kerja sama ini berupa penyediaan tenaga ahli penerjemah dari PSBRW melati untuk datang ke RSPON saat ada pasien penyandang disabilitas rungu dan/atau wicara. Penerjemah ahli dan resmi dari Pemerintah ini nanti akan bertugas untuk menjembatani layanan yang diberikan oleh RSPON kepada pasien RSPON yang kesulitan untuk berkomunikasi tersebut. Dengan menerjemahkan apa yang akan disampaikan oleh petugas medis RSPON baik dokter, perawat, dan/atau petugas medis lainnya kepada pasien dan sebaliknya.

Selain amanat dari Undang-undang tersebut, penyediaan akses penerjemah bagi pasien RSPON penyandang disabilitas rungu wicara juga memang diamanatkan oleh Standar Nasional Akreditasi Rumah Sakit (SNARS). Yang memang diwajibkan harus ada di RSPON sebagai lembaga pelayanan publik khusus dibidang kesehatan. Berkaitan dengan keamanan pasien (patient safety) dalam hal komunikasi antara tim medis dan pasien harus dapat diterima dengan baik dan benar oleh kedua belah pihak. Hal ini dilakukan, agar dapat menghindari terjadinya kesalahpahaman baik dalam penyampaian informasi mengenai diagnosis, maupun tindakan selanjutnya.

Oleh karena itu, pada Rabu, 17 Januari 2018 RSPON berkunjung ke PSBRW Melati untuk menjajaki lebih lanjut mengenai proses kerja sama tersebut. Pihak RSPON diwakili oleh tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) beserta staf dan Kasubag TU dan Pelaporan beserta staf. Acara berlangsung di ruang rapat PSBRW yang cukup menarik, karena bersebelahan dengan galeri seni karya anak-anak penyandang rungu wicara binaan PSBRW Melati. Dalam kesempatan tersebut dihadiri juga oleh Kepala PSBRW Melati, penerjemah ahlinya, dan staf PSBRW Melati lainnya. Dan saat itu, berhasil dicapai kesepakatan untuk dapat dilanjutkan dan diproses perjanjian kerjasamanya.

Tujuan kerja sama ini dimaksudkan sebagai upaya untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi pasien penyandang disabilitas rungu wicara dan keluarganya yang juga penyandang disabilitas rungu wicara dalam menjalani perawatan rawat inap maupun rawat jalan di RSPON. Dan, pasien memperoleh informasi dan komunikasi yang mudah diakses serta mudah dipahami oleh pasien dan tenaga medis dalam memberikan pelayanan kesehatan. Nantinya, jika kerja sama ini sudah ditandatangani oleh kedua belah pihak maka setiap pasien penyandang disabilitas rungu wicara bisa mendapatkan bantuan penerjemah tersebut, dengan catatan bahwa sebelumnya harus melakukan permintaan terlebih dahulu kepada petugas kami.
-(Erlangga-Humas RSPON)

RSPON - Dalam rangka menjalin silaturahmi Dharma Wanita Ditjen Pelayanan Kesehatan mengunjungi RS PON dan memberikan bantuan berupa kursi roda. Acara yang berlangsung pada 16 Januari 2018 dihadiri oleh direksi RS PON, anggota Dharma Wanita RS PON beserta para tamu undangan. Tak lupa, tamu undangan diajak pada kegiatan hospital tour untuk lebih mengenal RS PON lebih jauh dan mengunjungi Tempat Penitipan Anak yang berada di RS PON sebagai bentuk komitmen pengembangan Dharma Wanita RS PON
-(Teguh-Humas RSPON)

RSPON-rapat koordinasi pembentukan zona integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi di lingkungan RS PON dengan Biro Hukormas Yankes.
-(Teguh-Humas RSPON)

RSPON - 8 januari 2018 RSPON dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk melakukan seremoni penandatanganan perjanjian kerja sama tentang Pengelolaan Keuangan Rumah Sakit Melalui Layanan Jasa Perbankan. Yang mana Bank Mandiri akan memberikan layanan jasa perbankan kepada RSPON. Layanan tersebut bersifat terintegrasi dan berbasis teknologi. Dalam acara tersebut dihadiri oleh Direktur Utama RSPON dan jajaran Direksi lainnya serta staf pendukung lainnya di RSPON. Sedangkan dari Bank Mandiri dihadiri oleh Direktur Kelembagaan beserta jajaran lainnya yang berkaitan dengan kerja sama tersebut. Acara dilaksanakan di Aula utama RSPON lantai 16 yang juga dihadiri oleh wartawan dari berbagai media.

Menurut Direktur Kelembagaan Mandiri (Kartini Sally) menyatakan, bahwa layanan perbankan yang diberikan oleh Mandiri berupa penyediaan data keuangan yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan guna mendukung kepentingan pelayanan yang membutuhkan kontinuitas, aksesibilitas, efektivitas, dan akuntabilitas di RSPON. Dalam kerja sama ini RSPON akan memanfaatkan sistem perbankan yang dimiliki oleh Mandiri yaitu Mandiri Hospital Applications (MHAs) yang telah terintegrasi dengan sistem TI RSPON dalam pengelolaan keuangan, baik proses penerimaan pendapatan dengan virtual account, pemanfaatan likuiditas dengan sistem cash management, maupun pemanfaatan sistem pembayaran dengan payroll system.

Selain kerja sama dalam hal layanan perbankan, Mandiri juga akan menyediakan kartu pegawai yang dapat berfungsi sebagai kartu absensi dan kartu e-money untuk memudahkan karyawan dalam mencatatkan kehadirannya dalam sistem absensi di RSPON dan dalam transaksi non tunai, yang saat ini memang sedang digencarkan oleh Pemerintah untuk gerakan pembayaran non tunai.

Dengan demikian, diharapakan dengan adanya kerja sama ini maka pelayanan kedua belah pihak dapat berjalan dengan baik dan manfaatnya dapat dirasakan secara penuh oleh masyarakat. Sehingga kedua belah pihak dapat mendapatkan kepercayaan penuh dari masyarakat selaku pengguna jasa.
-(Erlangga-Humas RSPON)

RSPON - Bertempat di Aula lantai 16 Gedung B Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Senin tanggal 13 November 2017, dilakukan serah terima jabatan Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian yang baru dari Plt. Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian Dr.dr Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS yang merangkap sebagai Direktur Pelayanan kepada dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS, pejabat Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Pusat Otak Nasional yang baru, berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor : KP.03.03/Menkes/513/2017 tanggal 24 Oktober 2017. Serah terima jabatan ini disaksikan langsung oleh Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS, Direktur Keuangan dan Administrasi Umum Drs. Syamsuri, MM, M.Ak, Kepala Bagian, Kepala Bidang, Kepala Instalasi, serta pejabat struktural lainnya.

Selain penandatanganan berita serah terima jabatan, dilakukan juga penandatanganan pakta integritas sebagai Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian. Dalam pidato sambutan Direktur Utama, disampaikan rasa terima kasih kepada Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS yang selama 3 bulan telah bekerja dengan sangat baik sebagai Plt. Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian sekaligus merangkap sebagai Direktur Pelayanan. Dan disampaikan pula ucapan selamat kepada dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS yang telah terpilih sebagai Direktur SDM, Pendidikan, dan Penelitian yang baru, setelah melalui rangkaian tes dan wawancaran dalam lelang jabatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI.

Dengan terpilihnya dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS sebagai Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Pusat Otak Nasional yang baru, diharapkan mampu membawa Rumah Sakit Pusat Otak Nansional menjadi lebih maju, dan menjadi rujukan dibidang Otak dan Persarafan untuk pendidikan dan penelitian.

Serah Terima Jabatan Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSPON dari Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K)< MARS ke dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS (13/11/2017)



Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian yang baru dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS dengan Plt. Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S, MARS yang merangkap sebagai Direktur Pelayanan, sesaat sebelum avara serah terima dimulai (13/11/2017)



Penandatanganan Berita acara serah terima jabatan dari . Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S, MARS ke Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian yang baru dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS disaksikan direktur Utama, dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS



Serah terima berita acara dari . Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S, MARS ke Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian yang baru dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS (13/11/2017)



Direktur Utama dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS memberi ucapan selamat kepada Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian yang baru dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS (13/11/2017)



Ucapan terima kasih juga disampaikan Direktur Utama dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS kepada Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S, MARS yang telah melaksanakan tugasnya dengan baik sebagai Plt Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian (13/11/2017)



Sambutan Direktur Utama dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS dalam acara serah terima jabatan Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (13/11/2017)



Foto bersama jajaran direksi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Kiri-kanan Direktur Pelayanan Dr. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS, Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian yang baru dr. Adin Nulkhasanah, Sp.S, MARS, Direktur Utama dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS, Direktur Keuangan dan Administrasi Umum Drs. Syamsuri, MM, M.Ak (13/11/2017)


-Ruly Irawan-Humas-

RSPON - Kabar gembira diterima tim Buletin Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dari Panitia Lomba Hari Kesehatan Nasional Ke-53, bahwa Buletin Rumah Sakit Pusat Otak Nasional edisi V Agustus 2017 berhasil meraih juara ke-3 Kompetisi Terbitan Berkala Internal Kementerian Kesehatan RI Tahun 2017 kriteria Buletin. Bertempat di Panggung Utama Pameran Kesehatan HKN ke-53 Hall C3 JIEXPO Kemayoran tanggal 11 November 2017, dilakukan seremonial pemberian hadiah kepada para pemenang lomba yang diserahkan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan mewakili Ibu Menteri.

Seremonial penerimaan penghargaan pemenang, dibuka oleh MC, disusul senam peregangan dan tari saman yang dibawakan oleh Dharma Wanita Kementerian Kesehatan RI. Yang selanjutnya dilakukan Penyerahan Penghargaan untuk para pememang dari berbagai kategori lomba; Penghargaan Individu Yang Mengembangkan Sistem Rujukan Terintegrasi ; Penyerahan Penghargaan Asuhan Mandiri Kesehatan Tradisional; Penghargaan Kepada Puskesmas Terakreditasi Paripurna Dengan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien Terbaik; Penghargaan FKTP Berprestasi; Penghargaan Green Hospital; Penghargaan Bidang Kearsipan; Penghargaan Anugerah Situs Inspirasi Sehat; Penghargaan Kompetisi Terbitan Berkala; Penghargaan Pustakawan Terbaik; Penghargaan Pengelola Anggaran Terbaik; Penghargaan Kepada Institusi Yang Berperan Aktif dalam Penyelenggaraan Deteksi Dini Kanker Serviks dan Payudara.

Pada Kategori Terbitan Berkala Internal Kemenkes RI tahun 2017 kriteria Buletin, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional berhasil meraih posisi ke-3 terbaik, dengan menyisihkan berbagai buletin terbitan unit lain di Kementerian Kesehatan RI. Adapun juara 2 kriteria buletin diraih Konsil edisi 17 / Th IV Maret-April 2017 milik Konsil Kedokteran Indonesia ; dan Juara 1 diraih Barigas edisi 1 tahun 2017 KKP Kelas III Palangkaraya. Adapun pada Kompetisi Terbitan Berkala Internal Kemenkes RI tahun 2017 kategori Majalah, Juara 3 diraih BPPSDM Kesehatan RI untuk majalah SDM Kesehatan Edisi Februari 2017; Juara 2 diraih RSUP Dr Hasan Sadikin Bandung untuk majalah Sauyunan volume 12 Januari-April 2017; dan Juara 1 diraih Balai Penelitian dan Pengembangan Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (BP2GAKI)-Magelang untuk majalah IODIKES edisi 3 Juni 2017. Adapun jumlah total Majalah dan Buletin yang dinilai oleh Dewan Juri berjumlah 58 Majalah/Buletin.

Hadir dalam penerimaan penghargaan, Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr. Mursyd Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS. Penghargaan diserahkan langsung oleh Bapak Sekretaris Jenderal (Setjen) dr Untung Suseno Sutarjo, M.Kes. Dengan mendapat apresiasi penghargaan ini, menjadi penyemangat bagi Tim Redaksi Buletin Rumah Sakit Pusat Otak Nasional untuk terus berinovasi dalam menyajikan liputan,baik berita maupun gambar/foto, sehingga Buletin Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dapat menjadi yang terdepan dalam menyajikan berita aktual mengenai kesehatan pada umumnya, otak dan persarafan pada khususnya.

Panggung Utama Penghargaan Hari Kesehatan Nasional Ke-53 di Hall C3 JIEXPO Kemayoran (11/11/2017)



Bapak Sekretaris Jenderal (Setjen) dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes menyerakan penghargaan kepada Bapak Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS sebagai Juara 3 Kompetisi Terbitan Berkala Internal Kementerian Kesehatan RI Tahun 2017 kriteria Buletin (11/11/2017)



Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS bersama dengan para pemenang lainnya, berfoto bersama dengan Bapak Sekretaris Jenderal (SETJEN) dr. Untung Suseno Sutarjo, M.Kes dan Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat drg. Oscar Primadi, MPH (11/11/2017)


-Ruly Irawan-Humas-

Dalam rangka menangani dan mengevaluasi berbagai kasus penyakit baru dan sulit terkait neurologi sains yang dialami oleh pasien, dokter-dokter di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional rutin mengadakan pertemuan setiap hari Rabu jam 8.30 bertempat di Ruang pertemuan dokter lantai 14 gedung B Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Didalam pertemuan tersebut dibahas berbagai macam penyakit baru dan sulit, yang dihadapai oleh dokter-dokter, sehingga dapat dievaluasi bersama, dan menambah pengetahuan terkait neurosains. Pertemuan tersebut dihadiri oleh dokter-dokter lintas disiplin ilmu, seperti Dokter Saraf, Dokter Bedah Saraf, Dokter Anastesi, Dokter Radiologi, Dokter THT, Dokter Patologi Klinik, Dokter Jantung, Dokter Penyakit Dalam, hingga Psikolog.
-(Ruly-Humas RSPON)

RSPON –Masih dalam rangka hari stroke sedunia 2017 yang selalu diperingati setiap 29 Oktober, Himpunan Perawat Neurosains Indonesia (HIPENI) bekerja sama dengan RSPON mengadakan kegiatan bakti sosial berupa edukasi atau kampanye kesadaran diri mengenai stroke. Kegiatan yang diberi judul “stroke awareness campaign” ini diadakan pada Sabtu, 4 November 2017 bertempat di food station, food court area, Plaza Kalibata, Jakarta Selatan..

Acara kampanye ini diisi dengan 2 kegiatan yaitu mini talkshow dan kegiatan pemeriksaan dini risiko stroke untuk masyarakat awam yang berkunjung ke Plaza Kalibata, maupun orang-orang yang memang khusus diundang untuk mengikutinya. Jumlah Peserta yang mengikuti pemeriksaan dini sekaligus talkshow tersebut sekitar kurang lebih 150 orang. Baik usia muda produktif maupun usia senja yang sudah tidak aktif bekerja lagi.

Pemeriksaan dini risiko stroke yang dilakukan berupa pemeriksaan tekanan darah, gula darah, kolesterol, dan Indeks Massa tubuh (IMT). Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah selain sebagai bentuk pengabdian HIPENI kepada masyarakat juga adalah untuk memperoleh gambaran risiko stroke melalui pemeriksaan dini risiko stroke dan meningkatkan pemahaman masyarakat awam di wilayah perkotaan tentang pencegahan stroke sedini mungkin. Dimana stroke menjadi penyebab kematian tertinggi ke-3 di Indonesia untuk kategori penyakit tidak menular.

Talkshow menyajikan 2 pembicara yang ahli dibidang persarafan, seperti dr. Zicky Yombana, Sp.S yang membawakan tema “mengenal lebih dekat penyakit stroke.” dr. Zicky mengungkapkan banyaknya mitos yang beredar di masyarakat mengenai penyakit stroke, seperti jika ada orang yang terserang stroke apakah benar bisa disembuhkan dengan menusuk-nusuk jarum hingga keluar darahnya pada ujung-ujung jari, yang ternyata itu adalah mitos yang salah besar. Karena diungkapkan bahwa bagaimana jika penderita stroke tersebut memiliki penyakit gula? Justru akan membuat penderita memiliki luka terbuka yang sulit diobati.

Pembicara kedua adalah dokter spesialis saraf dari RS PON yang baru saja kembali dari pendidikannya di London, dr. Indah Aprianti Putri, Sp.S. tema yang dibawakannya adalah “mencegah stroke dengan pola hidup sehat.” dr. Indah mengungkapkan bahwa betapa pentingnya untuk mulai mengatur pola hidup sehat melalui makanan yang sehat dan aktifitas sehari-hari yang harus diisi dengan olahraga minimal 30 menit sehari dan dilakukan 3 kali dalam 1 minggu, yang sesuai dengan anjuran dari WHO. Makanan yang sehat adalah makanan yang dapat dihitung jumlah kalorinya, jumlah garamnya, jumlah lemaknya. Dan dr. Indah menyatakan bahwa jika di negara modern aturan makan sehat tersebut didukung oleh pemerintah setempat. Dengan mengeluarkan peraturan bagi penyedia makanan seperti foodcourt untuk mengatur rasa pada makanannya agar tidak tinggi gula dan garam, dan lain sebagainya.

Kegiatan kampanye ini berjalan dengan sukses dan menarik. Dengan banyaknya peserta talkshow yang aktif bertanya, menceritakan pengalamannya, dan berbagi informasi mengenai mitos-mitos yang beredar di masyarakat semakin membuat daya tarik tersendiri, sehingga acara ini berjalan dengan baik dan lancar.
-Erlangga-Humas RSPON

RSPON - Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan nasional ke-53, Kementerian Kesehatan menyelenggarakan berbagai rangkaian kegiatan, seperti pertandingan, pameran, dan lain sebagainya. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional ditunjuk Panitia HKN ke-53 Kementerian Kesehatan, untuk menjadi tuan rumah pertandingan catur. Pada tanggal 01-02 November 2017, Bertempat di Aula lantai 16 Gedung B Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, diadakan turnamen catur yang diikuti 23 team, dari berbagai instansi/UPT di Kementerian Kesehatan maupun Rumah Sakit Pemerintah Daerah. Pada turnamen ini, Panitia Rumah Sakit Pusat Otak Nansional bekerjasama dengan Persatuan Catur Seluruh Indonesia (PERCASI) cabang DKI Jakarta.

Pada Rabu 01 November 2017, Pertandingan resmi dibuka oleh Direktur Keuangan dan Administrasi Umum Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Bapak Drs Syamsuri, MM, M.Ak yang mewakili Direktur Utama. Turut hadir pada pembukaan Direktur Pelayanan Bapak Dr.dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS. Sebagai ajang pemanasan sebelum Tim bertanding, diadakan pertandingan eksibisi antara perwakilan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), yang dimenangkan oleh RSCM.

Pertandingan Catur Hari Kesehatan Nasional ke-53 ini menggunakan sistem Swiss 6 babak, dengan Tournament Director Bapak Drs. H. Hendry Jamal’s MN, INS, FI, IO, Chief Arbiter Bapak Syaiful Hidayat, MN, WN, PN dan Arbiter Bapak Hendra WN dari PERCASI DKI Jakarta. Tim yang ikut turnamen ini yaitu : RSCM A, B dan C, RS Fatmawati, RS Persahabatan, RS Soeharto Herdjan, RS Dharmais A dan B, RS Budhi Asih A dan B, RS Marzoeki Mahdi A dan B, RS Hasan Sadiki A dan B, Kesmas, Balitbangkes A, B dan C, RS Soeroyo Magelang, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional A dan B, Pusdatin dan ITJEN.

Turnamen terselenggara selama 2 hari, dengan hasil akhir pertandingan; keluar sebagai juara ketiga yaitu Tim Rumah Sakit Soeharto Herdjan, Juara 2 Tim Rumah Sakit Fatmawati dan Juara1 Tim A Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Secara simbolis penyerahan hadiah kepada para Juara dilakukan oleh Kepala Bagian Administrasi Umum, dr. Febindra Eka Widisana, MKM mewakili Direktur Keuangan dan Administrasi Umum Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Selain pengumuman pemenang, panitia lomba catur juga membagikan hadiah Doorprize kepada peserta yang beruntung. Selamat kepada Juara lomba Catur HKN ke 53 tim dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, sekaligus juara bertahan HKN ke-52. Selamat juga untuk para peserta yang beruntung mendapatkan hadiah Doorprize dari panitia lomba catur Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Sampai berjumpa kembali di lomba catur HKN ke-54, Salam Sehat Selalu

Direktur Keuangan dan Administrasi Umum, Bapak Drs Syamsuri, MM, M.Ak mewakili Direktur Utama memberikan sambutan sekaligus membuka pertandingan catur dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional Ke 53 di Aula lantai 16 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (01 November 2017)



Direktur Keuangan dan Administrasi Umum Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Bapak Drs Syamsuri, MM, M.Ak secara simbolis membuka langkah pertama catur, di dampingi Direktur Pelayanan Bapak Dr.dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS, serta perwakilan PERCASI DKI Bapak JAKARTA Drs. H. Hendry Jamal’s MN, INS, FI, IO selaku Tournament Director (Jas) dan Bapak Syaiful Hidayat, MN, WN, PN selaku Chief Arbiter (Jaket)



Direktur Keuangan dan Administrasi Umum Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Bapak Drs Syamsuri, MM, M.Ak bersama Direktur Pelayanan Bapak Dr.dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS, PERCASI DKI Bapak JAKARTA Drs. H. Hendry Jamal’s MN, INS, FI, IO dan Bapak Syaiful Hidayat, MN, WN, PN menyaksikan pertandingan eksibisi antara perwakilan dari Rumah Sakit Pusat Otak Nansional (kiri) dengan perwakilan dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) (01/10/2017)



Tournament Director dari PERCASI DKI JAKARTA bapak Drs. H. Hendry Jamal’s MN, INS, FI, IO dan Chief Arbiter Bapak Syaiful Hidayat, MN, WN, PN menjelaskan tata cara dan aturan main catur kepada peserta, dengan menggunakan sistem Swiss 6 babak.



Perwakilan Team Rumah Sakit Pusat Otak Nansional 1 bertanding dengan serius melawan perwakilan dari Team A Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (01-02 November 2017)



Turnamen Catur dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke 53 ini diikuti oleh 23 tim (01-02 November 2017)



Panitia Penyelenggara Rumah Sakit Pusat Otak Nasnional menyediakan Doorprize bagi peserta yang beruntung



Pengumuman Pemenang disampaikan langsung oleh Tournament Director dari PERCASI DKI JAKARTA bapak Drs. H. Hendry Jamal’s MN, INS, FI, IO dengan hasil keluar sebagai juara 3 yaitu Tim Rumah Sakit Soeharto Herdjan, Juara 2 Tim Rumah Sakit Fatmawati dan Juara1 Tim A Rumah Sakit Ciptomangunkusumo



Kepala Bagian Administrasi Umum Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Bapak dr. H. Febindra Eka Widisana, MKM menutup pertandingan Catur dalam rangka Hari Kesehatan Nasinal ke 53.



Kepala Bagian Administrasi Umum Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Bapak dr. H. Febindra Eka Widisana, MKM berfoto bersama perwakilan Juara 1 Tim A Rumah Sakit Cipto Mangungkusumo, Juara 2 Tim Fatmawati, Juara 3 Tim Rumah Sakit Soeharto Herdjan, serta Tournament Director dari PERCASI DKI JAKARTA bapak Drs. H. Hendry Jamal’s MN, INS, FI, IO dan Chief Arbiter Bapak Syaiful Hidayat MN, WN, PN (02 November 2017)



Foto bersama Panitia Turnamen Catur dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Tim A dan B Rumah Sakit Pusat Otak Nansional beserta Tournament Director dari PERCASI DKI JAKARTA bapak Drs. H. Hendry Jamal’s MN, INS, FI, IO (Berjas) dan Chief Arbiter Bapak Syaiful Hidayat MN, WN, PN (paling kanan) (02/10/2017)


-Ruly Irawan-Humas-


Dalam Rangka memperingati hari Stroke Sedunia 2017, Tim Promosi Kesehatan bekerjasama dengan Perawat Stroke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional melakukan sosialisasi penanganan pasien stroke di rumah (fase pemulihan) kepada pasien/keluarga pasien (25/10/2017)



Bertempat di lantai 7A, Perawat Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menyampaikan penanganan pasien stroke di rumah (fase pemulihan) kepada pasien/keluarga pasien (25/10/2017)



Tidak hanya teori, diperagakan juga praktik penangan pasien stroke, agar keluarga yang merawat pasien stroke dapat mengaplikasikan dirumah.



Peserta antusias menyaksikan peragaan penanganan pasien stroke di rumah



Disampaikan pula oleh perawat tips perlakuan pasien stroke agar pasien tetap aman dan nyaman selama proses perawatan dirumah



Tidak hanya merawat, perawat juga mengajarkan cara melatih pasien stroke seperti menekuk atau meluruskan jari-jari



Tim Promosi Kesehatan bersama Perawat Rumah Sakit Pusat Otak Nasional


-Erlangga-Humas RSPON

Berita Foto Hut ke 57 Direktur Keuangan Dan Administrasi Umum Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Drs. SYAMSURI, MM, M.AK
-(Ruly-Humas RSPON)

Dalam Rangka Peringatan Hari Stroke Sedunia yang jatuh pada tanggal 29 Oktober, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menyelenggarakan pelaksanaan salah satu program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) yaitu pengabdian masyarakat di Lingkungan Sekitar Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (Cawang), diisi dengan kegiatan : 1. Pemeriksaan Deteksi Dini Risiko Stroke ; 2. Penyuluhan Tentang Pencegahaan Stroke.


-(Ruly-Humas RSPON)

RSPON – Rumah Sakit Pusat Otak Nasional merupakan rumah sakit pusat rujukan nasional khusus otak dan sistem persarafan tipe A milik Kementerian Kesehatan yang menyelenggarakan upaya pencegahan, penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan dengan upaya peningkatan kesehatan lainnya. Sebagai Rumah Sakit rujukan yang terdepan dibidang otak dan persarafan, Rumah Sakit Pusat Otak nasional dapat dimanfaatkan sebagai rumah sakit pendidikan afiliasi dibidang Neurologi dan Bedah Saraf.

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional yang memiliki peran sebagai Rumah Sakit Pendidikan, pada Rabu, 25 Oktober 2017, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan Universitas Sumatera Utara menandatangani kerjasama dalam hal sebagai rumah sakit khusus dengan unggulan pelayanan kedokteran dan kesehatan dibidang otak dan persarafan yang digunakan oleh institusi pendidikan untuk memenuhi kurikulum mencapai kompetensi spesialis. Penadatangan MOU tersebut dilakukan langsung oleh Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K) di Ruang Direktur Utama. Hadir dalam penandatangan tersebut Direktur Keuangan dan Administrasi Umum, Direktur Pelayanan dan Pejabat lainnya.

Melalui kerjasama ini, diharapkan kedua belah pihak sesuai fungsi dan perannya memberikan peraturan umum dan arahan untuk pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di bidang ilmu Neurologi dan Bedah Saraf.


-(Ruly-Humas RSPON)

RSPON – Cervical Radiculopathy atau servikal radikulopati adalah penyakit yang disebabkan oleh saraf yang terjepit (tertekan) pada tulang belakang. Yang dapat menyebabkan nyeri, mati rasa, kesemutan, atau kelemahan sepanjang jalur saraf. Bagian servik (leher) pada tulang belakang memiliki tujuh ruas tulang, dimana akar saraf ke-7 (60%) dan ke-6 (25%) adalah yang paling rentan. Gejala dari penyakit ini adalah nyeri leher yang menyebar ke bahu, lengan atas atau lengan bawah, dan kelemahan atau spasme otot. Juga disertai gangguan motorik serta nyeri pada tulang belakang..

Dari data diketahui bahwa 34% dari populasi didapatkan radikulopati servikal dan hampir 14% mengalami nyeri lebih dari 6 bulan. Oleh karena itu, diperlukan adanya penanganan fisioterapi setelah diberikan penanganan dari dokter saraf. Fisioterapi adalah sebagai salah satu komponen penyelenggaraan kesehatan yang dapat berperan aktif dalam usaha mengurangi nyeri, mengurangi spasme (kesemutan/mati rasa), meningkatkan lingkup gerak sendi dan mengembalikan kemampuan fungsional aktivitas pasien guna meningkatkan kualitas hidup.

Mengingat radikulopati servikal menimbulkan gejala nyeri yang tidak terlokalisasi dengan baik dan masih menjadi masalah yang krusial dalam kesehatan, khususnya neurologi. Untuk itu, Fisioterapis RS PON menggandeng Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) sebagai pemberi Satuan Kredit Profesi (SKP), mengadakan seminar dan workshop fisioterapi mengenai “Manual Therapy For Cervical Radiculopathy.” Yang dilaksanakan pada Minggu, 10 September 2017 bertempat di aula utama gedung B RS PON.

Acara diikuti oleh 60 fisioterapis rumah sakit yang berasal dari Jabodetabek dan Bandung. Bahkan, panitia sempat menolak untuk menambah jumlah peserta karena peminatnya sangat banyak. Seminar ini membeberkan bagaimana memahami manajemen fisioterapi yang baik dan benar dalam asesmen, diagnosis, dan pemberian terapi manual untuk mengurangi keluhan pada kasus radikulopati servikal. Selain itu, juga diberikan materi dan praktik langsung oleh pakarnya, bagaimana menangani penyakit tersebut secara langsung.

Seminar ini diisi oleh 2 (dua) narasumber yang berkompeten dibidangnya. Yaitu, dr. Kemal Imran, Sp.S, MARS yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Medik dan aktif sebagai dokter spesialis saraf di RS PON. Dan, sebagai pembicara utama adalah Sugijanto, Dipl.PT, S.FT., M.Fis sebagai fisioterapis ahli di bidang radikulopati servikal. Yang saat ini aktif sebagai dosen di fakultas fisioterapi Universitas Esa Unggul, Jakarta, dan menempuh pendidikan Magister Fisiologi Olah Raga Konsentrasi Fisioterapi, pada Universitas Udayana, Bali. Saat ini juga beliau masih aktif sebagai praktisi fisioterapi dan anggota kolegium IFI.


-(Erlangga-Humas RSPON)

RSPON – Sebagai Rumah Sakit yang telah berdiri 3 tahun yang lalu dan sebagai rumah sakit rujukan nasional tipe A, mempunyai fungsi memberikan pelayanan kepada pasien kasus otak dan persarafan. Peranannya adalah sebagai RS yang memberikan pelayanan pengobatan kasus Neurologi dengan teknologi radiologi mutakhir, khususnya alat radiologi MRI 3 tesla yang dimiliki oleh RS PON. Hal ini sebagai penunjang diagnosis pada kasus Neurologi dan Neurosurgery. Dalam kesempatan ini, telah dilaksanakan 2 (dua) simposium dengan tema yang berbeda. Diantaranya simposium “Meet the expert: Clinical, Radiology, Surgery Update in Neurology Cases” yang diperuntukan bagi dokter spesialis, khsusunya spesialis saraf, bedah saraf, juga dokter spesialis radiologi yang ada di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan, simposium yang kedua mengangkat tema “MRI In Neuro Imaging : Essential Role and Advance Application” untuk para radiografer. Yang mana dalam simposium tersebut diisi pula dengan workshop bagi para radiografer yang ada di wilayah DKI Jakarta.

Simposium ini memperkenalkan keberadaan RS PON sebagai rumah sakit yang dikhususkan untuk pelayanan di bidang otak dan persarafan. Sekaligus, memperkenalkan teknologi radiologi yang ada di RS PON untuk dokter spesialis dan radiografer. Yang mana tidak semua rumah sakit di Jakarta, bahkan daerah lain memiliki fasilitas ini, yaitu MRI 3 Tesla.

Selain itu simposium terselenggara dalam rangka peringatan ulang tahun ke-3 RS PON. Dalam simposium tersebut, diisi oleh para pembicara yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya. Seperti, dokter spesialis saraf, dokter spesialis radiologi, dokter spesialis bedah saraf yang bertaraf nasional dan berstatus sebagai dokter senior/konsultan. Salah satunya ada Profesor dr. Yusuf Misbach, Sp.S (K), FAAN. dr. Lyna Soertidewi K, Sp.S (K), M.Epid, dr. Abrar Arham, Sp.BS, dr. Melita, Sp.Rad (K), juga dokter lain yang memiliki kompetensinya masing-masing.

Selain itu, narasumber dalam simposium dan workshop untuk radiografer diisi selain oleh dokter juga oleh radiografer senior, seperti Ni Ketut Sutariningsih, S.ST. Purwantoro, AMR dan Wahyu Widhianto, serta pengurus pusat Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI).

Simposium dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu, 15 dan 16 Juli 2017. Acara telah berjalan dengan sukses dan lancar dengan antusiasme peserta yang tinggi. Sehingga, tidak heran dalam acara tersebut banyak interaksi yang muncul berupa tanya jawab dari pembicara dan peserta.


-(Erlangga-Humas RSPON)

RSPON – Rumah Sakit Pusat Otak Nasional terus berbenah memperbaiki semua sarana penunjang yang akan memberikan dampak positif terhadap pelayanan kepada publik, khususnya pasien RS PON. Salah satu perubahannya adalah memfasilitasi operasional manajemen Rumah Sakit yang ada di gedung B. Dan, purna pemanfaatannya resmi dilakukan dengan penadatanganan prasasti oleh Menteri Kesehatan pada 15 Agustus 2017 yang lalu.

Gedung yang baru saja diresmikan ini dibangun untuk mengakomodasikan pelayanan kepada semua stake holder yang ada di RS PON. Oleh karena itu, dalam gedung B tersebut banyak ruang yang difungsikan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan RS PON. Seperti, gedung parkir yang terdiri dari 10 lantai, rumah singgah bagi keluarga pasien luar kota dan tempat menginap bagi dokter RSPON yang melakukan pelayanan malam. Selain itu, tersedia Ruang Riset Medis dan Ruang Manajemen bagi karyawan penunjang kegiatan pelayanan.

Sisi lain gedung B juga memfasilitasi ruang pertemuan dan auditorium yang mampu menampung 500 pengunjung, disertai adanya ruang-ruang rapat kecil dan menengah yang mengelilingi auditorium utama tersebut. Ruang tersebut dapat digunakan untuk berbagai acara, baik acara internal maupun eksternal dengan sistem sewa berbayar yang dapat menghubungi bagian Administrasi Umum RS PON.

Peresmian Gedung B yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek pada 15 Agustus 2017, dihadiri oleh berbagai pihak terkait, seperti Wakil Ketua Komisi IX, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur, para pejabat eselon I dan II di lingkungan Kementerian Kesehatan, para akademisi, para dokter dan pakar spesialis bidang persarafan, dan lainnya. Dalam sambutan peresmiannya, Ibu Menteri Kesehatan menitipkan pesan bahwa RS PON harus terus mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya untuk pelayanan pengobatan (kuratif) di bidang otak dan persarafan. Yang mana prediksi tahun 2030 jumlah penduduk manula di Indonesia akan meningkat drastis, sehingga diperkirakan jumlah penderita penyakit saraf pun akan semakin meningkat seperti demensia, alzheimer, dan stroke yang kini menjadi penyakit yang mulai banyak diderita oleh warga Indonesia. Hal ini disebabkan karena pola hidup yang kurang sehat dan kecenderungan meningkatnya penyakit tidak menular akan berdampak pada peran RS PON dalam melayani pasien tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Ibu Menteri Kesehatan juga melakukan penandatangan prasasti peresmian gedung B dan melakukan gunting pita di depan ruang manajemen yang sudah ditempati sejak Februari 2017. Pengenalan lebih lanjut kepada Ibu Menteri Kesehatan dan undangan adalah melakukan Hospital Tour, melihat fasilitas layanan poliklinik eksekutif terbaru terletak di lantai 5, dan menilik juga Tempat Penitipan Anak (TPA) “Harapan Bunda.” Yang di dalamnya terdapat ruang laktasi atau menyusui yang diperuntukkan khusus bagi karyawan RS PON. TPA ini adalah hasil karya Dharma Wanita Persatuan (DWP) RS PON. Lokasinya terletak di lantai 4 gedung A.


-(Erlangga-Humas RSPON)

RSPON – Pada Rabu, 17 Mei 2017, bertempat di Lantai 1 Gedung Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Rumah Sakit Pusat Otak Nasional membuka pelayanan deteksi dini Alzheimer dan Demensia, dalam acara Hari Lanjut Usia Nasional yang diselenggarakan oleh BKKBN.

Dalam kesempatan tersebut, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional membuka open table untuk para peserta seminar, karyawan BKKBN dan masyarakat umum, untuk mendeteksi dini Alzheimer dan dimensia. Peserta nampak antusias melakukan pemeriksaan, yang ditangani langsung oleh perawat dan dokter spesialis syaraf Rumah Sakit Pusat Otak nasional, dr Asnelia Devicaesaria, Sp.S.

Demensia secara singkat adalah gangguan daya ingat yang menyerang manusia. Secara umum demensia akan menyerang mereka yang berusia tua karena sel otak yang telah usang kehilangan kemampuannya. Namun selain karena usia, demensia juga bisa disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, hingga stres. Sementara Alzheimer merupakan gangguan penurunan fungsi otak akibat serangan bertumbuhnya plak dan simpul berbahaya di otak. Beberapa bagian otak akan terganggu karena hal ini hingga menimbulkan serangkaian gangguan ingatan, kognitif, verbal, hingga kematian. Alzheimer sendiri bisa menjadi salah satu penyebab dari demensia. Demensia juga bisa terjadi sehabis stroke atau yang disebut dengan Demensia Vascular.

Dengan adanya deteksi dini alzheimer dan demensia, diharapkan peserta lebih waspada terhadap gejala Demensia maupun Alzheimer, dengan tetap menjaga pola hidup yang sehat.
-(Ruly Irawan-Humas RSPON)

RSPON – Seiring dengan kemajuan teknologi dan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Manajemen Rumah Sakit Pusat Otak Nasional memperkenalkan sistem pendaftaran Online berbasis Website dan Android, seperti Rumah Sakit Vertikal lainnya dibawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Pasien yang ingin berobat di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, semakin mudah untuk melakukan pendaftaran tanpa harus datang pagi hari untuk mengambil tiket antrian pendaftaran. Dengan memanfaatkan ponsel berbasis Android, pasien atau keluarga pasien dapat mengunduh aplikasi Pendaftaran Online di Play Store atau membuka portal web di www.rspon.co.id untuk mendaftar secara online.

Untuk memperkenalkan pendaftaran online ini, Tim Promosi Kesehatan dan Tim SIRS melakukan sosialisasi kepada pasien dan keluarga pasien di poliklinik lantai 2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Dalam Sosialisasi, dijelaskan bahwa pendaftaran Online dapat dilakukan melalui aplikasi Android atau Website www.rspon.co.id. Untuk pendaftaran melalui website, pasein dapat mendaftar sebagai pasien baru maupun lama. Poliklinik yang didaftarkan yaitu Poliklinik Neurologi Umum, THT, Gigi dan Poliklinik Vaksin. Sementara pendaftaran melalui aplikasi Android, untuk pasien baru dan lama ke seluruh Poliklinik Neurologi di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Pendaftaran Online dapat dilakukan 1 bulan hingga 3 hari menjelang hari H pemeriksaan.

Adapun cara pendafataran online sebagai berikut : Pendaftaran melalui aplikasi Android
1. Cari Aplikasi Pendaftaran Online di Play Store.
2. Unduh Aplikasinya.
3. Instal Aplikasi di Telepon Genggam.
4. Buka Aplikasi yang sudah di unduh.
5. Pilih Rumah Sakit (RSK Pusat Otak Nasional)
6. Pilih Jenis pasien baru/lama
7. Pengisian Identitas (bagi pasien lama, masukan no rekam medis)
8. Pilih tanggal dan Poliklinik yang dituju.
9. Bukti Pendaftaran (pasien yang sudah mendaftar online, mendapatkan kode registrasi)
10. Masukan di Mesin Antrian (pasien datang di tanggal yang didaftarkan. Masukan kode registrasi di mesin antrian).

Pendaftaran melalui website www.rspon.co.id :
1. buka Website www.rspon.co.id (pilih pendaftaran online).
2. Pilih Jenis kunjungan (pasien baru / lama).
3. Pendaftaran Pasien (isi data pasien jika pasien baru, masukan no rekam medis jika pasien lama).
4. Pilih Klinik/dokter.
5. Pilih Poliklinik yang akan dituju.
6. Pilih tanggal kunjungan.
7. Dapatkan tiket Reservasi.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa untuk peserta BPJS yang sudah mendaftar melalui pendaftaran online untuk mempersiapkan berkas rujukan berjenjang sesuai dengan ketentuan BPJS yang berlaku. Diharapkan dengan adanya pendaftaran online ini, pasien dan keluarga pasien dapat beralih ke sistem online, selain lebih efektif dan efisien, juga menghindari antrian dan penumpukan pasien di pendaftaran. Manajemen Rumah Sakit Pusat Otak Nasional akan terus berinovasi dan meningkatkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat, sesuai dengan motto Rumah Sakit Pusat Otak Nasional “Melayani dengan Mulia”. (Ruly Irawan, Syamsuri, Weny-RSPON)

RSPON – Dalam rangka memperingati Hari Epilepsi Sedunia, tepatnya kamis (06/04/2017) Rumah Sakit Pusat Otak Nasional bekerjasama dengan PT. Mersi mengadakan seminar edukasi mengenai epilepsi. Seminar dibuka untuk umum terutama keluarga pasien serta tenaga kesehatan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan bertempat di hall lantai 16.

Terdapat 2 (dua) narasumber, yaitu dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S dari poliklinik epilepsi serta Lucky Erlandi Pranianto, S.Kep. NERS. Materi yang dibawakan bertajuk “Kenali Epilepsi Sejak Dini” dan “Epilepsi dalam Perspektif Keperawatan”. Hal tersebut bertujuan agar peserta seminar memahami seluk beluk epilepsi tidak hanya dari pandangan kedokteran namun juga dari asuhan keperawatan.

Epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan berulang akibat lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron (sel syaraf) otak secara paroksismal, dan disebabkan oleh berbagai etiologi, bukan disebabkan oleh penyakit otak akut. (Pokdi Epilepsi PERDOSSI, 2011).

dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S menjelaskan bahwa epilepsi dapat terjadi pada siapa saja – segala golongan dan segala usia. Kemudian mitos yang ada pada masyarakat yang selama ini menyebutkan bahwa epilepsi merupakan penyakit keturunan adalah keliru. Epilepsi bukan penyakit keturunan dan bukan penyakit menular. Selain itu, seringkali ada mitos yang mengatakan epilepsi merupakan suatu bentuk kutukan atau kerasukan jin/setan. Hal tersebut merupakan mitos karena epilepsi sesungguhnya adalah penyakit menahun akibat aktivitas listrik otak yang abnormal dan tidak ada hubungannya dengan makhluk gaib.

Dari sisi keperawatan, Lucky Erlandi Pranianto, S.Kep.,NERS menekankan bahwa dukungan keluarga memiliki peranan terbesar bagi pasien epilepsi. Keluarga perlu teredukasi dengan baik seperti memahami bahwasannya Orang Dengan Epilepsi (ODE) tidak diperbolehkan menyetir kendaraan bermotor serta tidak dibiarkan berada sendirian di kolam renang maupun tempat-tempat yang berdekatan dengan sumber api karena ditakutkan mencederai si pasien apabila tiba-tiba epilepsinya kambuh.

Adanya stigma negatif justru beresiko menurunkan kualitas hidup ODE dan keluarga. Stigma yang mengatakan ODE merupakan gangguan mental harus dihilangkan karena sejatinya epilepsi bukan merupakan gangguan mental, atau tanda dari tingkat intelegensi yang rendah. Disamping itu, dukungan keluarga merupakan hal yang esensial pada ODE untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
(Ratna Fitriasih– Humas)

RSPON – Pada Jumat, 31 Maret 2017, bertempat di Ruang Rapat Lantai 15 Gedung Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, diadakan sosialisasi tata naskah dinas dan kode unit pengolah. Acara sosialisasi dihadiri perwakilan unit di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor HK.02.02/MENKES/377/2016 tanggal 18 Juli 2016 tentang Pola Klasifikasi Arsip dan Kode Unit Pengolah di Lingkungan Kementerian Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 14 Tahun 2017 tanggal 10 Februari 2017 tentang Pedoman Tata Naskah Dinas Di lingkungan Kementerian Kesehatan, bahwa perlu dilakukan penataan berkas/arsip secara logis dan sistematis, serta penyesuaian jenis dan format tata naskah yang baru.

Sosialisasi disampaikan oleh Ibu Pelita Apriany, SKM, MM, selaku Kepala Sub. Bagian TU dan Pelaporan. Didalam sosialisasi disampaikan bahwa adanya perubahan mengenai Jenis dan Format Naskah Dinas, sistem penomoran, alur proses keluar surat, serta proses surat masuk dengan menggunakan aplikasi Electronic Filling System (EFS).

Didalam penyusunan naskah dinas, harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
Kejelasan : Memperhatikan aspek fisik dan materi
Ketelitian : Sesuai bentuk, susunan, pengetikan, isi, struktur dan kaidah bahasa.
Tepat dan Akurat : Fakta yang benar.
Singkat dan Padat : Menggunakan bahasa indonesia yang baik, efektif, singkat dan lengkap.
Logis : Runtut dalam penuangan gagasan dan mudah dipahami penerima naskah dinas.

Setiap unit yang menyusun naskah dinas, juga harus memperhatikan aspek-aspek:
Bentuk Naskah Dinas : Naskah dinas dalam bahasa Indonesia, menggunakan bentuk setengah lurus atau setengah balok (semi block style), sementara naskah dalam bahasa Inggris menggunakan bentuk lurus atau bentuk balok (block style).
Ukuran & Jenis Kertas : Ukuran kertas naskah dinas arahan adalah F4, sementara naskah dinas korespondensi, khusus, laporan dan telaah staf adalah A4, dengan menggunakan kertas HVS putih 80/70 gram.
Bentuk Huruf : Bentuk huruf Arial, ukuran 11 atau 12, spasi 1-1,5 (kecuali pembentukan peraturan perundang-undangan)
Pembubuhan Paraf : Adanya pembubuhan paraf pejabat dikiri dan kanan
Penulisan Alamat Surat : Pergantian Yang terhormat menjadi Yth, penulisan jabatan tidak menggunakan sebutan bapak/ibu, Untuk perhatian (u.p.) digunakan atau ditujukan kepada seseorang atau pejabat teknis yang menangani suatu kegiatan atau suatu pekerjaan tanpa memerlukan kebijakan langsung dari pimpinan pejabat yang bersangkutan.
Kop Surat dan Stampel : Penggunaan kop dengan logo kementerian kesehatan yang baru disebelah kiri dan kop instansi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional disebelah kanan, serta stampel instansi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, menggantikan stampel Instansi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.
Format Naskah Dinas : Penggunaan Format Naskah Dinas sesuai dengan ketentuan Tata Naskah Dinas yang berlaku.
Kode Penomoran Surat : Memperhatikan kode penomoran surat yang baru sesuai dengan ketentuan Tata Naskah Dinas yang baru.

Didalam sosialisasi, disampaikan juga penggunaan aplikasi Electronic Filling System (EFS), yaitu sistem aplikasi management surat masuk dan keluar, agar lebih efektif, efisien dan memudahkan penelusuran dokumen surat masuk dan keluar.

Diharapkan, dengan adanya sosialisasi ini, setiap unit di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional mengetahui dan menerapkan aturan baru mengenai tata naskah dinas dan kode unit pengolah, sehingga sistem persuratan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dapat berjalan dengan tertib.
-(Ruly Irawan, Humas RSPON)


RSPON – Penyakit epilepsy adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapapun walaupun dari garis keturunan tidak pernah mengalami epilepsy ini. Penyakit epilepsy dapat dihindarkan dengan pengobatan yang baik dan teratur.

Dalam rangka memperingati Hari Epilepsi dunia yang jatuh pada tanggal 26 Maret 2017, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menggadakan penyuluhan mengenai Epilepsi di Puskesmas Kelurahan. Cawang Jakarta Timur. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional sebagai Rumah Sakit khusus dibidang persyarafan yang salah satu kekhususannya merupakan penanganan dalam penyakit epilepsi. Pada penyuluhan yang dilakukan di Puskesmas Kec. Cawang yang dihadiri oleh Plh Kepala Puskesmas Bapak Maelon Napitupulu, SKM, staf beserta masyarakat Kelurahan Cawang dimaksudkan untuk memberikan wawasan mengenai penyakit epilepsi. Penyuluhan tersebut disampaikan oleh dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S yang merupakan dokter spesialis yang menangani penyakit epilepsi.



dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S menyampaikan bahwa :
1.Epilepsi bisa terjadi pada siapa saja – Segala golongan – Segala usia
2.Epilepsi BUKAN penyakin menular
3.Epilepsi BUKAN penyakit keturunan
4.Epilepsi BUKAN kutukan - BUKAN kerasukan jin/ setan
5.Epilepi adalah suatu penyakit menahun akibat aktivitas listrik otak yang abnormal Air dan api BUKAN penyebab munculnya serangan epilepsy




Masyarakat sangat antusias dengan adanya penyuluhan mengenai epilepsi, terlihat dari banyaknya pertanyaan pada sesi tanyajawab dilakukan, salah satunya pertanyaan dari Ibu Marsinah yang menanyakan “bagaimana pertolongan pertama yang harus dilakukan jika disekitar kita terjadi kejang epilepsy ?”, pertanyaan tersbut langsung mendapat jawaban dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S yakni “dari pertolongan pertama yang harus kita lakukan ketika orang disekitar kita mengalami serangan epilepsi yaitu :
1. BersikapTENANG
2. HINDARKAN benda-benda tajam
3. LONGGARKAN pakaian, terutama yang mungkin ganggu nafas
4. LETAKKAN bantalan yang lembut di bawah kepala
5. MIRINGKAN kepala agar jalan nafas tidak terhambat
6. JANGAN coba hentikan gerakan pasien
7. Bersikap RAMAH dan MEYAKINKAN setalah pasien sadar.”
(Ratna Fitriasih– Humas)



RSPON – Apa itu konsep Bobath? Sebagian besar masyarakat awam akan bertanya apakah itu bobath. Dapat disampaikan bahwa Bobath adalah sebuah konsep yang pada awalnya berupa perlakuan yang didasarkan atas inhibisi aktivitas abnormal refleks (Inhibition of abnormal reflex activity) dan pembelajaran kembali gerak normal (The relearning of normal movement), melalui penanganan manual dan fasilitasi. Namun seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka konsep Bobath juga mengalami perkembangan menjadi sebuah pendekatan problem solving yang dimulai dari pemeriksaan (assessment) dan terapi yang bersifat individual dengan gangguan dari fungsi, gerak dan kontrol postur yang diakibatkan karena adanya lesi susunan syaraf pusat.(IBITA 1996, Panturin E. 2001 ). Dengan menggunakan konsep Bobath, fisioterapis harus mampu melakukan manipulasi dan aktivasi aferen untuk membuat pasien mudah, efisien dan mempunyai pilihan gerak yang lebih mudah.

Mengapa dinamakan Bobath? Nama Bobath diambil dari nama penemunya yaitu Karel Bobath (1905) dan Bertha Bobath (1907) pasangan suami istri kelahiran Berlin, Jerman. Bertha Bobath adalah seorang instruktur tari/dansa dan ahli dalam teknik gerakan dan relaksi. Kemudian Bertha beralih profesi sebagai Fisioterapis. Sedangkan Karel Bobath adalah seorang ahli bedah anak dan juga seorang neurologis. Awalnya Bertha melakukan uji coba pada pasien dengan kondisi hemipelgia dan dengan tekniknya ia mampu menurunkan spastisitas, menghasilkan gerak tangan yang baik dan juga melihat trunk yang rileks juga mampu mengurangi spastisitas pada tangan. Kemudian Bertha mengembangkan tekniknya pada anak dengan permasalah neurologis.

Dalam rangka meningkatkan layanan rehabilitasi untuk pasien stroke di RS PON, maka Pada 18 hingga 19 Maret 2017 RSPON mengadakan Workshop mengenai New Bobath Concept yang dibuka oleh dr. Mursyid Bustami, Sp.S(K), KIC, MARS selaku Direktur Utama RSPON dan Bapak Iman Santoso, SKM, SST, FT. selaku ketua IFI (Ikatan Fisioterapi Indonesia) Jakarta Timur. Pada kesempatan tersebut peserta diperkenalkan pada konsep Bobath terbaru dimana saat ini Bobath sudah menggunakan assesment atau diagnosis sendiri dan menjadi basic/dasar beberapa pendekatan terapi yang lain.

Dalam memberikan terapi, seorang Bobath terapis harus memiliki skill of analysis normal movement, dan juga memperhatikan prinsip-prinsip motor relearning antara lain active perticipation, oportunities for practice/mudah untuk dilakukan serta memiliki meaningful goals.

Acara ini diperuntukan bagi para fisioterapis dimana tidak hanya mendapat materi tentang Bobath, peserta juga mendapat materi tentang neuroscience, dan movement analysis. Selain itu para terapis juga diberikan contoh praktik langsung terhadap pasien stroke RS PON yang langsung dibimbing oleh instruktur Agus Wiyono, AMF (Candidate Basic Course Instructore) yang juga menjabat sebagai ketua KOBOI (Komunitas Bobath Indonesia) beliau juga pernah menjadi asisten Prof. Byong Yong Hwang dalam International Introductory Bobath Course dan International Basic Bobath Course di Jakarta dan Korea pada 2009 hingga 2014, dan juga menjadi asistanship Mery Linch E. (London) dalam Basic Course di Korea pada 2015. Diharapkan materi yang diberikan pada workshop ini dapat bermanfaat bagi para fisioterapis untuk dapat diterapkan pada pasien stroke yang mereka tangani sesuai dengan konsep Bobath terbaru.
(Erlangga-Humas)

RSPON – Hospital Tour merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa, karena mereka bisa melihat secara langsung fasilitas, proses kegiatan, Pelayanan yang berlangsung serta berdiskusi dengan pihak rumah sakit. Mereka semua diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk belajar berbagai hal mengenai rumah sakit.

Pada Kamis (9/03/17) Rumah Sakit Pusat Otak menerima kunjungan Mahasiswa keperawatan D3-S1 Universitas Advent Indonesia sebanyak 155 orang. Acara dibuka dengan sambutan dan pemberian materi profil Rumah Sakit Pusat Otak Nasional oleh ibu Drg. Sophia Hermawan, M.Kes. selaku Direktur SDM dan Diklat. Acara selanjutnya diisi paparan kegiatan asuhan keperawatan oleh Asih Dwi Hayu Pangesti, S.Kep, NERS. Para mahasiswa sangat antusias dalam mengikuti acara tersebut.

Kegiatan terakhir yang paling ditunggu oleh mahasiswa adalah kunjungan langsung berbagai fasilitas dan layanan di Rumah Sakit Otak Nasional (Hospital Tour). Mereka dibagi beberapa kelompok untuk berkeliling melihat fasilitas dan mengamati proses pelayanan yang terjadi di RSPON. Kunjungan dimulai di lantai dasar yaitu Instalasi Binatu, Instalasi Gizi, Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit (IPSRS), serta Instalasi Rekam Medis. Selanjutnya lantai 1 mengunjungi Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan Pelayanan Pendaftaran. Lantai 2 mengunjungi Poliklinik Eksekutif, Poliklinik Gigi, Apotik, dan Laboratorium. Lantai 3 Mengunjungi Ruang High Care Unit (HCU) dan Ruang Intensive Care Unit (ICU). Lantai 4 mengunjungi Ruang Neurodiagnostik, Ruang Sterilisasi Sentral, dan Ruang Fisioterapi. Lantai 7 mengunjungi Ruang Rawat Inap A. Lantai 8 mengunjungi Ruang Rawat Inap A dan Ruang Isolasi. Dan lantai 11 mengunjungi Ruang VVIP.

Bagi yang berminat untuk Hospital Tour, Hubungi kami di Bagian Diklat telp (021) 2937 3377 (Hunting) atau Email: rspotakn@gmail.com
(Ratna-Humas)

RSPON – Hospital tour adalah kegiatan kunjungan di rumah sakit sambil belajar mengenai alat - alat kesehatan, pengenalan profesi di rumah sakit dan materi tentang cara hidup sehat yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari. Selain itu, hospital tour juga dapat menjadi bahan ajar atau sumber referensi bagi rumah sakit lain.

Dalam rangka kegiatan hospital tour, tepatnya hari kamis (16/02/17) Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menjadi tuan rumah bagi rumah sakit asal Bukittinggi, Padang, yaitu Rumah Sakit Stroke Nasional. Kegiatan dimulai dengan penjelasan singkat oleh Direktur Utama Rumah Sakit Stroke Nasional, bahwa walaupun pada awalnya merupakan rumah sakit khusus, namun Rumah Sakit Stroke Nasional sempat bertransformasi menjadi rumah sakit umum. Kini, rumah sakit tersebut ingin membuka sebuah divisi khusus stroke, dan hal itu yang menjadi salah satu alasan tujuan kedatangannya, termasuk melihat bagaimana pelayanan stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, belajar tentang penanganan stroke dan mempelajari sistem penerimaan pasien.

Sesi presentasi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional di uraikan oleh Direktur Utama, dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS, mengenai profil, ringkasan rumah sakit serta alur pasien stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Lalu dr. Yohanna Kusuma, Sp.S, Cert. Neurosonology ASN (USA) & WFN-NSRG sebagai perwakilan divisi Neuro pun memberi penjelasan tentang alur penanganan pasien Neuro. Selain itu, dr. Lyna Soertidewi, Sp.S, (K), M.Epid memberi sedikit informasi tambahan mengenai form dan pelatihan serta tujuan dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional yaitu paperless. Sebab karena itulah, segala tindakan dilakukan via komputer (komputerisasi).

Seusai sesi presentasi, dilaksanakan kunjungan ke tiap-tiap unit Rumah Sakit Pusat Otak Nasional bersama dengan masing-masing perwakilan dari tiap rumah sakit. Kunjungan pertama di mulai dari lantai 1 dan menuju bagian IGD, dilanjutkan dengan Unit Radiologi dan menyaksikan bagaimana model MRI 3 Tesla terbaru yang di sediakan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Lalu kunjungan berlanjut ke lantai 3, lokasi dimana ICU, HCU, serta Kamar Operasi (OK) berada.

Setelah itu, rombongan menuju lantai 4 tempat terdapat Unit Neuro Diagnostik, Neuro Behaviour, Okupasi Terapi, Gymnasium dan berlanjut ke lantai 7a yang merupakan lokasi rawat inap pasien kelas 3. Hospital tour di akhiri dengan berkunjung ke lantai 11 untuk melihat suasana kamar rawat inap VVIP dan President Suite-tipe kamar termewah yang disediakan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Tidak lama setelah hospital tour, rombongan kembali kedalam ruang rapat untuk penutupan sekaligus perjamuan oleh pihak Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.
(Ratna-Humas)

RSPON – MAGNETIC RESONANCE IMAGING atau MRI adalah salah satu pemeriksaan canggih di bidang radio-diagnostik, dengan teknik penggambaran penampung tubuh yang non-invasif, menggunakan medan magnet, gelombang radio dan komputer untuk menampilkan struktur dan organ dalam tubuh.

Pada rabu (08/03/2017) pukul 09.30 WIB, berlokasi di poliklinik rawat jalan lantai 2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, berlangsung penyuluhan dengan tema “Mengenal Teknologi Mutakhir MRI” oleh Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSPON yang dihadiri pasien dan keluarga pasien yang sedang menunggu antrian untuk bertemu dokter. Penyuluhan ini berisi tentang alat pemeriksaan MRI hingga perbedaan MRI dengan CT Scan.

MRI bekerja dengan menerima sinyal magnet yang ditangkap koil yang selanjutnya menghasilkan gray scale yang dapat memeriksa kondisi jaringan tubuh pasien. MRI dapat mendeteksi kelainan otak dan saraf tulang belakang, kelainan jantung dan pembuluh darah, kelainan tulang dan sendi, kelainan payudara, ataupun kelainan organ internal lainnya.Sebelum melakukan pemeriksaan MRI, diperlukan beberapa persiapan diantaranya:
-Mengisi informed consent / lembar persetujuan pemeriksaan.
-Pasien diminta membuka/melepaskan semua bahan-bahan yang terbuat dari logam.
Bila pasien mempunyai benda logam yang ditanam di tubuh (implant, stent, dll) harus disampaikan kepada petugas.

MRI seringkali disamakan dengan CT Scan padahal keduanya memiliki perbedaan dari berbagai kriteria, berikut perbedaannya:

MRI:
-Lubang gantri kecil
-Waktu yang diperlukan lama
-Sumbernya Magnet
-Melakukan scanning jaringan
-Menghasilkan suara yang nyaring
-Relatif aman
-Harga mahal

CT Scan:
-Lubang gantri besar
-Waktu yang diperlukan sebentar
-Sumbernya X-ray
-Melakukan scanning tulang
-Tidak menghasilkan suara
-Beresiko karena adanya radiasi X-ray
-Harga murah

Dalam ruang pemeriksaan MRI, dapat terjadi kejadian tidak diinginkan yang disebabkan kuatnya gelombang magnet yang dimiliki alat MRI, oleh karena itu ketika memasuki ruang pemeriksaan MRI, pasien maupun keluarga yang mendampingi dilarang membawa barang-barang berbahan logam, jam tangan, handphone, dan kartu ATM. Bahkan pasien yang memiliki benda yang tertanam dalam tubuh juga tidak diperkenankan memasuki ruang pemeriksaan MRI.

Dalam acara tersebut pengunjung tampak antusias untuk mendengarkan penjelasan dalam penyuluhan tersebut. Dengan banyaknya pengunjung yang mengajukan pertanyaan kepada nara sumber. Seperti pertanyaan yang disampaikan oleh Ibu Latifah yang menanyakan apakah ada efek samping dari pemeriksaan MRI, karena setelah suaminya diperiksa dengan MRI wajahnya jadi memerah. Dari pertanyaan tersebut dapat dijelaskan bahwa itu bukan efek langsung dari MRI, bisa jadi efek tersebut dikarenakan efek obat kontras yang disuntikan saat pemeriksaan MRI. Namun sebelum pemeriksaan perawat akan melakukan skin test ke kulit pasien untuk memperkecil kemungkinan terjadinya reaksi alergi (kemerah-merahan pada kulit pasien).

Itulah sedikit penjelasan singkat tentang MRI. Dengan adanya penyuluhan ini diharapkan dapat menjawab petanyaan keluarga pasien seputar pemeriksaan MRI.
(Erlangga–Humas)

RSPON – Mikroorganisme seperti bakteri dan kuman merupakan salah satu faktor pencetus penyebaran penyakit pada tubuh kita. Seringkali bakteri berasal dari bagian tubuh yang paling sering melakukan kontak dengan lingkungan, seperti saat kita berjabat tangan, menekan tombol lift, dan kegiatan lain yang kita lakukan sehari-hari. Bahkan tanpa kita sadari, presentase terbesar penularan penyakit ialah melalui tangan.

Tepatnya hari kamis (23/02/17) pada pagi hari, berlokasi di lobi ruang tunggu lantai 2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, berlangsung penyuluhan dengan tema “Kebersihan Tangan dan Etika Batuk” oleh Ibu Wahyu Widawati, AMK dari Komite Pengendalian dan Pencegahan Infeksi. Penyuluhan berisi penyampaian langkah-langkah mencuci tangan dan bagaimana menangkal penularan bakteri dengan memperhatikan etika batuk.

Terdapat 2 (dua) jenis cuci tangan, yaitu menggunakan air dan sabun seperti biasa kita lakukan sehari-hari dengan lama pencucian 40-60 detik, lainnya dengan handrub berbasis alkohol dengan frekuensi 20-30 detik. Selain itu, Ibu Wahyu juga menjabarkan langkah-langkah pasca mencuci tangan dan bagaimana mencuci tangan dengan benar hingga dapat membunuh mikroorganisme kulit kasat mata serta menjamin tangan anda bebas dari kuman, pula menghilangkan resiko infeksi nosokomial.

Kapan kita di wajibkan mencuci tangan?
SEGERA: Setelah tiba di Rumah Sakit

SEBELUM: - Kontak (memegang, bersalaman) dengan pasien
-Makan
-Meninggalkan Rumah Sakit

SETELAH: - Kontak (memegang, bersalaman) dengan pasien
-Menggunakan toilet/kamar mandi
-Menyentuh dan mengelap hidung
-Menyentuh lingkungan sekitar
-Terpapar cairan tubuh pasien

Bagaimana cara mencuci tangan dengan handrub secara tepat?
1.Tuangkan handrub ke telapak tangan sebanyak 1 tekanan (3-5 cc)
2.Ratakan dengan kedua telapak tangan dengan posisi datar.
3.Gosok punggung tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya.
4.Gosok sela-sela jari.
5.Gosok buku-buku tangan dengan kedua tangan saling mengunci.
6.Gosok ibu jari kiri dengan gerakan berputar dalam genggaman tangan kanan dan sebaliknya.
Gosok ujung-ujung kuku tangan kanan dengan gerakan memutar di telapak tangan kiri dan sebaliknya.

Materi penyuluhan kedua, yaitu mengenai etika batuk. Ketika kita batuk, tanpa di sadari virus/bakteri penyebab batuk tersebut menyebar ke sekeliling kita melalui udara dan berpotensi menularkan orang lain. Padahal terdapat etika yang sesungguhnya menjadi pedoman agar tidak lagi merugikan sekitar serta bertujuan mencegah penularan bakteri/virus maupun ISPA.

Etika batuk yang perlu kita perhatikan yaitu:
- Tutup hidung dan mulut anda dengan tisu saat bersin atau batuk.
- Tutup hidung dan mulut anda menggunakan lengan baju bagian dalam, bukan dengan telapak tangan saat bersin atau batuk.
- Segera membuang tissue yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah.
- Cuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun atau handrub.
- Menggunakan masker.

Dengan mempraktekkan hal tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, tentu tubuh akan semakin terlindungi dari kuman dan bakteri serta menghindari penyebaran penyakit. Jadi tunggu apa lagi? Mari mulai hidup sehat dengan melakukan hal-hal kecil namun bermanfaat besar.
(Ratna Fitriasih– Humas)

Maraknya KKN, rendahnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja serta buruknya pelayanan publik, menjadi tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mereformasi birokasi di Indonesia. Melalui Instruksi Presiden nomor 2 tahun 2014 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi serta Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 52 tahun 2014 tentang Pembangunan Zona Inregritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), Pemerintah mewujudkan komitmen mereformasi birokrasi khususnya dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan di instansi pemerintah.

WBK / WBBM merupakan predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja pemerintah yang memenuhi kriteria manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM, penguasan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, serta indikator penguatan kualitas pelayanan publik. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), yang merupakan Unit Pelayanan Terpadu dibawah Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berkomitmen untuk mewujudkan WBK / WBBM dilingkungan Rumah Sakit.

Pada 28-31 Desember 2016,bertempat di Ruang rapat lantai 5, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional bersama Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan, Bapak Haruddin, S.ST, M.Kes dan Hardiansyah, SE, M.Ak melakukan pendampingan WBK/WBBM dan Mereview Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) tahun 2016 serta menyusun LAKIP tahun 2017. Dalam acara tersebut, Direksi dan karyawan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, menandatangani pakta integritas sebagai bagian pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Diharapkan, pada tahun 2017, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dapat meraih predikat WBK / WBBM.
(RulyIrawan Humas)

RSPON – DPP Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) kembali mengadakan kegiatan rutin tahunan Pelatihan Asuhan Gizi Dasar (PAGD) ke IV dengan tema “ Penguatan Peran Dietisien Melalui Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme dalam pelayanan Gizi, Makanan dan Dietetik Pada Era MEA” yang diselenggarakan pada 12 – 15 Oktober 2016 di Horison Ultima Hotel, Palembang – Sumatera Selatan.

Salah satu rangkaian kegiatannya yaitu lomba DIETITIAN AWARD . Lomba Dietetic Award merupakan ajang penghargaan bagi Ahli Gizi/Dietisien sebagai salah satu bentuk kontribusi AsDI dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan gizi di Indonesia. Peserta merupakan seluruh Ahli Gizi/Dietisien yang berdomisili di wilayah Indonesia. Jenis lomba meliputi Nutrition Scientific Project, Innovation In Nutrition Care Project dan Innovation in Food Service Management Project.

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional mengirimkan tim terbaiknya dari Instalasi Gizi untuk mengikuti kategori lomba Nutrition Scientific Project yang memiliki kriteria lomba : segala kegiatan penelitian ilmiah di bidang gizi yang terkait dengan peningkatan mutu pelayanan gizi di rumah sakit atau puskesmas. Anggota Tim terdiri dari RODLIA, S.Gz, MKM, RD; ANGGITA MARLIDA SEPTIANI, Amd.Gz; FAJAR RUSWANDARI, Amd.Gz; SHEILA OCTAVIA, Amd.Gz; YUNITA AHADTI, Amd.Gz dengan Judul penelitian “ASUPAN FORMULA ENTERAL WHEY PROTEIN TINGGI DENGAN VOLUME RESIDU LAMBUNG PADA PASIEN NEUROLOGI DI RUMAH SAKIT PUSAT OTAK NASIONAL: CASE SERIES STUDY”. Penelitian tersebut masuk ke Babak Final dalam kategori Nutrition Scientific dengan Oral Presentation pada tanggal 12 Oktober 2016 di Hotel Horison Ultima Palembang dan mendapat JUARA I dalam kategori tersebut.
Selamat Kepada Tim Instalasi Gizi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional atas Prestasi yang telah dicapai. Semoga semakin memberikan kontribusi terbaiknya terutama dalam pelayanan ke masyarakat.
(Ratna Fitriasih– Humas)

Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty adalah pengampunan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakandan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini (Undang-undang Nomor 11 tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak). Dan program Pengampunan Pajak ini akan berlangsung hingga 31 Maret 2017. Pengampunan Pajak ditujukan kepada setiap orang pribadi atau badan yang telah terdaftar dan memperoleh NPWP serta memiliki kewajiban menyampaikan SPT Tahunan PPh berhak mendapatkan pengampunan pajak, kecuali wajib pajak yang sedang dilakukan penyidikan dan berkas penyidikannya telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan, sedang dalam proses peradilan, atau sedang menjalani hukuman pidana, atas tindak pidana di bidang perpajakan.

Demikianlah sekilas pengertian dari Pengampunan Pajak atau yang lebih populer disebut sebagai Tax Amnesty, guna lebih memberi pengertian kepada seluruh karyawan RS PON, maka pada Rabu 7 September 2016 diadakanlah sosialisasi mengenai Pengampunan Pajak tersebut pada acara rapat struktural rutin. Yang dihadiri oleh seluruh Direksi, para Kepala Bagian, Kepala Sub Bagian, dan karyawan RS PON yang mewakili bagiannya masing-masing. Dalam acara tersebut yang menjadi nara sumbernya adalah Baringin Gultom selaku Kepala Seksi Pengawasan dan Agustiyono selaku Account Representative dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kramat jati, Jakarta Timur.

Tujuan diadakannya Pengampunan Pajak menurut Undang-undang tentang Pengampunan Pajak adalah agar dapat mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan harta yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi, mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan, serta meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Dengan mengikuti Pengampunan atau Amnesti Pajak berarti kita telah mendukung kebijakan negara untuk mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi Indonesia.
   “Amnesti Pajak, Ungkap. Tebus. Lega”
(Erlangga-Humas)

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional “Berani Bersih Tolak Gratifikasi” pada rapat struktural RS PON yang selalu rutin diadakan setiap minggu, tim Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) mensosialisasikan mengenai anti gratifikasi yang akan diterapkan pada seluruh karyawan RS PON tidak terkecuali dari jajaran Direksi hingga seluruh staf. Dalam kesempatan tersebut Tim UPG RS PON juga memperkenalkan susunan anggota tim-nya yang antara lain diketuai oleh dr. Lyna Soertidewi, Sp.S (K), M.Epid dan sebagai Wakil Ketua adalah dr. R. M. Krisna Wicaksono Barata, Sp.THT-KL dengan seorang sekretaris Ratna Sopiah Debora, SH. Dan dengan anggota yang terdiri dari keperawatan, dokter, apoteker, dan staf karyawan lain yang kompeten dibidangnya dalam hal Gratifikasi.

Dalam sosialisasi tersebut dijelaskan mengenai pengertian gratifikasi dan dasar hukum tentang gratifikasi sebagai tindak pidana korupsi yang diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut dapat merupakan pemberian yang diterima di dalami maupun di luar negeri yang dilakukan dengan menggunakan sarana ataupun tanpa sarana elektronik. Dalam sosialisasi tersebut juga diinformasikan bahwa gratifikasi bisa mengarah pada tindak pidana suap seperti misalnya gratifikasi berupa penerimaan Marketing Fee atau imbalan yang bersifat transaksional yang terkait dengan pemasaran suatu produk, cashback, atau pengembalian dalam bentuk apapun akibat transaksi yang diterima oleh instansi serta digunakan untuk kepentingan pribadi, gratifikasi yang terkait dengan pengadaan barang dan jasa, pelayanan publik, dan proses lainnya, sponsorship yang terkait dengan pemasaran atau penelitian suatu produk, dan gratifikasi yang terkait dengan layanan publik.

Selain pengertian tersebut di atas juga dijelaskan bahwa RS PON memiliki Tim UPG yang bertugas sebagai PIC (Person In Charge) yang berfungsi sebagai penerima laporan gratifikasi bagi karyawan RS PON yang menduga dirinya diberi atau menerima pemberian yang mengarah pada gratifikasi. Dan petugas tersebut dapat memiliki akses ke KPK untuk melaporkan adanya temuan atau dugaan gratifikasi tersebut langsung kepada KPK.

Dengan adanya solialisasi ini diharapkan agar RS PON bisa bersih dari gratifikasi sehingga dapat memberikan pelayanan yang mumpuni dan berbasis pada kerja nyata yang sudah seharusnya dan sesuai dengan prosedur yang ada. Bukan pelayanan yang berdasarkan atas imbalan jasa yang tidak seharusnya yang dapat mengakibatkan pelayanan yang tidak adil dan pilih kasih.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh jajaran Direksi RS PON mulai dari Direktur Utama, Direktur Pelayanan, Direktur SDM dan Diklit, Direktur Keuangan dan Administrasi Umum, Pejabat Struktural sperti Kepala Bagian, Kepala Instalasi, Kepala Sub. Bagian, hingga staf yang hadir dalam rapat struktural rutin tersebut.
   “Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Berani Bersih Tolak Gratifikasi”
(Erlangga-Humas)

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional mengadakan Temu Wicara Kesehatan Anak yang berlangsung pada hari Sabtu 4 Juni 2016, dalam rangka memperingati HUT IDAI Ke-62 dan Hari Anak Nasional. Temu wicara yang dihadiri kurang lebih 120 orang peserta, dari lingkungan Pegawai Rumah Sakit dan Kader Posyandu yang berada dilingkungan Kelurahan Cawang.

Temu Wicara Kesehatan Anak dalam rangka memperingati HUT IDAI Ke-62 dan Hari Anak Nasional dengan bertema “Bagaimana menjadikan Anak Sehat, Tinggi dan Cerdas” yang dilaksanakan di Ruang Serba Guna Lt. Dasar Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dengan Pembicara dr. Roy Amariyanto, Sp.A, dr. Suryawati Sukmono, Sp.A, dr. Arie Khairani, Sp.S yang dimoderatori oleh dr. Astryanovita, Sp.S.

Para peserta cukup antusias dalam sesi tanya-jawab, terlihat dimana para peserta begitu krisis menanyakan mengenai tumbuh kembang anak, sebagaimana yang ditanyakan oleh Ibu Euis yang merupakan Kader Posyandu Kelurahan Cawang yang menanyakan mengenai “bagaimana melihat pertumbuhan anak dimulai dari usia berapa tahun”. Pertanyaan tersebut langsung ditanggapi dan diberikan pemaparan yang cukup jelas oleh dr. Suryawati Sukmono, Sp.A yang lebih akrab dikenal dengan dr. Wati, menjelaskan bahwa “tumbuh kembang anak harus diperhatikan dari mulai lahir dan harus dilihat perkambangannya dengan anak seusianya”.
(Teguh-Humas)

Sumber WHO menyatakan bahwa CVDs (Cardio Vascular Disease) adalah pembunuh nomor satu dan terbesar jumlahnya dan jumlah korban yang meninggal dunia setiap tahunnya melebihi jumlah korban dari penyebab-penyebab lainnya. Bahkan untuk pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit sekalipun yang diagnosanya bukan penyakit jantung setiap saat pasien tersebut bisa menemui kematian dikarenakan oleh serangan jantung atau mengalami situasi gagal nafas akut. Di mana penanganan pertama pada penyakit ini dapat diatasi dengan cepat bahkan dapat mencegah menuju kematian jika ada tim Code Blue yang terlatih pada suatu Rumah Sakit.

Oleh karena itu sebuah kewajiban bahwa di setiap Rumah Sakit khususnya Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) dibentuk tim Code Blue yang mempunyai kecakapan dan kemampuan yang disertai dengan pelatihan yang baik dan mengikuti rangkaian prosedur dan protokol yang sudah ditetapkan dalam Code Blue. Tim Code Blue adalah tim respon cepat dengan tanggap darurat terhadap upaya penyelamatan nyawa pasien pada tahap yang sangat kritis.

Sehingga pada 27 April 2016 diadakanlah pelatihan Code Blue dan pengenalan Early Warning System di RS PON yang diadakan di ruang pertemuan lantai 11. Dengan menggunakan kamar rawat VVIP sebagai ruang simulasi dan ujian bagi peserta yang masuk dalam tim Code Blue RS PON. Pelatihan ini diikuti oleh perawat dan dokter umum yang ada di RS PON, dengan pemateri dan pembimbing dari para dokter spesialis anestesi diantaranya adalah dr. Dimas Rahmatisa, Sp.An dan Kepala Bidang Keperawatan RS PON Ibu Enny Mulyatsih.

Dalam pelatihan ini dilakukan simulasi penanganan Code Blue dengan dibagi menjadi tim idela yang berjumlah 6 orang tenaga medis dan 1 petugas keamanan yang memiliki tugas untuk antara lain 1 orang Team Leader, 1 orang bertugas sebagai tatalaksana jalan napas, 1 orang melakukan kompresi, 1 orang bertugas melakukan kompresi, 1 orang bertugas melakukan persiapan dan melakukan defibrilasi, 1 orang bertugas memasang akses vena serta memasukan obat-obatan, 1 orang melakukan pengawasan waktu dan dokumentasi, dan 1 petugas keamanan bekerjasama dengan kepala ruang rawat setempat bertugas membantu mengamankasn lokasi kejadian, agar tidak ada orang yag tidak berkepentingan mengganggu jalannya pelaksanaan Code Blue. Setelah diberikan materi dan simulasi dilakukan juga ujian bagi peserta pelatihan agar selain paham secara teori juga dapat melakukan tugasnya sesuai dengan kondisi nyata yang terjadi di lapangan.

Dan sebagai informasi untuk siapapun yang menemukan pasien atau seseorang yang tiba-tiba terjatuh pingsan atau tidak sadarkan diri di lingkungan RS PON dapat segera menghubungi operator Tim Code Blue kami di no. Ekstensi 5413 atau hubungi petugas keamanan dan petugas medis lainnya yang ada di dekat lokasi kejadian. “BE READY to save a LIFE”
(Erlangga/Teguh-Humas)

RSPON - “Save Brain! Save Life! Yeeeesss...!!” itu adalah motto untuk acara In House Training BNLS (Basic Neuro Life Support) bagi perawat di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON). Yang acaranya diadakan di ruang pelatihan lantai dasar dengan diikuti oleh perawat yang baru bergabung di RS PON dengan dibagi menjadi 2 angkatan, yang dilaksanakan sejak 7 sampai dengan 11 Maret 2016.

RSPON sebagai pusat unggulan dalam bidang pelayanan Neurologi dan bedah saraf memiliki peran dan tanggung jawab untuk memberikan pelayanan tersebut dengan maksimal dan lebih baik. Sehingga untuk dapat menunjang hal tersebut salah satunya adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat pada kedaruratan neurologi, sehingga perawat diharapkan dapat menyelamatkan fungsi otak pada fase hiperakut dan dapat meminimalkan kecacatan yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalamai kedarutana neurologi seperti serangan stroke yang datang tiba-tiba.

Tujuan diadakan In House Training ini adalah agar setiap perawat mampu menangani pasien dengan kasus kedaruratan neurologi. Khususnya agar dapat mengidentifikasi tanda dan gejala, juga menguasai strategi awal tatalaksana keperawatan pasien neurologi dalam keadaan gawat darurat dan kritis. Oleh karena itu dalam In House Training ini didatangkan narasumber yang kompeten di bidang persarafan seperti dokter spesialis saraf yang ada di RS PON diantaranya dr. Jofizal Jannis, Sp.S (K), dr. Kemal Imran, Sp.S, MARS, dr. Yohana Kusuma, Sp.S, Cert. Neurosonology ASN (USA) & WFN-NSRG dan lain-lain. Juga dengan pengajar perawat senior seperti R. Isnawan Risqi Rakhman, SKep., Ners. Selain teori dalam In House Training ini juga diberikan praktek untuk menerapkan teori yang diberikan oleh para pengajar.
(Erlangga/Teguh-Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai diet rendah garam disampaikan oleh Krisetiya Yunita, AMG, yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 23 Februari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga pasien mengetahui diet rendah garam untuk pasien yang menderita atau memiliki riwayat penyakit sirosis hati, dekompensasio kordis, toksemia pada kehamilan, hipertensi serta penyakit jantung dan ginjal tertentu.

Asupan natrium yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan keseimbangan tubuh sehingga menyebabkan edema, asites, atau hipertensi. Garam dalam diet rendah garam adalah garam natrium yang terdapat pada garam dapur (NaCl), soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoat, serta vetsin (MSG). Diet rendah garam bertujuan untuk membantu menurunkan tekanan darah pada penderita darah tinggi serta membantu menghilangkan penimbunan cairan dalam tubuh.

Syarat diet rendah garam mencakup cukup energi, protein, mineral, dan vitamin; bentuk makanan sesuai dengan jenis penyakit serta jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam dan air atau hipertensi.

Bahan makanan yang diperbolehkan selama diet adalah bahan makanan segar dan makanan yang diolah atau sedikit menggunakan garam natrium. Sedangkan bahan makanan yang dibatasi antara lain daging/ayam/ikan paling banyak 100 gr/hari, telur 1 butir/hari, susu segar 200 ml/hari serta makanan-minuman dan sari buah dalam kemasan.

Bahan makanan yang perlu dihindari dalam diet rendah garam ini yaitu otak, ginjal, paru, daging kambing; susu bubuk fullcream/skim, margarine, mentega keju; bumbu bumbu seperti kecap, terasi, tauco, garam, saus, vetsin; makanan yang diolah dengan natrium seperti biskuit, crackers, pastries, dan kue lain; kripik, krupuk , dan makanan kering yang asin; makanan yang diawetkan seperti dendeng, abon, ikan asin, udang kering, telur asin, selai, acar, manisan buah; serta makanan dan minuman dalam kaleng seperti sarden, sosis, kornet, sayur dan buah dalam kaleng.

Disarankan agar makan dalam diet rendah garam ini bisa lebih lezat, sebaiknya ditumis, digoreng atau dipanggang walaupun tanpa garam. Rasa tawar makanan dapat diperbaiki dengan menambahkan bawang merah atau putih, gula merah atau putih, jahe, kencur, salam dan bumbu lain yang tidak mengandung natrium. Bubuhkan garam saat di meja makan. Gunakan garam beryodium.

Poli Gizi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional buka setiap hari Senin – Jumat, pukul 09.00 – 15.00 WIB


Tabel : Daftar Kadar Natrium dan Kalium pada Bahan Makanan (mg/100 gr)

BAHAN MAKANAN
NATRIUM
KALIUM
Biskuit
500
200
Crackers
110
120
Kue
250
100
Roti Bakar
700
150
Cornet Beef
1250
100
Sosis
1000
250
Kecap
4000
500
Tahu
12
151
Susu Skim Bubuk
470
1500
Beras Merah
2
195
Beras
5
100
Tepung Terigu
2
150
Kentang
7
396
Daging Sapi
73
159
Ikan
100
300
Kacang Kedelai
0
1504
Tempe
0
0
Susu Segar
50
150

(Ratna Fitriasih & Teguh Andenoworeh – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai terapi wicara pada stroke dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 18 Februari 2016 oleh Bapak Bany Setyo Saputro A.Md TW. Tujuan penyuluhan ini adalah agar peserta penyuluhan memahami mengenai terapi wicara pada pasien stroke.

Apa itu terapi wicara?

Secara terminologis bahwa terapi wicara diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang gangguan bahasa, wicara dan suara yang bertujuan untuk digunakan sebagai landasan membuat diagnosis dan penanganan. Dalam perkembangannya terapi wicara memiliki cakupan pengertian yang lebih luas dengan mempelajari hal-hal yang terkait dengan proses berbicara, termasuk di dalamnya adalah proses menelan, gangguan irama / kelancaran dan gangguan neuromotor organ artikulasi lainnya.


Peran terapi wicara dalam penanganan stroke

Membantu memaksimalkan :
• Fungsi menelan (disfagia)
• Fungsi bahasa (afasia)
• Fungsi bicara (disartria)

TERAPI WICARA PADA DISFAGIA (FUNGSI MENELAN)

Disfagia adalah kesulitan menelan. Penyebab kesulitan menelan pada pasien stroke yaitu :
• menurunnya kekuatan dan atau tidak normalnya koordinasi pada otot-otot pada mulut dan lidah yang menyebabkan pasien tidak dapat mengumpulkan dan memposisikan makanan dalam mulut untuk disiapkan untuk ditelan
• Fungsi persarafan dan koordinasi otot sudah memburuk yang dapat menghambat proses menelan atau reflek menelan tidak baik


Screening menelan
• Amati kesimetrisan bibir
• Amati posisi uvula apakah simetris
• Amati gerakan lidah sesuai intruksi : dijulurkan, digerakkkan ke kiri dan kanan, atas dan bawah
• Lakukan asesmen menelan, minta pasien menelan satu sendok teh air putih, apakah batuk?
• Kalo tidak minta klien untuk untuk bicara “aaaah”, amati adakah batuk, apakah suara menjadi parau atau beriak?
• Ulangi 3-4 kali. Jika tidak ditemukan gangguan menelan, minta klien untuk minum dengan gelas 50-150 cc, amati adakah batuk (kesedak), suara menjadi parau atau beriak?


Jenis - jenis gangguan pada disfagia


1. Gangguan Tahap Oral
  • Tersedak sebelum menelan
  • Batuk sebelum menelan
  • Mengiler/drooling
  • Keluarnya makanan dari mulut
  • Ketidakmampuan membersihkan rongga mulut
  • Tidak sempurnanya penutupan mulut
  • Tidak dapat mengunyah
  • Lama makan dengan konsumsi yang sedikit
  • Pembentukan bolus lambat
  • Kelemahan menghisap


2. Gangguan Tahap Faring
  • Merubah posisi kepala
  • Tersedak
  • Batuk
  • Lambat menelan
  • Penolakan makanan
  • Muntah
  • Kualitas suara batuk


3. Gangguan Tahap Esopagus
  • Bau nafas asam
  • Bruxism (suara kerutan gigi)
  • Keluhan seperti tertusuk sesuatu
  • Rasa panas dalam perut
  • Batuk
  • Pemuntahan kembali isi lambung
  • Kemarahan yang tidak jelas pada waktu makan


Metode Terapi Disfagia


Ada sejumlah cara latihan atau manuver yang berguna untuk melatih fungsi motorik otot-otot yang bertugas dalam proses menelan .
• Stimulasi: Bersifat pasif, untuk meningkatkan respon/refleks yang diharapkan akan mengikuti setelah dilakukan stimulasi, bersifat manual maupun elektrik (Vibrator, Vital Stim)
• Latihan Oral Motor
  1. Latihan gerakan bibir
  2. Penutupan bibir
  3. Latihan gerakan rahang
  4.latihan gerakan lidah
• Effortful swallow, menekan dengan kuat menggunakan lidah dan otot-otot tenggorokan ketika menelan (kelemahan gerakan retraksi pangkal lidah)
• Mendelsohn maneuver, meningkatkan penutupan jalan udara saat makan (kelemahan elevasi laring)
• Postural technique:
  - chin down, menyentuhkan dagu ke leher
  - chin up, mengangkat dagu dan menengadahkan kepala ke belakang
  - head rotation, memutar kepala ke arah sisi yang lemah
  - head tilt posture, memiringkan kepala ke sisi yang tidak terganggu


TERAPI WICARA PADA AFASIA (FUNGSI BAHASA)


Afasia merupakan gangguan bahasa perolehan yang diseebabkan oleh cedera otak dan ditandai oleh gangguan pemahama serta gangguan pengutaraan bahasa, lisan maupun tertulis. Umumnya afasia muncul bila otak kiri terganggu. Karena otak kiri bagian depan berperan untuk kelancaran menuturkan isi pikiran dalam bahasa dengan baik, dan otak kiri bagian belakang untuk mengerti bahasa yang didengar dari lawan bicara. Namun ada beberapa laporan yang menyatakan gangguan ini dapat terjadi di belahan otak kanan, meski kasusnya sangat jarang.


Jenis – jenis Afasia
• Afasia global, semua modalitas bahasa meliputi kelancaran berbicara, pengertian bahasa lisan, penamaan, pengulangan, membaca dan menulis terganggu berat. Pada kasus ini penderita tidak bisa bicara sama sekali dan tidak mengerti apa yang dikatakan lawan bicara serta tidak bisa membaca dan menulis.
• Afasia Broca atau afasia motorik, merupakan ketidakmampuan bertutur kata. Namun ia mengerti bila diperintah dan menjawab dengan gerakan tubuh sesuai perintah itu. Meniru ucapan terganggu
• Afasia Wernicke atau afasia sensorik, merupakan ketidakmampuan memahami lawan bicara. Ia hanya lancar mengeluarkan isi pikiran, tetapi tidak mengerti pembicaraan orang lain. Meniru ucapan terganggu
• Afasia konduksi, merupakan ketidakmampuan mengulangi kata atau kalimat lawan bicara, namun penderita masih mampu mengeluarkan isi pikirannya dan menjawab kalimat lawan bicaranya.
• Afasia anomik, yang terganggu adalah penemuan dan penamaan kata membuat penderita ini tidak bisa menyebut nama benda yang dilihat, angka, huruf, bentuk gambar yang dilihat. Ia juga tak bisa menyebut nama binatang yang didengar suaranya atau benda yang diraba. Umumnya gangguan anomik terdapat pada semua penderita afasia dengan variasi kemampuan
• Afasia transkortikal sensorik, gangguan mirip dengan Wernicke, tetapi mampu menirukan kata/kalimat lawan bicara
• Afasia transkortikal motoris, terdapat gangguan dalam mengeluarkan isi pikiran. Mampu mengerti pembicaraan dan meniru ucapan
• Afasia transkortikal campuran, mirip afasia global, namun mampu menirukan ucapan lawan bicara


Cara bicara dengan pasien afasia
• Gunakan kalimat singkat dan jelas
• Kalau pasien kesulitan memahami sesuatu, jelaskan dengan isyarat atau gambar
• Kalau pasien mengalami kesukaran menjawab suatu pertanyaan, ajukan pertanyaan yang memungkinkan jawaban ya atau tidak


Metode penanganan Afasia
• Stimulasi Multimodal
• Intervensi Semantik Divergen
• Latihan Pemahaman auditif
• Terapi komunikasi total

TERAPI WICARA PADA DISARTRIA (FUNGSI BICARA)

Disartria adalah gangguan bicara yang diakibatkan cedera neuromuskuler. Gangguan bicara ini diakibatkan luka pada sistem saraf, yang pada gilirannya mempengaruhi bekerja baiknya satu atau beberapa otot yang diperlukan untuk bicara.


Jenis-jenis Disartria
1. Disartria Bulber
  - Bicara lemas
  - Huruf mati tidak tepat
  - Hipernasalitas (sengau)
  - Suara lemah dan parau
2. Disartria Miogen
  - Nada bicara pelan
  - Penghembusan nafas lemah
  - Pembentukan konsonan yang tidak tepat
3. Disartria Spastis
  - Konsonan tidak tepat
  - Monoton
  - Kurang tekanan
  - Suara serak
4. Disartria Ataksis
  - Konsonan tidak tepat
  - Tekanan yang berlebihan dan rata
  - Artikulasi yang tidak menentu memburuk
5. Disartria Hipokinetis
  - Monoton
  - Tekanan yang berkurang
  - Huruf mati tidak tepat
  - Nada bicara rendah
6. Disartria Hiperkinetis
  a. Hiperkinesis lambat
    - Huruf mati yang tidak tepat
    - Huruf hidup yang tidak benar
    - Suara serak
  b. Hiperkinesis cepat
    - Huruf mati yang tidak tepat
    - Istirahat yang diperpanjang
    - Kecepatan yang bervariasi
    - Monoton


Penanganan Disartria
• Penanganan gangguan Pernapasan (latihan penghembusan napas yang teratur)
• Penanganan gangguan Fonasi
• Penanganan gangguan Resonansi (fonem eksplosif dan vokal rendah /pa/)
• Penanganan gangguan Artikulasi
• Penanganan gangguan Prosodi (latihan membuat waktu istirahat dan tekanan)
(Ratna Fitriasih & Erlangga – Humas)

RSPON – Dalam rangka memperingati hari kanker dunia setiap 4 Februari, RS Pusat Otak Nasional mengadakan seminar kanker otak di lantai dasar yang dibawakan oleh dr Kemal Imran Sp.S, Mars (tanda klinis dan tata laksana kanker otak), Elis Nurhayati Agustina, Ners (penatalaksanaan keperawatan : tumor otak) serta Bernadetta Y.Bako, M.Psi (penangananan psikologis pada pasien kanker). Seminar kanker otak ini dihadiri oleh karyawan RS Pusat Otak Nasional, pasien RS Pusat Otak Nasional serta vendor.

Kanker otak merupakan pertumbuhan sel-sel abnormal didalam atau di sekitar otak secara tidak wajar dan tidak terkendali. Tumor yang dimulai dari otak dikenal dengan istilah tumor otak primer, sedangkan kanker yang dimulai dibagian lain dari tubuh dan menyebar hingga ke otak disebut dengan tumor otak sekunder atau metastatik.


Jenis-Jenis tumor primer :
• Glioma. Tumor yang berada pada jaringan glia (jaringan yang mengikat sel saraf dan serat) dan saraf tulang belakang. Kebanyakan tumor otak yang terjadi adalah jenis glioma.
• Meningioma. Tumor ini terjadi pada selaput yang melindungi otak dan saraf tulang belakang. Sebagian besar dari tumor ini tidak bersifat kanker.
• Hemangioma. Tumor yang terjadi pada pembuluh darah otak. Kondisi ini bisa menyebabkan lumpuh sebagian dan kejang-kejang.
• Neuroma akustik. Tumor yang tumbuh pada saraf akustik yang membantu mengendalikan keseimbangan dan pendengaran.
• Adenoma pituitary. Tumor pada kelenjar pituitary (kelenjar kecil yang terletak di bawah otak). Kebanyakan dari tumor ini adalah jenis tumor jinak dan bisa memengaruhi hormon pituitary dengan efek keseluruh tubuh
• Craniopharyngioma. Tumor yang cenderung terjadi pada anak-anak, remaja dan pemuda, berada di dekat dasar otak.
• Medulloblastoma. Ini adalah jenis tumor bersifat kanker paling umum pada anak-anak. Tumor dmulai dari bagian belakang bawah dari otak dan cenderung menyebar hingga cairan saraf tulang belakang. Meski jarabg terhaji pada orang dewasa, tapi kondisi ini bisa muncul.
• PNETs (primitive neuriectodermal tumors). Jenis tumor langka yang bersifat kanker dan dimulai sel janin di otak. Tumor jenis ini bisa muncul dibagian otak mana saja.
• Tumor germ cell. Tumor jenis ini biasanya berkembang saat masa kanak-kana ketika testikel atau ovarium mulai terbentuk. Tapi tumor jenis ini bisa perpindah kebagian tubuh lain seperti ke otak.


Tumor otak merupakan penyebab kematian kedua setelah stroke dalam kelompok penyakit neurologis (Rengachary 2005 dalam Mahyudin & Setiawan, 2006). Berdasarkan data penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional tahun 2014, meningioma 21 kasus (2.61%) dan astrocytoma 21 kasus (2.61%) menduduki peringat ke 3 dan 4 setelah stroke. Sedangkan data penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional tahun 2015, tumor intrakranial 129 kasus (22.87%) dan penyebab kematian kedua setelah stroke yaitu 9 kasus (39.13%).


Gejala tumor otak berdasarkan lokasi yaitu
Otak kecil atau cerebellum. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kehilangan fungsi koordinasi, kesulitan berjalan dan bicara, mata berkedip terus-menerus, leher kaku, dan muntah-muntah.
Batang otak. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kesulitan berjalan, lumpuh pada otot wajah, pandangan berbayang, serta kesulitan bicara dan menelan
Lobus frontal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan perubahan sikap seseorang, kehilangan indera penciuman, dan mengalami kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
Lobus parietal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kesulitan bicara, memahami kata-kata, menulis, membaca, dan mengendalikan gerakan. Salah satu bagian tubuh juga bisa mengalami mati rasa.
Lobbus occipital. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kehilangan penglihatan pada salah satu sisi.
Lobus temporal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kejang-kejang, pingsan, gangguan bicara dan ingatan, dan sensasi penciuman yang aneh.


Pengobatan yang dilakukan yaitu
Evakuasi jaringan tumor sebanyak banyaknya
Penghilang nyeri
Obat anti muntah
Kortikosteroid
Kemoterapi seperti Temozolamide
Radioterapi


Masalah psikologi yang sering terjadi pada pasien kanker adalah stabilitas emosi (mood swing, sedih berkepanjangan, depresi, cemas, frustasi), konsep diri (inferior atau kehilangan kepercayaan diri, putus asa, ketakutan akan kematian), serta interaksi sosial yang terganggu yaitu konflik interpersonal (konflik dengan keluarga, konflik dengan teman).


Penanganan dan perawatan psikologis pasien kanker yang baik, dapat membantu pasien meringankan beban psikologis, dan meningkatkan kepercayaan terhadap pengobatan, meningkatkan efektivitas pengobatan. Perawatan psikologis tidak hanya dapat dilakukan oleh Psikolog, petugas kesehatan baik dokter, perawat, farmasi, gizi juga dapat memberikan perawatan psikologis yang baik. Perhatian terhadap pasien, adanya dukungan sosial yang baik juga dapat meningkatkan efektivitas pengobatan. Dukungan sosial merupakan perasaan menyenangkan, diperhatikan, harga diri atau pertolongan yang diterima dari orang lain atau kelompok. Taylor (1983) mengemukakan bahwa dalam penelitian awal tentang benefit finding pada penderita kanker ditemukan bahwa 53% wanita yang didiagnosis menderita kanker mengalami perubahan yang positif dalam hidupnya sejak mereka didiagnosis menderita kanker tersebut. Perubahan positif yang dialama adalah wanita dengan diagnosis kanker menjadi lebih menerima, lebih fokus pada hubungan yang penting dengan keluarga dan teman serta mengubah prioritas hidupnya.


Ratna Fitriasih & Teguh Andenoworeh – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai persyaratan layanan BPJS disampaikan oleh Ibu Dahlia Anggraini, Amd (petugas rekam medis) dan Dinda Indrawati, SKM (petugas BPJS Centre) yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 4 Februari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar peserta penyuluhan memahami jalur administrasi BPJS untuk mendaftar di poli rawat jalan, rawat inap, IGD atau kecelakaan lalu lintas di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional melayani pasien dari PBJS, umum dan asuransi.


Administrasi BPJS Rawat Jalan Untuk Pasien Baru
1. Membawa rujukan dari faskes tingkat 1 (PUSKESMAS, dokter keluarga, klinik) yang ditujukan ke Rumah Sakit setempat (RS Pemerintah, Swasta yg bekerja sama dg BPJS) dan Lembar Rekomendasi DPJP yang masih kosong;
2. Membawa Rujukan dari Rumah Sakit setempat Tipe B atau A (RS Pemerintah, swasta yg bekerja sama dg BPJS) yang ditujukan ke RS. Pusat Otak Nasional dan Surat Rujukan dari Petugas BPJS di Rumah Sakit Tersebut;
3. Kartu BPJS
4. Persyaratan di atas difotokopi dua rangkap.


Administrasi BPJS Rawat Jalan Untuk Pasien Kontrol
1. Rujukan faskes tingkat 1
2. Rujukan Petugas BPJS di Rumah Sakit Setempat
3. Kartu BPJS
4. Lembar DPJP yang di isi oleh Dokter Sp.S di RS.PON
5. Surat Pengantar Konsul/ Permintaan pemeriksaan penunjang dari RS. Pusat Otak Nasional
6. Persyaratan di atas difotokopi dua rangkap.


Administrasi BPJS Pasien Rawat Jalan post (setelah) RANAP (Rawat Inap)
• Membawa Resume Medis, Resume Keperawatan dan Kartu BPJS
• Membawa Fotokopi Resume Medis rangkap 1
• Membawa Fotokopi Resume Keperawatan rangkap 1
• Membawa Fotokopi Kartu BPJS rangkap 2


(BERLAKU SELAMA 14 HARI SEJAK TANGGAL PULANG)

Administrasi BPJS Rawat Inap dari Poliklinik dan IGD
1. Fotokopi Kartu BPJS Rangkap 2
2. Fotokopi KTP Rangkap 2
3. Paling Lambat diserahkan 3X 24 Jam, jika tidak maka status akan di ubah menjadi PASIEN UMUM.
4. Ruang rawat sesuai kelas saat mendaftar BPJS untuk peserta mandiri dan sesuai golongan untuk PNS
5. Pasien kelas 3 mandiri dan PBI tidak bisa naik kelas


Administrasi BPJS IGD
1. Fotokopi Kartu BPJS Rangkap 2
2. Fotokopi KTP Rangkap 2


> Syarat dan Ketentuan*:
1. Urgent = di Cover
2. Less Urgent = di Cover
3. False Urgent = TIDAK di COVER

ditentukan oleh dokter sesuai indikasi medis


Administrasi BPJS Karena Kecelakaan Lalu Lintas
1. PT. Jasa Raharja (Persero) sebagai penjamin pertama/ utama.
2. BPJS Kesehatan sabagai penjamin kedua
3. Pasien BPJS Kesehatan dg KLL tunggal hanya ditanggung oleh BPJS


Mengurus Persyaratan?
Pasien BPJS Kesehatan dengan Kecelakaan Lalulintas membuat SURAT JAMINAN JASA RAHARJA dan mengurus SEP BPJS KESEHATAN


Administrasi BPJS dengan Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Tunggal
• Surat Keterangan Kepolisian
• Persyaratan BPJS
• Surat Keterangan Tidak Dijamin Jasa Raharja


Administrasu BPJS dg Kasus Kecelakaan Lalulintas Non Tunggal
• Surat Keterangan Kepolisian
• Surat Jaminan Jasa Raharja
• Persyaratan BPJS


Biaya Perawatan akan Menjadi Tanggungan pasien/Keluarga bila:
• Pelayanan Kesehatan dilakukan tanpa melalui prosedur
• Pasien dirawat saat DPJP menyatakan boleh pulang
• Pasien pulang tanpa persetujuan dokter dan masuk rawat inap lagi dg diagnosa yg sama dan merupakan satu rangkaian episode rawat sebelumnya
• Rawat inap tanpa ada indikasi medis atau tidak ada hubungannya ddg kondisi yg memerlukan perawatan (observasi yg bisa dilakukan di rawat jalan dan rawat untuk menunggu kesiapan di rumah)
• Pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa melalui prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan yang berlaku;
• Pelayanan kesehatan yang dilakukan di Fasilitas Kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, kecuali dalam keadaan darurat;
• Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan kerja terhadap penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja atau hubungan kerja;
• Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas yang bersifat wajib sampai nilai yang ditanggung oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas (Jasa Raharja sebagai penanggung pertama);
• Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri;
• Pelayanan kesehatan untuk tujuan estetik;
• Pelayanan untuk mengatasi infertilitas;
• Pelayanan meratakan gigi (ortodonsi);
• Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri, atau akibat melakukan hobi yang membahayakan diri sendiri;
Pengobatan komplementer, alternatif dan tradisional, termasuk akupunktur non medis, shin she, chiropractic, yang belum dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan (health technology assessment);
• Pengobatan dan tindakan medis yang dikategorikan sebagai percobaan (eksperimen);
Alat kontrasepsi, kosmetik, makanan bayi, dan susu;
Perbekalan kesehatan rumah tangga;
• Pelayanan kesehatan akibat bencana pada masa tanggap darurat, kejadian luar biasa/wabah;
• Biaya pelayanan kesehatan pada kejadian tak diharapkan yang dapat dicegah (preventable adverse events)
• Yang dimaksudkan preventable adverse events adalah cedera yang berhubungan dengan kesalahan/kelalaian penatalaksanaan medis termasuk kesalahan terapi dan diagnosis, ketidaklayakan alat dan lain-lain, kecuali komplikasi penyakit terkait.
• Biaya pelayanan lainnya yang tidak ada hubungan dengan Manfaat Jaminan Kesehatan yang diberikan


Peraturan Terkait
1. Peraturan Mentri Kesehatan RI no 28 tahun 2014 ttg Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional Bab IV huruf C poin 2.
2. Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis bagian alur rekam medis rawat inap poin (a) hal (39) "Setiap Pasien yg membawa SPR (Surat Pengantar Rawat) poliklinik/ IGD menghubungi tempat penerimaan pasien rawat inap, sedang pasien rujukan dari pelayanan kesehatan lain terlebih dahulu di periksa oleh dokter rumah sakit bersangkutan" dan ketentuan umum penerimaan pasien rawat inap (c) hal (43) "tanpa diagnosa yg tercantum dalam surat permintaan dirawat, pasien tidak dapat diterima"
(Ratna Fitriasih & Erlangga - Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai Cerebral Digital Subtraction Angiography (DSA) disampaikan oleh dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.S, FINS yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 27 Januari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar peserta penyuluhan mengenal lebih jauh mengenai alat canggih DSA serta manfaatnya bagi pasien stroke dan tumor.

Digital Subtraction Angiography (DSA) merupakan pemeriksaan penunjang terbaru dan canggih yang digunakan untuk penderita stroke dan kelainan pembuluh darah. DSA juga merupakan suatu teknik pencitraan pembuluh darah otak ekstra dan intracranial yang dikerjakan pada ruang angiografi mesin angio serta kontras. Alat ini sudah tersedia di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Indikasi Penggunaan
DSA bisa digunakan untuk kasus-kasus sebagai berikut :
1. Stroke iskemik akut, sirkulasi anterior < 8 jam dan sirkulasi posterior < 24 jam
2. Perdarahan sub-arachnoid spontan yang disebabkan pecahnya aneurisma
3. Perdarahan intracranial yang disebabkan oleh arteriovenous malforasi (AVM) atau dural AV fistula
4. Kasus tumor otak meningioma untuk embolisasi pre operatif dan tumor THT juvenile angiofibroma.

Kontra Indikasi
1. Alergi terhadap kontras
2. Gagal ginjal kronik

DSA Lebih Nyaman
Teknik DSA merupakan tindakan invasif. Resiko implikasi yang terjadi hanya 1% yaitu thrombo – emboli, perdarahan otak, alergi kontras serta hematoma groin. Pada DSA konvensional, untuk menggambar pembuluh otak, cairan kontras disemprotkan melalui pembuluh leher sebagai pembuluh terdekat. Film yang digunakan pun berlapis-lapis. Kini dengan teknologi canggih dan sistem digital yang terkomputerisasi, DSA bisa mendeteksi kelainan pada pembuluh darah secara akurat dan terukur, serta penggunaan cairan kontras seminimal mungkin. Jadi dengan tindakan invasif seminimal mungkin, hasil yang dicapai pun menjadi lebih baik.

(Ratna Fitriasih– Humas)

Pada 22 Januari 2016 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) telah diluncurkan layanan Magnetic Resonance Imaging (MRI) Skyra 3 Tesla untuk mempertajam diagnosis dokter. Layanan pemeriksaan MRI ini dilaksanakan oleh Instalasi Radiologi RS PON.

Pemeriksaan MRI adalah pemeriksaan yang memanfaatkan medan magnet yang memungkinkan melihat organ dalam tubuh dengan lebih teliti. Pada kasus stroke akibat penyumbatan pembuluh darah akut (sangat dini), MRI dapat mendeteksi kelainan yang sangat awal, yang tidak dapat dinilai dengan metode lain. MRI Skyra 3 Tesla memiliki teknologi paling mutakhir memungkin penilaian terhadap kelainan pada otak seperti tumor dengan nilai diagnostik dan ketepatan yang sangat tinggi, sehingga dapat membedakan tumor jinak dan ganas. Di RSPON, juga tersedia pemeriksaan untuk menilai fungsi bagian-bagian otak secara spesifik sebagai bagian dari penanganan pasien tumor sehingga efek samping akibat pembedahan dapat dihindari seminimal mungkin.

Oleh karena itu RSPON meluncurkan MRI yang terbaru dikelasnya, dengan kekuatan 3 Tesla yang mampu menghasilkan citra (image) dengan resolusi yang tinggi. Dengan keunggulan-keunggulannya adalah sebagai berikut :

1. menggunakan coil dengan kerapatan yang tinggi sehingga menghasilkan kualitas gambar yang lebih baik, SNR yang lebih tinggi, dan resolusi yang lebih tinggi dengan waktu pemeriksaan yang lebih cepat.
2. Diameter alat 70 cm, paling luas di kelasnya, sehingga pemeriksaan lebih nyaman dan lebih bisa ditoleransi oleh orang yang takut dengan ruang sempit (claustrophobic).
3. Sebagian pemeriksaan lebih cepat dan tidak berisik (quiet).
4. Lama pemeriksaan pada kasus stroke akut hanya dalam waktu 6-8 menit.
5. Membedakan kasus infeksi, tumor primer atau metastasis, dan tingkat keganasan dengan memanfaatkan protokol DWI, MR spektroskopi dan MR perfusi.
6. Protokol MR navigasi dan DTI untuk kepentingan perencanaan operasi sehingga memiliki presisi yang tinggi dan meminimalisasi efek samping.
7. Mampu menilai saraf cranial dengan teknik 3 dimensi.
8. Memiliki kemampuan fMRI (functional MRI) untuk menilai area aktifitas otak yang mengalami eksitasi setelah diberikan rangsangan yang sesuai. Banyak digunakan untuk menilai fungsi luhur dan pre surgical planning.
9. Dapat melakukan pemeriksaan seluruh vertebrae (whole spine).
10. Dapat mendeteksi lesi metastasis pada tulang (hampir) seluruh tubuh pada satu pemeriksaan whole body DWI.
11. Mampu menilai pembuluh darah, otak, dan tungkai (MRA-MRV).
12. Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan kualitas gambar yang lebih baik, sehingga sangat baik untuk deteksi dini maupun evaluasi.
13. Dengan kekuatan magnet yang lebih besar, untuk pemeriksaan pada organ yang dipengaruhi oleh pergerakan nafas seperti regio thorax dan abdomen, pasien hanya perlu menahan nafas dalam waktu yang lebih singkat.
14. Kemampuan auto aligned, memungkinkan menghasilkan gambar yang sama dengan pemeriksaan sebelumnya, sehingga memudahkan penilaian pada pemeriksaan follow up.

Sedangkan layanan pemeriksaan MRI yang dapat dilakukan di RSPON adalah sebagai berikut :
1. MRI kepala pada kasus stroke akut.
2. MRI kepala pada kasus stroke berulang.
3. Tumor kepala: dilengkapi DWI, MR spektroskopi, MRI perfusi.
4. DTI (Diffusion Tensor Imaging) atau tractography.
5. MR Angiography dan venography, tanpa dan dengan kontras.
6. MRI kepala pada kasus lain: epilepsi, demensia.
7. fMRI (Functional MRI)
8. MRI vertebrae: whole spine, cervical, thoracal, lumbosacral.
9. MR Angiography spine
10. Ekstremitas: shoulder, elbow, wrist, hand, hip, genu, ankle, foot.
11. MR Angiography dan Venography ekstremitas atas dan bawah.
12. MRCP
13. MR abdomen, tanpa dan dengan kontras.
14. MR urography.
15. MR lung dan mediastinum.
16. MR plexus brachial dan lumbosacral.
17. MR breast.

(Erlangga – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai risiko jatuh pada pasien disampaikan oleh Ade Martiwi, S.Kep, Ners, yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 21 Januari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar peserta penyuluhan bila memiliki anggota keluarga yang memiliki risiko jatuh dapat mencegah atau meminimalisasi kejadian jatuh serta apa yang harus dilakukan bila dirinya atau anggota keluarganya/pasien yang memiliki risiko mengalami jatuh.

Dengan mengenali orang-orang disekitar kita yang memiliki risiko jatuh, maka 50 % - 60% kejadian jatuh bisa diminimalisasi. Kita bisa mengidentifikasi apakah diri kita ataupun anggota keluarga atau orang terdekat memiliki tanda-tanda risiko sebagai berikut :
1. Penggunaan obat-obatan tertentu dan alkohol. Umumnya terjadi pada pasien yang diberikan obat minimal 4 macam. Disarankan untuk bertanya kepada dokter atau farmasi mengenai efek samping apa saja bila meminum obat yang diresepkan.
2. Lansia dengan perubahan fisiologis: misalnya berkurangnya penglihatan.
3. Penderita penyakit tertentu: misalnya stroke, Parkinson.
4. Seseorang dengan masalah ketidakseimbangan atau kurangnya aktifitas fisik.
5. Penggunaan alat bantu gerak.
6. Seseorang dengan nyeri.
7. Seseorang dengan gangguan daya pikir, daya ingat, atau masalah kesehatan mental.

Bila kita atau anggota keluarga terdeteksi memiliki satu atau lebih faktor resiko diatas maka perlu dilakukan modifikasi terhadap faktor lingkungan di rumah yaitu perawatan dan pemilihan lantai yang tidak licin, kondisi pintu dan jendela pastikan dalam kondisi baik, pencahayaan dan ventilasi yang cukup, penyusunan furniture rumah tangga, perawatan kamar mandi agar tidak licin, serta kondisi kelistrikan yang aman.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah pasien jatuh di rumah yaitu :
Mendampingi dan membantu pasien saat berjalan atau berpindah duduk.
Mengawasi pasien saat beraktifitas, jangan ditinggal sendirian.
Mengingatkan pasien untuk menggunakan alat bantu jalan yang sesuai kondisi pasien.
Mengingatkan pasien untuk menggunakan alat bantu penglihatan atau pendengaran.
Menghindari jalan yang licin/basah/gelap.
Tidak mengunci pintu kamar mandi atau ruang tertutup.
Menghidupkan lampu di malam hari.
Menggunakan alas kaki saat berjalan.
Cukup minum, selama tidak ada anjuran untuk pembatasan cairan.
Olahraga teratur dan berjemur di pagi hari.

Apa yang harus dilakukan bila pasien terjatuh:
1. Mengamankan pasien
2. Mengamankan lingkungan sekitar
3. Memeriksa kondisi pasien.
4. Memberikan tindakan pertolongan pertama pada pasien.
5. Mencatat kondisi pasien dan waktu kejadian.
6. Mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat.
(Ratna Fitriasih & Erlangga – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai pentingnya latihan motorik halus untuk pasien stroke disampaikan oleh Ibu Handayani Andri, AmD, OT, yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 14 Januari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga pasien penderita stroke mengetahui latihan motorik untuk pasien stroke dan manfaatnya untuk keseharian pasien stroke.

Stroke merupakan gangguan fungsional otak akibat dari kerusakan sebagian sel-sel otak, yang ditimbulkan oleh sumbatan aliran darah ke otak, atau ada robekan dinding pembuluh darah otak. Masalah pada penderita stroke yang seringkali terjadi adalah gangguan pada motorik, sensorik, komunikasi serta kognitif dan persepsi. Gangguan ini menyebabkan aktifitas sehari-hari, produktifitas serta hobi yang biasa dilakukan oleh pasien stroke terganggu karena pasien stroke menjadi tidak mandiri melakukan aktifitasnya.

Gangguan motorik yang terjadi terdiri dari gangguan motorik kasar yaitu pada bagian otot besar seperti otot tungkai serta gangguan motorik halus. Gangguan motorik halus yang biasa terjadi adalah kemampuan menjangkau atau meraih, menggenggam, membawa benda, membuka genggaman untuk mengeluarkan benda yang digenggam serta in hand manipulation (memanipulasi benda yang telah digenggam) serta bilateral hand use (menggunakan kedua tangan secara bersama-sama). Gangguan motorik halus terjadi di bagian bahu, lengan sampai jari tangan.

Untuk mengembalikan kemampuan motorik halus maka diperlukan latihan motorik halus pada pasien stroke. Prinsip utama sebelum melakukan latihan motorik halus sebaiknya latihan dimulai dari bagian tubuh yang besar ke bagian yang lebih kecil yaitu mulai dari bahu sampai jari tangan.

Latihan motorik halus yang paling efektif adalah latihan aktif yaitu latihan dilakukan atas kesadaran diri pasien stroke untuk menggerakan tubuhnya. Tapi bila hal ini tidak memungkinkan maka bisa dilakukan latihan motorik halus secara pasif yaitu membutuhkan bantuan orang lain untuk melatih bagian tubuh yang memiliki gangguan. Berikut contoh latihan pasif motorik halus untuk anggota gerak atas.

Latihan Pasif Anggota Gerak Atas

Gambar 1 : Gerakkan menekuk dan meluruskan sendi bahu


Gambar 2 : Gerakkan menekuk dan meluruskan siku


Gambar 3 : Gerakkan menekuk pergelangan tangan


Gambar 4 : Gerakkan membuka ibu jari


Gambar 5 : Gerakkan menekuk dan meluruskan jari-jari tangan


RS Pusat Otak Nasional melayani terapi okupasi sesuai rujukan dokter.
(Ratna Fitriasih & Teguh Andenoworeh – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai diet sehat dilakukan oleh tim PKRS dan disampaikan oleh Ibu Rodlia, S.Gz, MKM yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional di 7 Januari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga pasien penderita stroke mengetahui mengenai diet sehat untuk pecegahan stroke agar tidak berulang kembali.

Stroke merupakan gangguan fungsi otak yang terjadi secara mendadak, disebabkan oleh gangguan pembuluh darah di otak, dan dapat mengakibatkan kematian. Stroke bisa dicegah yaitu dengan cara berhenti merokok, olahraga teratur, istirahat yang cukup, pengaturan pola makan, serta kontrol dokter jika ada faktor resiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi.

Pengaturan pola makan yang sehat sangat penting untuk pencegahan stroke ataupun untuk penderita stroke, yaitu makan sesuai dengan kebutuhan, perbanyak makanan tinggi serat, konsumsi lemak/minyak nabati (minyak kacang, minyak zaitun, minyak jagung, dsb), batasi makanan tinggi lemak jenuh (kolesterol), batasi makanan tinggi gula maksimal 35 g/hari (7-8 sendok teh peres), batasi penggunaan garam maksimal 10 gr/hari (1 sendok makan peres) serta hindari minuman beralkohol.
(Ratna Fitriasih – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai makanan cair dilakukan oleh tim PKRS dan disampaikan oleh Ibu Anggita Marlida, Amd.Gz. , yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga maupun pengasuh pasien mengetahui mengenai makanan cair dan cara pembuatannya agar bisa dipraktekan pada pasien yang membutuhkan.

Makanan cair merupakan makanan yang memiliki konsistensi cair hingga kental yang ditujukan untuk pasien yang mengalami gangguan mengunyah, menelan, dan mencerna makanan yang disebabkan oleh menurunnya kesadaran, suhu tinggi, rasa mual, muntah, pasca pendarahan saluran cerna serta pra dan pasca bedah.

Jenis makanan cair yang tersedia di rumah sakit ada 4 macam yaitu makanan cair dengan susu (whole cream) yang ditujukan untuk pasien dengan lambung, usus dan kolon normal, makanan blender yaitu ditujukan untuk pasien yang memerlukan makanan tambahan, makanan cair rendah laktosa yang ditujukan untuk pasien yang tidak tahan terhadap laktosa, serta makan cair tanpa susu yang ditujukan untuk pasien yang tidak tahan terhadap protein susu.
(Ratna.F & Erlangga-Humas)

RSPON – Kebersihan tangan sangat penting dalam proses penularan penyakit khususnya di lingkungan Rumah Sakit. Karena itu RS Pusat Otak Nasional mengadakan penyuluhan mengenai pentingnya kebersihan tangan oleh tim PKRS yang disampaikan oleh Ibu Suci Fatimah Kendarti, S.Kep, Ners. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga maupun pengasuh pasien mengerti dengan benar dan tepat cara membersihkan tangan agar meminimalisasi penular penyakit yang berasal dari tangan. Kenapa penting memperhatikan kebersihan tangan dengan mencuci tangan dengan benar? Karena selain banyaknya kuman penyakit yang ada di tangan yang tidak/jarang dibersihkan, ada juga kondisi saat tangan sudah dibersihkan tapi seringkali ada bagian dari tangan yang tidak dibersihkan dengan tepat. Bagian tangan yang sering abai dibersihkan bisa dilihat dari tanda warna merah pada gambar di bawah ini:

Gambar 1 : Bagian Tangan yang sering terlewati dibersihkan dalam mencuci tangan


Cara mencuci tangan dilakukan dalam 6 langkah mudah, melalui 2 cara yaitu dengan menggunakan sabun dan air mengalir selama 40 sampai 60 detik atau menggunakan hand rub berbahan dasar alkohol selama 20-30 detik.

Gambar 2. 6 Langkah mencuci tangan


Kapan sebaiknya kita mencuci tangan? Segera setelah tiba di rumah sakit, gunakan hand rub yang tersedia. Sebelum kita menyentuh/memegang/bersalaman dengan pasien, sebelum makan serta sebelum meninggalkan rumah sakit. Selain itu perlu mencuci tangan setelah melakukan hal-hal berikut : kontak (memegang, bersalaman) dengan pasien, menggunakan toilet, menyentuh/melap hidung, menyentuh lingkungan pasien serta terpapar cairan tubuh pasien.

Tidak kalah pentingnya adalah selalu pastikan saat mencuci tangan, kuku terpotong pendek rapi serta jam tangan, gelang dan cincin dilepas sebelum mencuci tangan.
(Ratna Fitriasih/Humas)

RSPON – Acara Pengambilan Sumpah/ Janji PNS dilingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional denagn jumlah peserta 321 orang Pegawai Negeri Sipil yang dibagi ke dalam 3 (tiga) tahapan pengambilan sumpah tanggal 23, 26 dan 30 Oktober 2015. Pengambilan Sumpah/Janji PNS tersebut dilaksanakan di ruang serba guna Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Pengambilan Sumpah/Janji PNS berdasarkan pada UU nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS, serta Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, bahwa setiap PNS wajib mengucapkan Sumpah/Janji PNS menurut Agama dan Kepercayaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Acara Pengambilan sumpah dilakukan oleh Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS dan peserta yang besrsangkutan, dengan disaksikan oleh Direksi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Direktur Pelayanan DR. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS, Direktur SDM & Diklit drg. Sophia Hermawan, M.Kes dan Direktur Keuangan dan Administrasi Umum Drs. Syamsuri, MM, M.Ak. yang dibuktikan dengan penandatanganan Berita Acara Sumpah/Janji PNS.
(Humas RS PON)