Dalam Rangka Peringatan Hari Stroke Sedunia yang jatuh pada tanggal 29 Oktober, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menyelenggarakan pelaksanaan salah satu program Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) yaitu pengabdian masyarakat di Lingkungan Sekitar Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (Cawang), diisi dengan kegiatan : 1. Pemeriksaan Deteksi Dini Risiko Stroke ; 2. Penyuluhan Tentang Pencegahaan Stroke.


-(Ruly-Humas RSPON)

RSPON – Rumah Sakit Pusat Otak Nasional merupakan rumah sakit pusat rujukan nasional khusus otak dan sistem persarafan tipe A milik Kementerian Kesehatan yang menyelenggarakan upaya pencegahan, penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan dengan upaya peningkatan kesehatan lainnya. Sebagai Rumah Sakit rujukan yang terdepan dibidang otak dan persarafan, Rumah Sakit Pusat Otak nasional dapat dimanfaatkan sebagai rumah sakit pendidikan afiliasi dibidang Neurologi dan Bedah Saraf.

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional yang memiliki peran sebagai Rumah Sakit Pendidikan, pada Rabu, 25 Oktober 2017, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan Universitas Sumatera Utara menandatangani kerjasama dalam hal sebagai rumah sakit khusus dengan unggulan pelayanan kedokteran dan kesehatan dibidang otak dan persarafan yang digunakan oleh institusi pendidikan untuk memenuhi kurikulum mencapai kompetensi spesialis. Penadatangan MOU tersebut dilakukan langsung oleh Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, dr Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S (K) di Ruang Direktur Utama. Hadir dalam penandatangan tersebut Direktur Keuangan dan Administrasi Umum, Direktur Pelayanan dan Pejabat lainnya.

Melalui kerjasama ini, diharapkan kedua belah pihak sesuai fungsi dan perannya memberikan peraturan umum dan arahan untuk pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di bidang ilmu Neurologi dan Bedah Saraf.


-(Ruly-Humas RSPON)

RSPON – Cervical Radiculopathy atau servikal radikulopati adalah penyakit yang disebabkan oleh saraf yang terjepit (tertekan) pada tulang belakang. Yang dapat menyebabkan nyeri, mati rasa, kesemutan, atau kelemahan sepanjang jalur saraf. Bagian servik (leher) pada tulang belakang memiliki tujuh ruas tulang, dimana akar saraf ke-7 (60%) dan ke-6 (25%) adalah yang paling rentan. Gejala dari penyakit ini adalah nyeri leher yang menyebar ke bahu, lengan atas atau lengan bawah, dan kelemahan atau spasme otot. Juga disertai gangguan motorik serta nyeri pada tulang belakang..

Dari data diketahui bahwa 34% dari populasi didapatkan radikulopati servikal dan hampir 14% mengalami nyeri lebih dari 6 bulan. Oleh karena itu, diperlukan adanya penanganan fisioterapi setelah diberikan penanganan dari dokter saraf. Fisioterapi adalah sebagai salah satu komponen penyelenggaraan kesehatan yang dapat berperan aktif dalam usaha mengurangi nyeri, mengurangi spasme (kesemutan/mati rasa), meningkatkan lingkup gerak sendi dan mengembalikan kemampuan fungsional aktivitas pasien guna meningkatkan kualitas hidup.

Mengingat radikulopati servikal menimbulkan gejala nyeri yang tidak terlokalisasi dengan baik dan masih menjadi masalah yang krusial dalam kesehatan, khususnya neurologi. Untuk itu, Fisioterapis RS PON menggandeng Ikatan Fisioterapi Indonesia (IFI) sebagai pemberi Satuan Kredit Profesi (SKP), mengadakan seminar dan workshop fisioterapi mengenai “Manual Therapy For Cervical Radiculopathy.” Yang dilaksanakan pada Minggu, 10 September 2017 bertempat di aula utama gedung B RS PON.

Acara diikuti oleh 60 fisioterapis rumah sakit yang berasal dari Jabodetabek dan Bandung. Bahkan, panitia sempat menolak untuk menambah jumlah peserta karena peminatnya sangat banyak. Seminar ini membeberkan bagaimana memahami manajemen fisioterapi yang baik dan benar dalam asesmen, diagnosis, dan pemberian terapi manual untuk mengurangi keluhan pada kasus radikulopati servikal. Selain itu, juga diberikan materi dan praktik langsung oleh pakarnya, bagaimana menangani penyakit tersebut secara langsung.

Seminar ini diisi oleh 2 (dua) narasumber yang berkompeten dibidangnya. Yaitu, dr. Kemal Imran, Sp.S, MARS yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Medik dan aktif sebagai dokter spesialis saraf di RS PON. Dan, sebagai pembicara utama adalah Sugijanto, Dipl.PT, S.FT., M.Fis sebagai fisioterapis ahli di bidang radikulopati servikal. Yang saat ini aktif sebagai dosen di fakultas fisioterapi Universitas Esa Unggul, Jakarta, dan menempuh pendidikan Magister Fisiologi Olah Raga Konsentrasi Fisioterapi, pada Universitas Udayana, Bali. Saat ini juga beliau masih aktif sebagai praktisi fisioterapi dan anggota kolegium IFI.


-(Erlangga-Humas RSPON)

RSPON – Sebagai Rumah Sakit yang telah berdiri 3 tahun yang lalu dan sebagai rumah sakit rujukan nasional tipe A, mempunyai fungsi memberikan pelayanan kepada pasien kasus otak dan persarafan. Peranannya adalah sebagai RS yang memberikan pelayanan pengobatan kasus Neurologi dengan teknologi radiologi mutakhir, khususnya alat radiologi MRI 3 tesla yang dimiliki oleh RS PON. Hal ini sebagai penunjang diagnosis pada kasus Neurologi dan Neurosurgery. Dalam kesempatan ini, telah dilaksanakan 2 (dua) simposium dengan tema yang berbeda. Diantaranya simposium “Meet the expert: Clinical, Radiology, Surgery Update in Neurology Cases” yang diperuntukan bagi dokter spesialis, khsusunya spesialis saraf, bedah saraf, juga dokter spesialis radiologi yang ada di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Sedangkan, simposium yang kedua mengangkat tema “MRI In Neuro Imaging : Essential Role and Advance Application” untuk para radiografer. Yang mana dalam simposium tersebut diisi pula dengan workshop bagi para radiografer yang ada di wilayah DKI Jakarta.

Simposium ini memperkenalkan keberadaan RS PON sebagai rumah sakit yang dikhususkan untuk pelayanan di bidang otak dan persarafan. Sekaligus, memperkenalkan teknologi radiologi yang ada di RS PON untuk dokter spesialis dan radiografer. Yang mana tidak semua rumah sakit di Jakarta, bahkan daerah lain memiliki fasilitas ini, yaitu MRI 3 Tesla.

Selain itu simposium terselenggara dalam rangka peringatan ulang tahun ke-3 RS PON. Dalam simposium tersebut, diisi oleh para pembicara yang kompeten dan berpengalaman di bidangnya. Seperti, dokter spesialis saraf, dokter spesialis radiologi, dokter spesialis bedah saraf yang bertaraf nasional dan berstatus sebagai dokter senior/konsultan. Salah satunya ada Profesor dr. Yusuf Misbach, Sp.S (K), FAAN. dr. Lyna Soertidewi K, Sp.S (K), M.Epid, dr. Abrar Arham, Sp.BS, dr. Melita, Sp.Rad (K), juga dokter lain yang memiliki kompetensinya masing-masing.

Selain itu, narasumber dalam simposium dan workshop untuk radiografer diisi selain oleh dokter juga oleh radiografer senior, seperti Ni Ketut Sutariningsih, S.ST. Purwantoro, AMR dan Wahyu Widhianto, serta pengurus pusat Perhimpunan Radiografer Indonesia (PARI).

Simposium dilaksanakan pada Sabtu dan Minggu, 15 dan 16 Juli 2017. Acara telah berjalan dengan sukses dan lancar dengan antusiasme peserta yang tinggi. Sehingga, tidak heran dalam acara tersebut banyak interaksi yang muncul berupa tanya jawab dari pembicara dan peserta.


-(Erlangga-Humas RSPON)

RSPON – Rumah Sakit Pusat Otak Nasional terus berbenah memperbaiki semua sarana penunjang yang akan memberikan dampak positif terhadap pelayanan kepada publik, khususnya pasien RS PON. Salah satu perubahannya adalah memfasilitasi operasional manajemen Rumah Sakit yang ada di gedung B. Dan, purna pemanfaatannya resmi dilakukan dengan penadatanganan prasasti oleh Menteri Kesehatan pada 15 Agustus 2017 yang lalu.

Gedung yang baru saja diresmikan ini dibangun untuk mengakomodasikan pelayanan kepada semua stake holder yang ada di RS PON. Oleh karena itu, dalam gedung B tersebut banyak ruang yang difungsikan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan RS PON. Seperti, gedung parkir yang terdiri dari 10 lantai, rumah singgah bagi keluarga pasien luar kota dan tempat menginap bagi dokter RSPON yang melakukan pelayanan malam. Selain itu, tersedia Ruang Riset Medis dan Ruang Manajemen bagi karyawan penunjang kegiatan pelayanan.

Sisi lain gedung B juga memfasilitasi ruang pertemuan dan auditorium yang mampu menampung 500 pengunjung, disertai adanya ruang-ruang rapat kecil dan menengah yang mengelilingi auditorium utama tersebut. Ruang tersebut dapat digunakan untuk berbagai acara, baik acara internal maupun eksternal dengan sistem sewa berbayar yang dapat menghubungi bagian Administrasi Umum RS PON.

Peresmian Gedung B yang dilakukan oleh Menteri Kesehatan Nila Djuwita F. Moeloek pada 15 Agustus 2017, dihadiri oleh berbagai pihak terkait, seperti Wakil Ketua Komisi IX, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur, para pejabat eselon I dan II di lingkungan Kementerian Kesehatan, para akademisi, para dokter dan pakar spesialis bidang persarafan, dan lainnya. Dalam sambutan peresmiannya, Ibu Menteri Kesehatan menitipkan pesan bahwa RS PON harus terus mengembangkan dan meningkatkan kemampuannya untuk pelayanan pengobatan (kuratif) di bidang otak dan persarafan. Yang mana prediksi tahun 2030 jumlah penduduk manula di Indonesia akan meningkat drastis, sehingga diperkirakan jumlah penderita penyakit saraf pun akan semakin meningkat seperti demensia, alzheimer, dan stroke yang kini menjadi penyakit yang mulai banyak diderita oleh warga Indonesia. Hal ini disebabkan karena pola hidup yang kurang sehat dan kecenderungan meningkatnya penyakit tidak menular akan berdampak pada peran RS PON dalam melayani pasien tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Ibu Menteri Kesehatan juga melakukan penandatangan prasasti peresmian gedung B dan melakukan gunting pita di depan ruang manajemen yang sudah ditempati sejak Februari 2017. Pengenalan lebih lanjut kepada Ibu Menteri Kesehatan dan undangan adalah melakukan Hospital Tour, melihat fasilitas layanan poliklinik eksekutif terbaru terletak di lantai 5, dan menilik juga Tempat Penitipan Anak (TPA) “Harapan Bunda.” Yang di dalamnya terdapat ruang laktasi atau menyusui yang diperuntukkan khusus bagi karyawan RS PON. TPA ini adalah hasil karya Dharma Wanita Persatuan (DWP) RS PON. Lokasinya terletak di lantai 4 gedung A.


-(Erlangga-Humas RSPON)

RSPON – Pada Rabu, 17 Mei 2017, bertempat di Lantai 1 Gedung Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Rumah Sakit Pusat Otak Nasional membuka pelayanan deteksi dini Alzheimer dan Demensia, dalam acara Hari Lanjut Usia Nasional yang diselenggarakan oleh BKKBN.

Dalam kesempatan tersebut, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional membuka open table untuk para peserta seminar, karyawan BKKBN dan masyarakat umum, untuk mendeteksi dini Alzheimer dan dimensia. Peserta nampak antusias melakukan pemeriksaan, yang ditangani langsung oleh perawat dan dokter spesialis syaraf Rumah Sakit Pusat Otak nasional, dr Asnelia Devicaesaria, Sp.S.

Demensia secara singkat adalah gangguan daya ingat yang menyerang manusia. Secara umum demensia akan menyerang mereka yang berusia tua karena sel otak yang telah usang kehilangan kemampuannya. Namun selain karena usia, demensia juga bisa disebabkan karena pola hidup yang tidak sehat seperti kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, hingga stres. Sementara Alzheimer merupakan gangguan penurunan fungsi otak akibat serangan bertumbuhnya plak dan simpul berbahaya di otak. Beberapa bagian otak akan terganggu karena hal ini hingga menimbulkan serangkaian gangguan ingatan, kognitif, verbal, hingga kematian. Alzheimer sendiri bisa menjadi salah satu penyebab dari demensia. Demensia juga bisa terjadi sehabis stroke atau yang disebut dengan Demensia Vascular.

Dengan adanya deteksi dini alzheimer dan demensia, diharapkan peserta lebih waspada terhadap gejala Demensia maupun Alzheimer, dengan tetap menjaga pola hidup yang sehat.
-(Ruly Irawan-Humas RSPON)

RSPON – Seiring dengan kemajuan teknologi dan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, Manajemen Rumah Sakit Pusat Otak Nasional memperkenalkan sistem pendaftaran Online berbasis Website dan Android, seperti Rumah Sakit Vertikal lainnya dibawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Pasien yang ingin berobat di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, semakin mudah untuk melakukan pendaftaran tanpa harus datang pagi hari untuk mengambil tiket antrian pendaftaran. Dengan memanfaatkan ponsel berbasis Android, pasien atau keluarga pasien dapat mengunduh aplikasi Pendaftaran Online di Play Store atau membuka portal web di www.rspon.co.id untuk mendaftar secara online.

Untuk memperkenalkan pendaftaran online ini, Tim Promosi Kesehatan dan Tim SIRS melakukan sosialisasi kepada pasien dan keluarga pasien di poliklinik lantai 2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Dalam Sosialisasi, dijelaskan bahwa pendaftaran Online dapat dilakukan melalui aplikasi Android atau Website www.rspon.co.id. Untuk pendaftaran melalui website, pasein dapat mendaftar sebagai pasien baru maupun lama. Poliklinik yang didaftarkan yaitu Poliklinik Neurologi Umum, THT, Gigi dan Poliklinik Vaksin. Sementara pendaftaran melalui aplikasi Android, untuk pasien baru dan lama ke seluruh Poliklinik Neurologi di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Pendaftaran Online dapat dilakukan 1 bulan hingga 3 hari menjelang hari H pemeriksaan.

Adapun cara pendafataran online sebagai berikut : Pendaftaran melalui aplikasi Android
1. Cari Aplikasi Pendaftaran Online di Play Store.
2. Unduh Aplikasinya.
3. Instal Aplikasi di Telepon Genggam.
4. Buka Aplikasi yang sudah di unduh.
5. Pilih Rumah Sakit (RSK Pusat Otak Nasional)
6. Pilih Jenis pasien baru/lama
7. Pengisian Identitas (bagi pasien lama, masukan no rekam medis)
8. Pilih tanggal dan Poliklinik yang dituju.
9. Bukti Pendaftaran (pasien yang sudah mendaftar online, mendapatkan kode registrasi)
10. Masukan di Mesin Antrian (pasien datang di tanggal yang didaftarkan. Masukan kode registrasi di mesin antrian).

Pendaftaran melalui website www.rspon.co.id :
1. buka Website www.rspon.co.id (pilih pendaftaran online).
2. Pilih Jenis kunjungan (pasien baru / lama).
3. Pendaftaran Pasien (isi data pasien jika pasien baru, masukan no rekam medis jika pasien lama).
4. Pilih Klinik/dokter.
5. Pilih Poliklinik yang akan dituju.
6. Pilih tanggal kunjungan.
7. Dapatkan tiket Reservasi.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa untuk peserta BPJS yang sudah mendaftar melalui pendaftaran online untuk mempersiapkan berkas rujukan berjenjang sesuai dengan ketentuan BPJS yang berlaku. Diharapkan dengan adanya pendaftaran online ini, pasien dan keluarga pasien dapat beralih ke sistem online, selain lebih efektif dan efisien, juga menghindari antrian dan penumpukan pasien di pendaftaran. Manajemen Rumah Sakit Pusat Otak Nasional akan terus berinovasi dan meningkatkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat, sesuai dengan motto Rumah Sakit Pusat Otak Nasional “Melayani dengan Mulia”. (Ruly Irawan, Syamsuri, Weny-RSPON)

RSPON – Dalam rangka memperingati Hari Epilepsi Sedunia, tepatnya kamis (06/04/2017) Rumah Sakit Pusat Otak Nasional bekerjasama dengan PT. Mersi mengadakan seminar edukasi mengenai epilepsi. Seminar dibuka untuk umum terutama keluarga pasien serta tenaga kesehatan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dan bertempat di hall lantai 16.

Terdapat 2 (dua) narasumber, yaitu dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S dari poliklinik epilepsi serta Lucky Erlandi Pranianto, S.Kep. NERS. Materi yang dibawakan bertajuk “Kenali Epilepsi Sejak Dini” dan “Epilepsi dalam Perspektif Keperawatan”. Hal tersebut bertujuan agar peserta seminar memahami seluk beluk epilepsi tidak hanya dari pandangan kedokteran namun juga dari asuhan keperawatan.

Epilepsi merupakan suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan berulang akibat lepasnya muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron (sel syaraf) otak secara paroksismal, dan disebabkan oleh berbagai etiologi, bukan disebabkan oleh penyakit otak akut. (Pokdi Epilepsi PERDOSSI, 2011).

dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S menjelaskan bahwa epilepsi dapat terjadi pada siapa saja – segala golongan dan segala usia. Kemudian mitos yang ada pada masyarakat yang selama ini menyebutkan bahwa epilepsi merupakan penyakit keturunan adalah keliru. Epilepsi bukan penyakit keturunan dan bukan penyakit menular. Selain itu, seringkali ada mitos yang mengatakan epilepsi merupakan suatu bentuk kutukan atau kerasukan jin/setan. Hal tersebut merupakan mitos karena epilepsi sesungguhnya adalah penyakit menahun akibat aktivitas listrik otak yang abnormal dan tidak ada hubungannya dengan makhluk gaib.

Dari sisi keperawatan, Lucky Erlandi Pranianto, S.Kep.,NERS menekankan bahwa dukungan keluarga memiliki peranan terbesar bagi pasien epilepsi. Keluarga perlu teredukasi dengan baik seperti memahami bahwasannya Orang Dengan Epilepsi (ODE) tidak diperbolehkan menyetir kendaraan bermotor serta tidak dibiarkan berada sendirian di kolam renang maupun tempat-tempat yang berdekatan dengan sumber api karena ditakutkan mencederai si pasien apabila tiba-tiba epilepsinya kambuh.

Adanya stigma negatif justru beresiko menurunkan kualitas hidup ODE dan keluarga. Stigma yang mengatakan ODE merupakan gangguan mental harus dihilangkan karena sejatinya epilepsi bukan merupakan gangguan mental, atau tanda dari tingkat intelegensi yang rendah. Disamping itu, dukungan keluarga merupakan hal yang esensial pada ODE untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
(Ratna Fitriasih– Humas)

RSPON – Pada Jumat, 31 Maret 2017, bertempat di Ruang Rapat Lantai 15 Gedung Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, diadakan sosialisasi tata naskah dinas dan kode unit pengolah. Acara sosialisasi dihadiri perwakilan unit di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor HK.02.02/MENKES/377/2016 tanggal 18 Juli 2016 tentang Pola Klasifikasi Arsip dan Kode Unit Pengolah di Lingkungan Kementerian Kesehatan dan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 14 Tahun 2017 tanggal 10 Februari 2017 tentang Pedoman Tata Naskah Dinas Di lingkungan Kementerian Kesehatan, bahwa perlu dilakukan penataan berkas/arsip secara logis dan sistematis, serta penyesuaian jenis dan format tata naskah yang baru.

Sosialisasi disampaikan oleh Ibu Pelita Apriany, SKM, MM, selaku Kepala Sub. Bagian TU dan Pelaporan. Didalam sosialisasi disampaikan bahwa adanya perubahan mengenai Jenis dan Format Naskah Dinas, sistem penomoran, alur proses keluar surat, serta proses surat masuk dengan menggunakan aplikasi Electronic Filling System (EFS).

Didalam penyusunan naskah dinas, harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
Kejelasan : Memperhatikan aspek fisik dan materi
Ketelitian : Sesuai bentuk, susunan, pengetikan, isi, struktur dan kaidah bahasa.
Tepat dan Akurat : Fakta yang benar.
Singkat dan Padat : Menggunakan bahasa indonesia yang baik, efektif, singkat dan lengkap.
Logis : Runtut dalam penuangan gagasan dan mudah dipahami penerima naskah dinas.

Setiap unit yang menyusun naskah dinas, juga harus memperhatikan aspek-aspek:
Bentuk Naskah Dinas : Naskah dinas dalam bahasa Indonesia, menggunakan bentuk setengah lurus atau setengah balok (semi block style), sementara naskah dalam bahasa Inggris menggunakan bentuk lurus atau bentuk balok (block style).
Ukuran & Jenis Kertas : Ukuran kertas naskah dinas arahan adalah F4, sementara naskah dinas korespondensi, khusus, laporan dan telaah staf adalah A4, dengan menggunakan kertas HVS putih 80/70 gram.
Bentuk Huruf : Bentuk huruf Arial, ukuran 11 atau 12, spasi 1-1,5 (kecuali pembentukan peraturan perundang-undangan)
Pembubuhan Paraf : Adanya pembubuhan paraf pejabat dikiri dan kanan
Penulisan Alamat Surat : Pergantian Yang terhormat menjadi Yth, penulisan jabatan tidak menggunakan sebutan bapak/ibu, Untuk perhatian (u.p.) digunakan atau ditujukan kepada seseorang atau pejabat teknis yang menangani suatu kegiatan atau suatu pekerjaan tanpa memerlukan kebijakan langsung dari pimpinan pejabat yang bersangkutan.
Kop Surat dan Stampel : Penggunaan kop dengan logo kementerian kesehatan yang baru disebelah kiri dan kop instansi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional disebelah kanan, serta stampel instansi Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, menggantikan stampel Instansi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.
Format Naskah Dinas : Penggunaan Format Naskah Dinas sesuai dengan ketentuan Tata Naskah Dinas yang berlaku.
Kode Penomoran Surat : Memperhatikan kode penomoran surat yang baru sesuai dengan ketentuan Tata Naskah Dinas yang baru.

Didalam sosialisasi, disampaikan juga penggunaan aplikasi Electronic Filling System (EFS), yaitu sistem aplikasi management surat masuk dan keluar, agar lebih efektif, efisien dan memudahkan penelusuran dokumen surat masuk dan keluar.

Diharapkan, dengan adanya sosialisasi ini, setiap unit di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional mengetahui dan menerapkan aturan baru mengenai tata naskah dinas dan kode unit pengolah, sehingga sistem persuratan di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dapat berjalan dengan tertib.
-(Ruly Irawan, Humas RSPON)


RSPON – Penyakit epilepsy adalah penyakit yang dapat terjadi pada siapapun walaupun dari garis keturunan tidak pernah mengalami epilepsy ini. Penyakit epilepsy dapat dihindarkan dengan pengobatan yang baik dan teratur.

Dalam rangka memperingati Hari Epilepsi dunia yang jatuh pada tanggal 26 Maret 2017, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menggadakan penyuluhan mengenai Epilepsi di Puskesmas Kelurahan. Cawang Jakarta Timur. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional sebagai Rumah Sakit khusus dibidang persyarafan yang salah satu kekhususannya merupakan penanganan dalam penyakit epilepsi. Pada penyuluhan yang dilakukan di Puskesmas Kec. Cawang yang dihadiri oleh Plh Kepala Puskesmas Bapak Maelon Napitupulu, SKM, staf beserta masyarakat Kelurahan Cawang dimaksudkan untuk memberikan wawasan mengenai penyakit epilepsi. Penyuluhan tersebut disampaikan oleh dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S yang merupakan dokter spesialis yang menangani penyakit epilepsi.



dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S menyampaikan bahwa :
1.Epilepsi bisa terjadi pada siapa saja – Segala golongan – Segala usia
2.Epilepsi BUKAN penyakin menular
3.Epilepsi BUKAN penyakit keturunan
4.Epilepsi BUKAN kutukan - BUKAN kerasukan jin/ setan
5.Epilepi adalah suatu penyakit menahun akibat aktivitas listrik otak yang abnormal Air dan api BUKAN penyebab munculnya serangan epilepsy




Masyarakat sangat antusias dengan adanya penyuluhan mengenai epilepsi, terlihat dari banyaknya pertanyaan pada sesi tanyajawab dilakukan, salah satunya pertanyaan dari Ibu Marsinah yang menanyakan “bagaimana pertolongan pertama yang harus dilakukan jika disekitar kita terjadi kejang epilepsy ?”, pertanyaan tersbut langsung mendapat jawaban dr. Yuyun M. Rahmah, Sp.S yakni “dari pertolongan pertama yang harus kita lakukan ketika orang disekitar kita mengalami serangan epilepsi yaitu :
1. BersikapTENANG
2. HINDARKAN benda-benda tajam
3. LONGGARKAN pakaian, terutama yang mungkin ganggu nafas
4. LETAKKAN bantalan yang lembut di bawah kepala
5. MIRINGKAN kepala agar jalan nafas tidak terhambat
6. JANGAN coba hentikan gerakan pasien
7. Bersikap RAMAH dan MEYAKINKAN setalah pasien sadar.”
(Ratna Fitriasih– Humas)



RSPON – Apa itu konsep Bobath? Sebagian besar masyarakat awam akan bertanya apakah itu bobath. Dapat disampaikan bahwa Bobath adalah sebuah konsep yang pada awalnya berupa perlakuan yang didasarkan atas inhibisi aktivitas abnormal refleks (Inhibition of abnormal reflex activity) dan pembelajaran kembali gerak normal (The relearning of normal movement), melalui penanganan manual dan fasilitasi. Namun seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi, maka konsep Bobath juga mengalami perkembangan menjadi sebuah pendekatan problem solving yang dimulai dari pemeriksaan (assessment) dan terapi yang bersifat individual dengan gangguan dari fungsi, gerak dan kontrol postur yang diakibatkan karena adanya lesi susunan syaraf pusat.(IBITA 1996, Panturin E. 2001 ). Dengan menggunakan konsep Bobath, fisioterapis harus mampu melakukan manipulasi dan aktivasi aferen untuk membuat pasien mudah, efisien dan mempunyai pilihan gerak yang lebih mudah.

Mengapa dinamakan Bobath? Nama Bobath diambil dari nama penemunya yaitu Karel Bobath (1905) dan Bertha Bobath (1907) pasangan suami istri kelahiran Berlin, Jerman. Bertha Bobath adalah seorang instruktur tari/dansa dan ahli dalam teknik gerakan dan relaksi. Kemudian Bertha beralih profesi sebagai Fisioterapis. Sedangkan Karel Bobath adalah seorang ahli bedah anak dan juga seorang neurologis. Awalnya Bertha melakukan uji coba pada pasien dengan kondisi hemipelgia dan dengan tekniknya ia mampu menurunkan spastisitas, menghasilkan gerak tangan yang baik dan juga melihat trunk yang rileks juga mampu mengurangi spastisitas pada tangan. Kemudian Bertha mengembangkan tekniknya pada anak dengan permasalah neurologis.

Dalam rangka meningkatkan layanan rehabilitasi untuk pasien stroke di RS PON, maka Pada 18 hingga 19 Maret 2017 RSPON mengadakan Workshop mengenai New Bobath Concept yang dibuka oleh dr. Mursyid Bustami, Sp.S(K), KIC, MARS selaku Direktur Utama RSPON dan Bapak Iman Santoso, SKM, SST, FT. selaku ketua IFI (Ikatan Fisioterapi Indonesia) Jakarta Timur. Pada kesempatan tersebut peserta diperkenalkan pada konsep Bobath terbaru dimana saat ini Bobath sudah menggunakan assesment atau diagnosis sendiri dan menjadi basic/dasar beberapa pendekatan terapi yang lain.

Dalam memberikan terapi, seorang Bobath terapis harus memiliki skill of analysis normal movement, dan juga memperhatikan prinsip-prinsip motor relearning antara lain active perticipation, oportunities for practice/mudah untuk dilakukan serta memiliki meaningful goals.

Acara ini diperuntukan bagi para fisioterapis dimana tidak hanya mendapat materi tentang Bobath, peserta juga mendapat materi tentang neuroscience, dan movement analysis. Selain itu para terapis juga diberikan contoh praktik langsung terhadap pasien stroke RS PON yang langsung dibimbing oleh instruktur Agus Wiyono, AMF (Candidate Basic Course Instructore) yang juga menjabat sebagai ketua KOBOI (Komunitas Bobath Indonesia) beliau juga pernah menjadi asisten Prof. Byong Yong Hwang dalam International Introductory Bobath Course dan International Basic Bobath Course di Jakarta dan Korea pada 2009 hingga 2014, dan juga menjadi asistanship Mery Linch E. (London) dalam Basic Course di Korea pada 2015. Diharapkan materi yang diberikan pada workshop ini dapat bermanfaat bagi para fisioterapis untuk dapat diterapkan pada pasien stroke yang mereka tangani sesuai dengan konsep Bobath terbaru.
(Erlangga-Humas)

RSPON – Hospital Tour merupakan kegiatan yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa, karena mereka bisa melihat secara langsung fasilitas, proses kegiatan, Pelayanan yang berlangsung serta berdiskusi dengan pihak rumah sakit. Mereka semua diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk belajar berbagai hal mengenai rumah sakit.

Pada Kamis (9/03/17) Rumah Sakit Pusat Otak menerima kunjungan Mahasiswa keperawatan D3-S1 Universitas Advent Indonesia sebanyak 155 orang. Acara dibuka dengan sambutan dan pemberian materi profil Rumah Sakit Pusat Otak Nasional oleh ibu Drg. Sophia Hermawan, M.Kes. selaku Direktur SDM dan Diklat. Acara selanjutnya diisi paparan kegiatan asuhan keperawatan oleh Asih Dwi Hayu Pangesti, S.Kep, NERS. Para mahasiswa sangat antusias dalam mengikuti acara tersebut.

Kegiatan terakhir yang paling ditunggu oleh mahasiswa adalah kunjungan langsung berbagai fasilitas dan layanan di Rumah Sakit Otak Nasional (Hospital Tour). Mereka dibagi beberapa kelompok untuk berkeliling melihat fasilitas dan mengamati proses pelayanan yang terjadi di RSPON. Kunjungan dimulai di lantai dasar yaitu Instalasi Binatu, Instalasi Gizi, Instalasi Pemeliharaan Sarana dan Prasarana Rumah Sakit (IPSRS), serta Instalasi Rekam Medis. Selanjutnya lantai 1 mengunjungi Instalasi Gawat Darurat (IGD), dan Pelayanan Pendaftaran. Lantai 2 mengunjungi Poliklinik Eksekutif, Poliklinik Gigi, Apotik, dan Laboratorium. Lantai 3 Mengunjungi Ruang High Care Unit (HCU) dan Ruang Intensive Care Unit (ICU). Lantai 4 mengunjungi Ruang Neurodiagnostik, Ruang Sterilisasi Sentral, dan Ruang Fisioterapi. Lantai 7 mengunjungi Ruang Rawat Inap A. Lantai 8 mengunjungi Ruang Rawat Inap A dan Ruang Isolasi. Dan lantai 11 mengunjungi Ruang VVIP.

Bagi yang berminat untuk Hospital Tour, Hubungi kami di Bagian Diklat telp (021) 2937 3377 (Hunting) atau Email: rspotakn@gmail.com
(Ratna-Humas)

RSPON – Hospital tour adalah kegiatan kunjungan di rumah sakit sambil belajar mengenai alat - alat kesehatan, pengenalan profesi di rumah sakit dan materi tentang cara hidup sehat yang dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari - hari. Selain itu, hospital tour juga dapat menjadi bahan ajar atau sumber referensi bagi rumah sakit lain.

Dalam rangka kegiatan hospital tour, tepatnya hari kamis (16/02/17) Rumah Sakit Pusat Otak Nasional menjadi tuan rumah bagi rumah sakit asal Bukittinggi, Padang, yaitu Rumah Sakit Stroke Nasional. Kegiatan dimulai dengan penjelasan singkat oleh Direktur Utama Rumah Sakit Stroke Nasional, bahwa walaupun pada awalnya merupakan rumah sakit khusus, namun Rumah Sakit Stroke Nasional sempat bertransformasi menjadi rumah sakit umum. Kini, rumah sakit tersebut ingin membuka sebuah divisi khusus stroke, dan hal itu yang menjadi salah satu alasan tujuan kedatangannya, termasuk melihat bagaimana pelayanan stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, belajar tentang penanganan stroke dan mempelajari sistem penerimaan pasien.

Sesi presentasi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional di uraikan oleh Direktur Utama, dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS, mengenai profil, ringkasan rumah sakit serta alur pasien stroke di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Lalu dr. Yohanna Kusuma, Sp.S, Cert. Neurosonology ASN (USA) & WFN-NSRG sebagai perwakilan divisi Neuro pun memberi penjelasan tentang alur penanganan pasien Neuro. Selain itu, dr. Lyna Soertidewi, Sp.S, (K), M.Epid memberi sedikit informasi tambahan mengenai form dan pelatihan serta tujuan dari Rumah Sakit Pusat Otak Nasional yaitu paperless. Sebab karena itulah, segala tindakan dilakukan via komputer (komputerisasi).

Seusai sesi presentasi, dilaksanakan kunjungan ke tiap-tiap unit Rumah Sakit Pusat Otak Nasional bersama dengan masing-masing perwakilan dari tiap rumah sakit. Kunjungan pertama di mulai dari lantai 1 dan menuju bagian IGD, dilanjutkan dengan Unit Radiologi dan menyaksikan bagaimana model MRI 3 Tesla terbaru yang di sediakan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Lalu kunjungan berlanjut ke lantai 3, lokasi dimana ICU, HCU, serta Kamar Operasi (OK) berada.

Setelah itu, rombongan menuju lantai 4 tempat terdapat Unit Neuro Diagnostik, Neuro Behaviour, Okupasi Terapi, Gymnasium dan berlanjut ke lantai 7a yang merupakan lokasi rawat inap pasien kelas 3. Hospital tour di akhiri dengan berkunjung ke lantai 11 untuk melihat suasana kamar rawat inap VVIP dan President Suite-tipe kamar termewah yang disediakan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Tidak lama setelah hospital tour, rombongan kembali kedalam ruang rapat untuk penutupan sekaligus perjamuan oleh pihak Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.
(Ratna-Humas)

RSPON – MAGNETIC RESONANCE IMAGING atau MRI adalah salah satu pemeriksaan canggih di bidang radio-diagnostik, dengan teknik penggambaran penampung tubuh yang non-invasif, menggunakan medan magnet, gelombang radio dan komputer untuk menampilkan struktur dan organ dalam tubuh.

Pada rabu (08/03/2017) pukul 09.30 WIB, berlokasi di poliklinik rawat jalan lantai 2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, berlangsung penyuluhan dengan tema “Mengenal Teknologi Mutakhir MRI” oleh Tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) RSPON yang dihadiri pasien dan keluarga pasien yang sedang menunggu antrian untuk bertemu dokter. Penyuluhan ini berisi tentang alat pemeriksaan MRI hingga perbedaan MRI dengan CT Scan.

MRI bekerja dengan menerima sinyal magnet yang ditangkap koil yang selanjutnya menghasilkan gray scale yang dapat memeriksa kondisi jaringan tubuh pasien. MRI dapat mendeteksi kelainan otak dan saraf tulang belakang, kelainan jantung dan pembuluh darah, kelainan tulang dan sendi, kelainan payudara, ataupun kelainan organ internal lainnya.Sebelum melakukan pemeriksaan MRI, diperlukan beberapa persiapan diantaranya:
-Mengisi informed consent / lembar persetujuan pemeriksaan.
-Pasien diminta membuka/melepaskan semua bahan-bahan yang terbuat dari logam.
Bila pasien mempunyai benda logam yang ditanam di tubuh (implant, stent, dll) harus disampaikan kepada petugas.

MRI seringkali disamakan dengan CT Scan padahal keduanya memiliki perbedaan dari berbagai kriteria, berikut perbedaannya:

MRI:
-Lubang gantri kecil
-Waktu yang diperlukan lama
-Sumbernya Magnet
-Melakukan scanning jaringan
-Menghasilkan suara yang nyaring
-Relatif aman
-Harga mahal

CT Scan:
-Lubang gantri besar
-Waktu yang diperlukan sebentar
-Sumbernya X-ray
-Melakukan scanning tulang
-Tidak menghasilkan suara
-Beresiko karena adanya radiasi X-ray
-Harga murah

Dalam ruang pemeriksaan MRI, dapat terjadi kejadian tidak diinginkan yang disebabkan kuatnya gelombang magnet yang dimiliki alat MRI, oleh karena itu ketika memasuki ruang pemeriksaan MRI, pasien maupun keluarga yang mendampingi dilarang membawa barang-barang berbahan logam, jam tangan, handphone, dan kartu ATM. Bahkan pasien yang memiliki benda yang tertanam dalam tubuh juga tidak diperkenankan memasuki ruang pemeriksaan MRI.

Dalam acara tersebut pengunjung tampak antusias untuk mendengarkan penjelasan dalam penyuluhan tersebut. Dengan banyaknya pengunjung yang mengajukan pertanyaan kepada nara sumber. Seperti pertanyaan yang disampaikan oleh Ibu Latifah yang menanyakan apakah ada efek samping dari pemeriksaan MRI, karena setelah suaminya diperiksa dengan MRI wajahnya jadi memerah. Dari pertanyaan tersebut dapat dijelaskan bahwa itu bukan efek langsung dari MRI, bisa jadi efek tersebut dikarenakan efek obat kontras yang disuntikan saat pemeriksaan MRI. Namun sebelum pemeriksaan perawat akan melakukan skin test ke kulit pasien untuk memperkecil kemungkinan terjadinya reaksi alergi (kemerah-merahan pada kulit pasien).

Itulah sedikit penjelasan singkat tentang MRI. Dengan adanya penyuluhan ini diharapkan dapat menjawab petanyaan keluarga pasien seputar pemeriksaan MRI.
(Erlangga–Humas)

RSPON – Mikroorganisme seperti bakteri dan kuman merupakan salah satu faktor pencetus penyebaran penyakit pada tubuh kita. Seringkali bakteri berasal dari bagian tubuh yang paling sering melakukan kontak dengan lingkungan, seperti saat kita berjabat tangan, menekan tombol lift, dan kegiatan lain yang kita lakukan sehari-hari. Bahkan tanpa kita sadari, presentase terbesar penularan penyakit ialah melalui tangan.

Tepatnya hari kamis (23/02/17) pada pagi hari, berlokasi di lobi ruang tunggu lantai 2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, berlangsung penyuluhan dengan tema “Kebersihan Tangan dan Etika Batuk” oleh Ibu Wahyu Widawati, AMK dari Komite Pengendalian dan Pencegahan Infeksi. Penyuluhan berisi penyampaian langkah-langkah mencuci tangan dan bagaimana menangkal penularan bakteri dengan memperhatikan etika batuk.

Terdapat 2 (dua) jenis cuci tangan, yaitu menggunakan air dan sabun seperti biasa kita lakukan sehari-hari dengan lama pencucian 40-60 detik, lainnya dengan handrub berbasis alkohol dengan frekuensi 20-30 detik. Selain itu, Ibu Wahyu juga menjabarkan langkah-langkah pasca mencuci tangan dan bagaimana mencuci tangan dengan benar hingga dapat membunuh mikroorganisme kulit kasat mata serta menjamin tangan anda bebas dari kuman, pula menghilangkan resiko infeksi nosokomial.

Kapan kita di wajibkan mencuci tangan?
SEGERA: Setelah tiba di Rumah Sakit

SEBELUM: - Kontak (memegang, bersalaman) dengan pasien
-Makan
-Meninggalkan Rumah Sakit

SETELAH: - Kontak (memegang, bersalaman) dengan pasien
-Menggunakan toilet/kamar mandi
-Menyentuh dan mengelap hidung
-Menyentuh lingkungan sekitar
-Terpapar cairan tubuh pasien

Bagaimana cara mencuci tangan dengan handrub secara tepat?
1.Tuangkan handrub ke telapak tangan sebanyak 1 tekanan (3-5 cc)
2.Ratakan dengan kedua telapak tangan dengan posisi datar.
3.Gosok punggung tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya.
4.Gosok sela-sela jari.
5.Gosok buku-buku tangan dengan kedua tangan saling mengunci.
6.Gosok ibu jari kiri dengan gerakan berputar dalam genggaman tangan kanan dan sebaliknya.
Gosok ujung-ujung kuku tangan kanan dengan gerakan memutar di telapak tangan kiri dan sebaliknya.

Materi penyuluhan kedua, yaitu mengenai etika batuk. Ketika kita batuk, tanpa di sadari virus/bakteri penyebab batuk tersebut menyebar ke sekeliling kita melalui udara dan berpotensi menularkan orang lain. Padahal terdapat etika yang sesungguhnya menjadi pedoman agar tidak lagi merugikan sekitar serta bertujuan mencegah penularan bakteri/virus maupun ISPA.

Etika batuk yang perlu kita perhatikan yaitu:
- Tutup hidung dan mulut anda dengan tisu saat bersin atau batuk.
- Tutup hidung dan mulut anda menggunakan lengan baju bagian dalam, bukan dengan telapak tangan saat bersin atau batuk.
- Segera membuang tissue yang sudah dipakai ke dalam tempat sampah.
- Cuci tangan dengan menggunakan air bersih dan sabun atau handrub.
- Menggunakan masker.

Dengan mempraktekkan hal tersebut ke dalam kehidupan sehari-hari, tentu tubuh akan semakin terlindungi dari kuman dan bakteri serta menghindari penyebaran penyakit. Jadi tunggu apa lagi? Mari mulai hidup sehat dengan melakukan hal-hal kecil namun bermanfaat besar.
(Ratna Fitriasih– Humas)

Maraknya KKN, rendahnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja serta buruknya pelayanan publik, menjadi tantangan yang dihadapi pemerintah dalam mereformasi birokasi di Indonesia. Melalui Instruksi Presiden nomor 2 tahun 2014 tentang Aksi Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi serta Peraturan Menteri PAN dan RB nomor 52 tahun 2014 tentang Pembangunan Zona Inregritas Menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM), Pemerintah mewujudkan komitmen mereformasi birokrasi khususnya dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan di instansi pemerintah.

WBK / WBBM merupakan predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja pemerintah yang memenuhi kriteria manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan sistem manajemen SDM, penguasan pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, serta indikator penguatan kualitas pelayanan publik. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON), yang merupakan Unit Pelayanan Terpadu dibawah Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, berkomitmen untuk mewujudkan WBK / WBBM dilingkungan Rumah Sakit.

Pada 28-31 Desember 2016,bertempat di Ruang rapat lantai 5, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional bersama Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan, Bapak Haruddin, S.ST, M.Kes dan Hardiansyah, SE, M.Ak melakukan pendampingan WBK/WBBM dan Mereview Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) tahun 2016 serta menyusun LAKIP tahun 2017. Dalam acara tersebut, Direksi dan karyawan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional, menandatangani pakta integritas sebagai bagian pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Diharapkan, pada tahun 2017, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dapat meraih predikat WBK / WBBM.
(RulyIrawan Humas)

RSPON – DPP Asosiasi Dietisien Indonesia (AsDI) kembali mengadakan kegiatan rutin tahunan Pelatihan Asuhan Gizi Dasar (PAGD) ke IV dengan tema “ Penguatan Peran Dietisien Melalui Peningkatan Kompetensi dan Profesionalisme dalam pelayanan Gizi, Makanan dan Dietetik Pada Era MEA” yang diselenggarakan pada 12 – 15 Oktober 2016 di Horison Ultima Hotel, Palembang – Sumatera Selatan.

Salah satu rangkaian kegiatannya yaitu lomba DIETITIAN AWARD . Lomba Dietetic Award merupakan ajang penghargaan bagi Ahli Gizi/Dietisien sebagai salah satu bentuk kontribusi AsDI dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan gizi di Indonesia. Peserta merupakan seluruh Ahli Gizi/Dietisien yang berdomisili di wilayah Indonesia. Jenis lomba meliputi Nutrition Scientific Project, Innovation In Nutrition Care Project dan Innovation in Food Service Management Project.

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional mengirimkan tim terbaiknya dari Instalasi Gizi untuk mengikuti kategori lomba Nutrition Scientific Project yang memiliki kriteria lomba : segala kegiatan penelitian ilmiah di bidang gizi yang terkait dengan peningkatan mutu pelayanan gizi di rumah sakit atau puskesmas. Anggota Tim terdiri dari RODLIA, S.Gz, MKM, RD; ANGGITA MARLIDA SEPTIANI, Amd.Gz; FAJAR RUSWANDARI, Amd.Gz; SHEILA OCTAVIA, Amd.Gz; YUNITA AHADTI, Amd.Gz dengan Judul penelitian “ASUPAN FORMULA ENTERAL WHEY PROTEIN TINGGI DENGAN VOLUME RESIDU LAMBUNG PADA PASIEN NEUROLOGI DI RUMAH SAKIT PUSAT OTAK NASIONAL: CASE SERIES STUDY”. Penelitian tersebut masuk ke Babak Final dalam kategori Nutrition Scientific dengan Oral Presentation pada tanggal 12 Oktober 2016 di Hotel Horison Ultima Palembang dan mendapat JUARA I dalam kategori tersebut.
Selamat Kepada Tim Instalasi Gizi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional atas Prestasi yang telah dicapai. Semoga semakin memberikan kontribusi terbaiknya terutama dalam pelayanan ke masyarakat.
(Ratna Fitriasih– Humas)

Pengampunan Pajak atau Tax Amnesty adalah pengampunan pajak yang seharusnya terutang, tidak dikenai sanksi administrasi perpajakandan sanksi pidana di bidang perpajakan, dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan sebagaimana diatur dalam undang-undang ini (Undang-undang Nomor 11 tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak). Dan program Pengampunan Pajak ini akan berlangsung hingga 31 Maret 2017. Pengampunan Pajak ditujukan kepada setiap orang pribadi atau badan yang telah terdaftar dan memperoleh NPWP serta memiliki kewajiban menyampaikan SPT Tahunan PPh berhak mendapatkan pengampunan pajak, kecuali wajib pajak yang sedang dilakukan penyidikan dan berkas penyidikannya telah dinyatakan lengkap oleh Kejaksaan, sedang dalam proses peradilan, atau sedang menjalani hukuman pidana, atas tindak pidana di bidang perpajakan.

Demikianlah sekilas pengertian dari Pengampunan Pajak atau yang lebih populer disebut sebagai Tax Amnesty, guna lebih memberi pengertian kepada seluruh karyawan RS PON, maka pada Rabu 7 September 2016 diadakanlah sosialisasi mengenai Pengampunan Pajak tersebut pada acara rapat struktural rutin. Yang dihadiri oleh seluruh Direksi, para Kepala Bagian, Kepala Sub Bagian, dan karyawan RS PON yang mewakili bagiannya masing-masing. Dalam acara tersebut yang menjadi nara sumbernya adalah Baringin Gultom selaku Kepala Seksi Pengawasan dan Agustiyono selaku Account Representative dari Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Kramat jati, Jakarta Timur.

Tujuan diadakannya Pengampunan Pajak menurut Undang-undang tentang Pengampunan Pajak adalah agar dapat mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui pengalihan harta yang antara lain akan berdampak terhadap peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar rupiah, penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi, mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan, serta meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan. Dengan mengikuti Pengampunan atau Amnesti Pajak berarti kita telah mendukung kebijakan negara untuk mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi Indonesia.
   “Amnesti Pajak, Ungkap. Tebus. Lega”
(Erlangga-Humas)

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional “Berani Bersih Tolak Gratifikasi” pada rapat struktural RS PON yang selalu rutin diadakan setiap minggu, tim Unit Pengendalian Gratifikasi (UPG) mensosialisasikan mengenai anti gratifikasi yang akan diterapkan pada seluruh karyawan RS PON tidak terkecuali dari jajaran Direksi hingga seluruh staf. Dalam kesempatan tersebut Tim UPG RS PON juga memperkenalkan susunan anggota tim-nya yang antara lain diketuai oleh dr. Lyna Soertidewi, Sp.S (K), M.Epid dan sebagai Wakil Ketua adalah dr. R. M. Krisna Wicaksono Barata, Sp.THT-KL dengan seorang sekretaris Ratna Sopiah Debora, SH. Dan dengan anggota yang terdiri dari keperawatan, dokter, apoteker, dan staf karyawan lain yang kompeten dibidangnya dalam hal Gratifikasi.

Dalam sosialisasi tersebut dijelaskan mengenai pengertian gratifikasi dan dasar hukum tentang gratifikasi sebagai tindak pidana korupsi yang diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Gratifikasi adalah pemberian dalam arti luas, yakni meliputi pemberian uang, barang, rabat (diskon), komisi, pinjaman tanpa bunga, tiket perjalanan, fasilitas penginapan, perjalanan wisata, pengobatan cuma-cuma, dan fasilitas lainnya. Gratifikasi tersebut dapat merupakan pemberian yang diterima di dalami maupun di luar negeri yang dilakukan dengan menggunakan sarana ataupun tanpa sarana elektronik. Dalam sosialisasi tersebut juga diinformasikan bahwa gratifikasi bisa mengarah pada tindak pidana suap seperti misalnya gratifikasi berupa penerimaan Marketing Fee atau imbalan yang bersifat transaksional yang terkait dengan pemasaran suatu produk, cashback, atau pengembalian dalam bentuk apapun akibat transaksi yang diterima oleh instansi serta digunakan untuk kepentingan pribadi, gratifikasi yang terkait dengan pengadaan barang dan jasa, pelayanan publik, dan proses lainnya, sponsorship yang terkait dengan pemasaran atau penelitian suatu produk, dan gratifikasi yang terkait dengan layanan publik.

Selain pengertian tersebut di atas juga dijelaskan bahwa RS PON memiliki Tim UPG yang bertugas sebagai PIC (Person In Charge) yang berfungsi sebagai penerima laporan gratifikasi bagi karyawan RS PON yang menduga dirinya diberi atau menerima pemberian yang mengarah pada gratifikasi. Dan petugas tersebut dapat memiliki akses ke KPK untuk melaporkan adanya temuan atau dugaan gratifikasi tersebut langsung kepada KPK.

Dengan adanya solialisasi ini diharapkan agar RS PON bisa bersih dari gratifikasi sehingga dapat memberikan pelayanan yang mumpuni dan berbasis pada kerja nyata yang sudah seharusnya dan sesuai dengan prosedur yang ada. Bukan pelayanan yang berdasarkan atas imbalan jasa yang tidak seharusnya yang dapat mengakibatkan pelayanan yang tidak adil dan pilih kasih.

Dalam acara tersebut dihadiri oleh jajaran Direksi RS PON mulai dari Direktur Utama, Direktur Pelayanan, Direktur SDM dan Diklit, Direktur Keuangan dan Administrasi Umum, Pejabat Struktural sperti Kepala Bagian, Kepala Instalasi, Kepala Sub. Bagian, hingga staf yang hadir dalam rapat struktural rutin tersebut.
   “Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Berani Bersih Tolak Gratifikasi”
(Erlangga-Humas)

Rumah Sakit Pusat Otak Nasional mengadakan Temu Wicara Kesehatan Anak yang berlangsung pada hari Sabtu 4 Juni 2016, dalam rangka memperingati HUT IDAI Ke-62 dan Hari Anak Nasional. Temu wicara yang dihadiri kurang lebih 120 orang peserta, dari lingkungan Pegawai Rumah Sakit dan Kader Posyandu yang berada dilingkungan Kelurahan Cawang.

Temu Wicara Kesehatan Anak dalam rangka memperingati HUT IDAI Ke-62 dan Hari Anak Nasional dengan bertema “Bagaimana menjadikan Anak Sehat, Tinggi dan Cerdas” yang dilaksanakan di Ruang Serba Guna Lt. Dasar Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dengan Pembicara dr. Roy Amariyanto, Sp.A, dr. Suryawati Sukmono, Sp.A, dr. Arie Khairani, Sp.S yang dimoderatori oleh dr. Astryanovita, Sp.S.

Para peserta cukup antusias dalam sesi tanya-jawab, terlihat dimana para peserta begitu krisis menanyakan mengenai tumbuh kembang anak, sebagaimana yang ditanyakan oleh Ibu Euis yang merupakan Kader Posyandu Kelurahan Cawang yang menanyakan mengenai “bagaimana melihat pertumbuhan anak dimulai dari usia berapa tahun”. Pertanyaan tersebut langsung ditanggapi dan diberikan pemaparan yang cukup jelas oleh dr. Suryawati Sukmono, Sp.A yang lebih akrab dikenal dengan dr. Wati, menjelaskan bahwa “tumbuh kembang anak harus diperhatikan dari mulai lahir dan harus dilihat perkambangannya dengan anak seusianya”.
(Teguh-Humas)

Sumber WHO menyatakan bahwa CVDs (Cardio Vascular Disease) adalah pembunuh nomor satu dan terbesar jumlahnya dan jumlah korban yang meninggal dunia setiap tahunnya melebihi jumlah korban dari penyebab-penyebab lainnya. Bahkan untuk pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit sekalipun yang diagnosanya bukan penyakit jantung setiap saat pasien tersebut bisa menemui kematian dikarenakan oleh serangan jantung atau mengalami situasi gagal nafas akut. Di mana penanganan pertama pada penyakit ini dapat diatasi dengan cepat bahkan dapat mencegah menuju kematian jika ada tim Code Blue yang terlatih pada suatu Rumah Sakit.

Oleh karena itu sebuah kewajiban bahwa di setiap Rumah Sakit khususnya Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) dibentuk tim Code Blue yang mempunyai kecakapan dan kemampuan yang disertai dengan pelatihan yang baik dan mengikuti rangkaian prosedur dan protokol yang sudah ditetapkan dalam Code Blue. Tim Code Blue adalah tim respon cepat dengan tanggap darurat terhadap upaya penyelamatan nyawa pasien pada tahap yang sangat kritis.

Sehingga pada 27 April 2016 diadakanlah pelatihan Code Blue dan pengenalan Early Warning System di RS PON yang diadakan di ruang pertemuan lantai 11. Dengan menggunakan kamar rawat VVIP sebagai ruang simulasi dan ujian bagi peserta yang masuk dalam tim Code Blue RS PON. Pelatihan ini diikuti oleh perawat dan dokter umum yang ada di RS PON, dengan pemateri dan pembimbing dari para dokter spesialis anestesi diantaranya adalah dr. Dimas Rahmatisa, Sp.An dan Kepala Bidang Keperawatan RS PON Ibu Enny Mulyatsih.

Dalam pelatihan ini dilakukan simulasi penanganan Code Blue dengan dibagi menjadi tim idela yang berjumlah 6 orang tenaga medis dan 1 petugas keamanan yang memiliki tugas untuk antara lain 1 orang Team Leader, 1 orang bertugas sebagai tatalaksana jalan napas, 1 orang melakukan kompresi, 1 orang bertugas melakukan kompresi, 1 orang bertugas melakukan persiapan dan melakukan defibrilasi, 1 orang bertugas memasang akses vena serta memasukan obat-obatan, 1 orang melakukan pengawasan waktu dan dokumentasi, dan 1 petugas keamanan bekerjasama dengan kepala ruang rawat setempat bertugas membantu mengamankasn lokasi kejadian, agar tidak ada orang yag tidak berkepentingan mengganggu jalannya pelaksanaan Code Blue. Setelah diberikan materi dan simulasi dilakukan juga ujian bagi peserta pelatihan agar selain paham secara teori juga dapat melakukan tugasnya sesuai dengan kondisi nyata yang terjadi di lapangan.

Dan sebagai informasi untuk siapapun yang menemukan pasien atau seseorang yang tiba-tiba terjatuh pingsan atau tidak sadarkan diri di lingkungan RS PON dapat segera menghubungi operator Tim Code Blue kami di no. Ekstensi 5413 atau hubungi petugas keamanan dan petugas medis lainnya yang ada di dekat lokasi kejadian. “BE READY to save a LIFE”
(Erlangga/Teguh-Humas)

RSPON - “Save Brain! Save Life! Yeeeesss...!!” itu adalah motto untuk acara In House Training BNLS (Basic Neuro Life Support) bagi perawat di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON). Yang acaranya diadakan di ruang pelatihan lantai dasar dengan diikuti oleh perawat yang baru bergabung di RS PON dengan dibagi menjadi 2 angkatan, yang dilaksanakan sejak 7 sampai dengan 11 Maret 2016.

RSPON sebagai pusat unggulan dalam bidang pelayanan Neurologi dan bedah saraf memiliki peran dan tanggung jawab untuk memberikan pelayanan tersebut dengan maksimal dan lebih baik. Sehingga untuk dapat menunjang hal tersebut salah satunya adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat pada kedaruratan neurologi, sehingga perawat diharapkan dapat menyelamatkan fungsi otak pada fase hiperakut dan dapat meminimalkan kecacatan yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalamai kedarutana neurologi seperti serangan stroke yang datang tiba-tiba.

Tujuan diadakan In House Training ini adalah agar setiap perawat mampu menangani pasien dengan kasus kedaruratan neurologi. Khususnya agar dapat mengidentifikasi tanda dan gejala, juga menguasai strategi awal tatalaksana keperawatan pasien neurologi dalam keadaan gawat darurat dan kritis. Oleh karena itu dalam In House Training ini didatangkan narasumber yang kompeten di bidang persarafan seperti dokter spesialis saraf yang ada di RS PON diantaranya dr. Jofizal Jannis, Sp.S (K), dr. Kemal Imran, Sp.S, MARS, dr. Yohana Kusuma, Sp.S, Cert. Neurosonology ASN (USA) & WFN-NSRG dan lain-lain. Juga dengan pengajar perawat senior seperti R. Isnawan Risqi Rakhman, SKep., Ners. Selain teori dalam In House Training ini juga diberikan praktek untuk menerapkan teori yang diberikan oleh para pengajar.
(Erlangga/Teguh-Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai diet rendah garam disampaikan oleh Krisetiya Yunita, AMG, yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 23 Februari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga pasien mengetahui diet rendah garam untuk pasien yang menderita atau memiliki riwayat penyakit sirosis hati, dekompensasio kordis, toksemia pada kehamilan, hipertensi serta penyakit jantung dan ginjal tertentu.

Asupan natrium yang berlebihan dapat menyebabkan gangguan keseimbangan tubuh sehingga menyebabkan edema, asites, atau hipertensi. Garam dalam diet rendah garam adalah garam natrium yang terdapat pada garam dapur (NaCl), soda kue (NaHCO3), baking powder, natrium benzoat, serta vetsin (MSG). Diet rendah garam bertujuan untuk membantu menurunkan tekanan darah pada penderita darah tinggi serta membantu menghilangkan penimbunan cairan dalam tubuh.

Syarat diet rendah garam mencakup cukup energi, protein, mineral, dan vitamin; bentuk makanan sesuai dengan jenis penyakit serta jumlah natrium disesuaikan dengan berat tidaknya retensi garam dan air atau hipertensi.

Bahan makanan yang diperbolehkan selama diet adalah bahan makanan segar dan makanan yang diolah atau sedikit menggunakan garam natrium. Sedangkan bahan makanan yang dibatasi antara lain daging/ayam/ikan paling banyak 100 gr/hari, telur 1 butir/hari, susu segar 200 ml/hari serta makanan-minuman dan sari buah dalam kemasan.

Bahan makanan yang perlu dihindari dalam diet rendah garam ini yaitu otak, ginjal, paru, daging kambing; susu bubuk fullcream/skim, margarine, mentega keju; bumbu bumbu seperti kecap, terasi, tauco, garam, saus, vetsin; makanan yang diolah dengan natrium seperti biskuit, crackers, pastries, dan kue lain; kripik, krupuk , dan makanan kering yang asin; makanan yang diawetkan seperti dendeng, abon, ikan asin, udang kering, telur asin, selai, acar, manisan buah; serta makanan dan minuman dalam kaleng seperti sarden, sosis, kornet, sayur dan buah dalam kaleng.

Disarankan agar makan dalam diet rendah garam ini bisa lebih lezat, sebaiknya ditumis, digoreng atau dipanggang walaupun tanpa garam. Rasa tawar makanan dapat diperbaiki dengan menambahkan bawang merah atau putih, gula merah atau putih, jahe, kencur, salam dan bumbu lain yang tidak mengandung natrium. Bubuhkan garam saat di meja makan. Gunakan garam beryodium.

Poli Gizi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional buka setiap hari Senin – Jumat, pukul 09.00 – 15.00 WIB


Tabel : Daftar Kadar Natrium dan Kalium pada Bahan Makanan (mg/100 gr)

BAHAN MAKANAN
NATRIUM
KALIUM
Biskuit
500
200
Crackers
110
120
Kue
250
100
Roti Bakar
700
150
Cornet Beef
1250
100
Sosis
1000
250
Kecap
4000
500
Tahu
12
151
Susu Skim Bubuk
470
1500
Beras Merah
2
195
Beras
5
100
Tepung Terigu
2
150
Kentang
7
396
Daging Sapi
73
159
Ikan
100
300
Kacang Kedelai
0
1504
Tempe
0
0
Susu Segar
50
150

(Ratna Fitriasih & Teguh Andenoworeh – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai terapi wicara pada stroke dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 18 Februari 2016 oleh Bapak Bany Setyo Saputro A.Md TW. Tujuan penyuluhan ini adalah agar peserta penyuluhan memahami mengenai terapi wicara pada pasien stroke.

Apa itu terapi wicara?

Secara terminologis bahwa terapi wicara diartikan sebagai suatu ilmu yang mempelajari tentang gangguan bahasa, wicara dan suara yang bertujuan untuk digunakan sebagai landasan membuat diagnosis dan penanganan. Dalam perkembangannya terapi wicara memiliki cakupan pengertian yang lebih luas dengan mempelajari hal-hal yang terkait dengan proses berbicara, termasuk di dalamnya adalah proses menelan, gangguan irama / kelancaran dan gangguan neuromotor organ artikulasi lainnya.


Peran terapi wicara dalam penanganan stroke

Membantu memaksimalkan :
• Fungsi menelan (disfagia)
• Fungsi bahasa (afasia)
• Fungsi bicara (disartria)

TERAPI WICARA PADA DISFAGIA (FUNGSI MENELAN)

Disfagia adalah kesulitan menelan. Penyebab kesulitan menelan pada pasien stroke yaitu :
• menurunnya kekuatan dan atau tidak normalnya koordinasi pada otot-otot pada mulut dan lidah yang menyebabkan pasien tidak dapat mengumpulkan dan memposisikan makanan dalam mulut untuk disiapkan untuk ditelan
• Fungsi persarafan dan koordinasi otot sudah memburuk yang dapat menghambat proses menelan atau reflek menelan tidak baik


Screening menelan
• Amati kesimetrisan bibir
• Amati posisi uvula apakah simetris
• Amati gerakan lidah sesuai intruksi : dijulurkan, digerakkkan ke kiri dan kanan, atas dan bawah
• Lakukan asesmen menelan, minta pasien menelan satu sendok teh air putih, apakah batuk?
• Kalo tidak minta klien untuk untuk bicara “aaaah”, amati adakah batuk, apakah suara menjadi parau atau beriak?
• Ulangi 3-4 kali. Jika tidak ditemukan gangguan menelan, minta klien untuk minum dengan gelas 50-150 cc, amati adakah batuk (kesedak), suara menjadi parau atau beriak?


Jenis - jenis gangguan pada disfagia


1. Gangguan Tahap Oral
  • Tersedak sebelum menelan
  • Batuk sebelum menelan
  • Mengiler/drooling
  • Keluarnya makanan dari mulut
  • Ketidakmampuan membersihkan rongga mulut
  • Tidak sempurnanya penutupan mulut
  • Tidak dapat mengunyah
  • Lama makan dengan konsumsi yang sedikit
  • Pembentukan bolus lambat
  • Kelemahan menghisap


2. Gangguan Tahap Faring
  • Merubah posisi kepala
  • Tersedak
  • Batuk
  • Lambat menelan
  • Penolakan makanan
  • Muntah
  • Kualitas suara batuk


3. Gangguan Tahap Esopagus
  • Bau nafas asam
  • Bruxism (suara kerutan gigi)
  • Keluhan seperti tertusuk sesuatu
  • Rasa panas dalam perut
  • Batuk
  • Pemuntahan kembali isi lambung
  • Kemarahan yang tidak jelas pada waktu makan


Metode Terapi Disfagia


Ada sejumlah cara latihan atau manuver yang berguna untuk melatih fungsi motorik otot-otot yang bertugas dalam proses menelan .
• Stimulasi: Bersifat pasif, untuk meningkatkan respon/refleks yang diharapkan akan mengikuti setelah dilakukan stimulasi, bersifat manual maupun elektrik (Vibrator, Vital Stim)
• Latihan Oral Motor
  1. Latihan gerakan bibir
  2. Penutupan bibir
  3. Latihan gerakan rahang
  4.latihan gerakan lidah
• Effortful swallow, menekan dengan kuat menggunakan lidah dan otot-otot tenggorokan ketika menelan (kelemahan gerakan retraksi pangkal lidah)
• Mendelsohn maneuver, meningkatkan penutupan jalan udara saat makan (kelemahan elevasi laring)
• Postural technique:
  - chin down, menyentuhkan dagu ke leher
  - chin up, mengangkat dagu dan menengadahkan kepala ke belakang
  - head rotation, memutar kepala ke arah sisi yang lemah
  - head tilt posture, memiringkan kepala ke sisi yang tidak terganggu


TERAPI WICARA PADA AFASIA (FUNGSI BAHASA)


Afasia merupakan gangguan bahasa perolehan yang diseebabkan oleh cedera otak dan ditandai oleh gangguan pemahama serta gangguan pengutaraan bahasa, lisan maupun tertulis. Umumnya afasia muncul bila otak kiri terganggu. Karena otak kiri bagian depan berperan untuk kelancaran menuturkan isi pikiran dalam bahasa dengan baik, dan otak kiri bagian belakang untuk mengerti bahasa yang didengar dari lawan bicara. Namun ada beberapa laporan yang menyatakan gangguan ini dapat terjadi di belahan otak kanan, meski kasusnya sangat jarang.


Jenis – jenis Afasia
• Afasia global, semua modalitas bahasa meliputi kelancaran berbicara, pengertian bahasa lisan, penamaan, pengulangan, membaca dan menulis terganggu berat. Pada kasus ini penderita tidak bisa bicara sama sekali dan tidak mengerti apa yang dikatakan lawan bicara serta tidak bisa membaca dan menulis.
• Afasia Broca atau afasia motorik, merupakan ketidakmampuan bertutur kata. Namun ia mengerti bila diperintah dan menjawab dengan gerakan tubuh sesuai perintah itu. Meniru ucapan terganggu
• Afasia Wernicke atau afasia sensorik, merupakan ketidakmampuan memahami lawan bicara. Ia hanya lancar mengeluarkan isi pikiran, tetapi tidak mengerti pembicaraan orang lain. Meniru ucapan terganggu
• Afasia konduksi, merupakan ketidakmampuan mengulangi kata atau kalimat lawan bicara, namun penderita masih mampu mengeluarkan isi pikirannya dan menjawab kalimat lawan bicaranya.
• Afasia anomik, yang terganggu adalah penemuan dan penamaan kata membuat penderita ini tidak bisa menyebut nama benda yang dilihat, angka, huruf, bentuk gambar yang dilihat. Ia juga tak bisa menyebut nama binatang yang didengar suaranya atau benda yang diraba. Umumnya gangguan anomik terdapat pada semua penderita afasia dengan variasi kemampuan
• Afasia transkortikal sensorik, gangguan mirip dengan Wernicke, tetapi mampu menirukan kata/kalimat lawan bicara
• Afasia transkortikal motoris, terdapat gangguan dalam mengeluarkan isi pikiran. Mampu mengerti pembicaraan dan meniru ucapan
• Afasia transkortikal campuran, mirip afasia global, namun mampu menirukan ucapan lawan bicara


Cara bicara dengan pasien afasia
• Gunakan kalimat singkat dan jelas
• Kalau pasien kesulitan memahami sesuatu, jelaskan dengan isyarat atau gambar
• Kalau pasien mengalami kesukaran menjawab suatu pertanyaan, ajukan pertanyaan yang memungkinkan jawaban ya atau tidak


Metode penanganan Afasia
• Stimulasi Multimodal
• Intervensi Semantik Divergen
• Latihan Pemahaman auditif
• Terapi komunikasi total

TERAPI WICARA PADA DISARTRIA (FUNGSI BICARA)

Disartria adalah gangguan bicara yang diakibatkan cedera neuromuskuler. Gangguan bicara ini diakibatkan luka pada sistem saraf, yang pada gilirannya mempengaruhi bekerja baiknya satu atau beberapa otot yang diperlukan untuk bicara.


Jenis-jenis Disartria
1. Disartria Bulber
  - Bicara lemas
  - Huruf mati tidak tepat
  - Hipernasalitas (sengau)
  - Suara lemah dan parau
2. Disartria Miogen
  - Nada bicara pelan
  - Penghembusan nafas lemah
  - Pembentukan konsonan yang tidak tepat
3. Disartria Spastis
  - Konsonan tidak tepat
  - Monoton
  - Kurang tekanan
  - Suara serak
4. Disartria Ataksis
  - Konsonan tidak tepat
  - Tekanan yang berlebihan dan rata
  - Artikulasi yang tidak menentu memburuk
5. Disartria Hipokinetis
  - Monoton
  - Tekanan yang berkurang
  - Huruf mati tidak tepat
  - Nada bicara rendah
6. Disartria Hiperkinetis
  a. Hiperkinesis lambat
    - Huruf mati yang tidak tepat
    - Huruf hidup yang tidak benar
    - Suara serak
  b. Hiperkinesis cepat
    - Huruf mati yang tidak tepat
    - Istirahat yang diperpanjang
    - Kecepatan yang bervariasi
    - Monoton


Penanganan Disartria
• Penanganan gangguan Pernapasan (latihan penghembusan napas yang teratur)
• Penanganan gangguan Fonasi
• Penanganan gangguan Resonansi (fonem eksplosif dan vokal rendah /pa/)
• Penanganan gangguan Artikulasi
• Penanganan gangguan Prosodi (latihan membuat waktu istirahat dan tekanan)
(Ratna Fitriasih & Erlangga – Humas)

RSPON – Dalam rangka memperingati hari kanker dunia setiap 4 Februari, RS Pusat Otak Nasional mengadakan seminar kanker otak di lantai dasar yang dibawakan oleh dr Kemal Imran Sp.S, Mars (tanda klinis dan tata laksana kanker otak), Elis Nurhayati Agustina, Ners (penatalaksanaan keperawatan : tumor otak) serta Bernadetta Y.Bako, M.Psi (penangananan psikologis pada pasien kanker). Seminar kanker otak ini dihadiri oleh karyawan RS Pusat Otak Nasional, pasien RS Pusat Otak Nasional serta vendor.

Kanker otak merupakan pertumbuhan sel-sel abnormal didalam atau di sekitar otak secara tidak wajar dan tidak terkendali. Tumor yang dimulai dari otak dikenal dengan istilah tumor otak primer, sedangkan kanker yang dimulai dibagian lain dari tubuh dan menyebar hingga ke otak disebut dengan tumor otak sekunder atau metastatik.


Jenis-Jenis tumor primer :
• Glioma. Tumor yang berada pada jaringan glia (jaringan yang mengikat sel saraf dan serat) dan saraf tulang belakang. Kebanyakan tumor otak yang terjadi adalah jenis glioma.
• Meningioma. Tumor ini terjadi pada selaput yang melindungi otak dan saraf tulang belakang. Sebagian besar dari tumor ini tidak bersifat kanker.
• Hemangioma. Tumor yang terjadi pada pembuluh darah otak. Kondisi ini bisa menyebabkan lumpuh sebagian dan kejang-kejang.
• Neuroma akustik. Tumor yang tumbuh pada saraf akustik yang membantu mengendalikan keseimbangan dan pendengaran.
• Adenoma pituitary. Tumor pada kelenjar pituitary (kelenjar kecil yang terletak di bawah otak). Kebanyakan dari tumor ini adalah jenis tumor jinak dan bisa memengaruhi hormon pituitary dengan efek keseluruh tubuh
• Craniopharyngioma. Tumor yang cenderung terjadi pada anak-anak, remaja dan pemuda, berada di dekat dasar otak.
• Medulloblastoma. Ini adalah jenis tumor bersifat kanker paling umum pada anak-anak. Tumor dmulai dari bagian belakang bawah dari otak dan cenderung menyebar hingga cairan saraf tulang belakang. Meski jarabg terhaji pada orang dewasa, tapi kondisi ini bisa muncul.
• PNETs (primitive neuriectodermal tumors). Jenis tumor langka yang bersifat kanker dan dimulai sel janin di otak. Tumor jenis ini bisa muncul dibagian otak mana saja.
• Tumor germ cell. Tumor jenis ini biasanya berkembang saat masa kanak-kana ketika testikel atau ovarium mulai terbentuk. Tapi tumor jenis ini bisa perpindah kebagian tubuh lain seperti ke otak.


Tumor otak merupakan penyebab kematian kedua setelah stroke dalam kelompok penyakit neurologis (Rengachary 2005 dalam Mahyudin & Setiawan, 2006). Berdasarkan data penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional tahun 2014, meningioma 21 kasus (2.61%) dan astrocytoma 21 kasus (2.61%) menduduki peringat ke 3 dan 4 setelah stroke. Sedangkan data penyakit terbanyak pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional tahun 2015, tumor intrakranial 129 kasus (22.87%) dan penyebab kematian kedua setelah stroke yaitu 9 kasus (39.13%).


Gejala tumor otak berdasarkan lokasi yaitu
Otak kecil atau cerebellum. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kehilangan fungsi koordinasi, kesulitan berjalan dan bicara, mata berkedip terus-menerus, leher kaku, dan muntah-muntah.
Batang otak. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kesulitan berjalan, lumpuh pada otot wajah, pandangan berbayang, serta kesulitan bicara dan menelan
Lobus frontal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan perubahan sikap seseorang, kehilangan indera penciuman, dan mengalami kelemahan pada salah satu sisi tubuh.
Lobus parietal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kesulitan bicara, memahami kata-kata, menulis, membaca, dan mengendalikan gerakan. Salah satu bagian tubuh juga bisa mengalami mati rasa.
Lobbus occipital. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kehilangan penglihatan pada salah satu sisi.
Lobus temporal. Tumor pada bagian ini bisa menyebabkan kejang-kejang, pingsan, gangguan bicara dan ingatan, dan sensasi penciuman yang aneh.


Pengobatan yang dilakukan yaitu
Evakuasi jaringan tumor sebanyak banyaknya
Penghilang nyeri
Obat anti muntah
Kortikosteroid
Kemoterapi seperti Temozolamide
Radioterapi


Masalah psikologi yang sering terjadi pada pasien kanker adalah stabilitas emosi (mood swing, sedih berkepanjangan, depresi, cemas, frustasi), konsep diri (inferior atau kehilangan kepercayaan diri, putus asa, ketakutan akan kematian), serta interaksi sosial yang terganggu yaitu konflik interpersonal (konflik dengan keluarga, konflik dengan teman).


Penanganan dan perawatan psikologis pasien kanker yang baik, dapat membantu pasien meringankan beban psikologis, dan meningkatkan kepercayaan terhadap pengobatan, meningkatkan efektivitas pengobatan. Perawatan psikologis tidak hanya dapat dilakukan oleh Psikolog, petugas kesehatan baik dokter, perawat, farmasi, gizi juga dapat memberikan perawatan psikologis yang baik. Perhatian terhadap pasien, adanya dukungan sosial yang baik juga dapat meningkatkan efektivitas pengobatan. Dukungan sosial merupakan perasaan menyenangkan, diperhatikan, harga diri atau pertolongan yang diterima dari orang lain atau kelompok. Taylor (1983) mengemukakan bahwa dalam penelitian awal tentang benefit finding pada penderita kanker ditemukan bahwa 53% wanita yang didiagnosis menderita kanker mengalami perubahan yang positif dalam hidupnya sejak mereka didiagnosis menderita kanker tersebut. Perubahan positif yang dialama adalah wanita dengan diagnosis kanker menjadi lebih menerima, lebih fokus pada hubungan yang penting dengan keluarga dan teman serta mengubah prioritas hidupnya.


Ratna Fitriasih & Teguh Andenoworeh – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai persyaratan layanan BPJS disampaikan oleh Ibu Dahlia Anggraini, Amd (petugas rekam medis) dan Dinda Indrawati, SKM (petugas BPJS Centre) yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 4 Februari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar peserta penyuluhan memahami jalur administrasi BPJS untuk mendaftar di poli rawat jalan, rawat inap, IGD atau kecelakaan lalu lintas di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Rumah Sakit Pusat Otak Nasional melayani pasien dari PBJS, umum dan asuransi.


Administrasi BPJS Rawat Jalan Untuk Pasien Baru
1. Membawa rujukan dari faskes tingkat 1 (PUSKESMAS, dokter keluarga, klinik) yang ditujukan ke Rumah Sakit setempat (RS Pemerintah, Swasta yg bekerja sama dg BPJS) dan Lembar Rekomendasi DPJP yang masih kosong;
2. Membawa Rujukan dari Rumah Sakit setempat Tipe B atau A (RS Pemerintah, swasta yg bekerja sama dg BPJS) yang ditujukan ke RS. Pusat Otak Nasional dan Surat Rujukan dari Petugas BPJS di Rumah Sakit Tersebut;
3. Kartu BPJS
4. Persyaratan di atas difotokopi dua rangkap.


Administrasi BPJS Rawat Jalan Untuk Pasien Kontrol
1. Rujukan faskes tingkat 1
2. Rujukan Petugas BPJS di Rumah Sakit Setempat
3. Kartu BPJS
4. Lembar DPJP yang di isi oleh Dokter Sp.S di RS.PON
5. Surat Pengantar Konsul/ Permintaan pemeriksaan penunjang dari RS. Pusat Otak Nasional
6. Persyaratan di atas difotokopi dua rangkap.


Administrasi BPJS Pasien Rawat Jalan post (setelah) RANAP (Rawat Inap)
• Membawa Resume Medis, Resume Keperawatan dan Kartu BPJS
• Membawa Fotokopi Resume Medis rangkap 1
• Membawa Fotokopi Resume Keperawatan rangkap 1
• Membawa Fotokopi Kartu BPJS rangkap 2


(BERLAKU SELAMA 14 HARI SEJAK TANGGAL PULANG)

Administrasi BPJS Rawat Inap dari Poliklinik dan IGD
1. Fotokopi Kartu BPJS Rangkap 2
2. Fotokopi KTP Rangkap 2
3. Paling Lambat diserahkan 3X 24 Jam, jika tidak maka status akan di ubah menjadi PASIEN UMUM.
4. Ruang rawat sesuai kelas saat mendaftar BPJS untuk peserta mandiri dan sesuai golongan untuk PNS
5. Pasien kelas 3 mandiri dan PBI tidak bisa naik kelas


Administrasi BPJS IGD
1. Fotokopi Kartu BPJS Rangkap 2
2. Fotokopi KTP Rangkap 2


> Syarat dan Ketentuan*:
1. Urgent = di Cover
2. Less Urgent = di Cover
3. False Urgent = TIDAK di COVER

ditentukan oleh dokter sesuai indikasi medis


Administrasi BPJS Karena Kecelakaan Lalu Lintas
1. PT. Jasa Raharja (Persero) sebagai penjamin pertama/ utama.
2. BPJS Kesehatan sabagai penjamin kedua
3. Pasien BPJS Kesehatan dg KLL tunggal hanya ditanggung oleh BPJS


Mengurus Persyaratan?
Pasien BPJS Kesehatan dengan Kecelakaan Lalulintas membuat SURAT JAMINAN JASA RAHARJA dan mengurus SEP BPJS KESEHATAN


Administrasi BPJS dengan Kasus Kecelakaan Lalu Lintas Tunggal
• Surat Keterangan Kepolisian
• Persyaratan BPJS
• Surat Keterangan Tidak Dijamin Jasa Raharja


Administrasu BPJS dg Kasus Kecelakaan Lalulintas Non Tunggal
• Surat Keterangan Kepolisian
• Surat Jaminan Jasa Raharja
• Persyaratan BPJS


Biaya Perawatan akan Menjadi Tanggungan pasien/Keluarga bila:
• Pelayanan Kesehatan dilakukan tanpa melalui prosedur
• Pasien dirawat saat DPJP menyatakan boleh pulang
• Pasien pulang tanpa persetujuan dokter dan masuk rawat inap lagi dg diagnosa yg sama dan merupakan satu rangkaian episode rawat sebelumnya
• Rawat inap tanpa ada indikasi medis atau tidak ada hubungannya ddg kondisi yg memerlukan perawatan (observasi yg bisa dilakukan di rawat jalan dan rawat untuk menunggu kesiapan di rumah)
• Pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa melalui prosedur sebagaimana diatur dalam peraturan yang berlaku;
• Pelayanan kesehatan yang dilakukan di Fasilitas Kesehatan yang tidak bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, kecuali dalam keadaan darurat;
• Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan kerja terhadap penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja atau hubungan kerja;
• Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas yang bersifat wajib sampai nilai yang ditanggung oleh program jaminan kecelakaan lalu lintas (Jasa Raharja sebagai penanggung pertama);
• Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri;
• Pelayanan kesehatan untuk tujuan estetik;
• Pelayanan untuk mengatasi infertilitas;
• Pelayanan meratakan gigi (ortodonsi);
• Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri, atau akibat melakukan hobi yang membahayakan diri sendiri;
Pengobatan komplementer, alternatif dan tradisional, termasuk akupunktur non medis, shin she, chiropractic, yang belum dinyatakan efektif berdasarkan penilaian teknologi kesehatan (health technology assessment);
• Pengobatan dan tindakan medis yang dikategorikan sebagai percobaan (eksperimen);
Alat kontrasepsi, kosmetik, makanan bayi, dan susu;
Perbekalan kesehatan rumah tangga;
• Pelayanan kesehatan akibat bencana pada masa tanggap darurat, kejadian luar biasa/wabah;
• Biaya pelayanan kesehatan pada kejadian tak diharapkan yang dapat dicegah (preventable adverse events)
• Yang dimaksudkan preventable adverse events adalah cedera yang berhubungan dengan kesalahan/kelalaian penatalaksanaan medis termasuk kesalahan terapi dan diagnosis, ketidaklayakan alat dan lain-lain, kecuali komplikasi penyakit terkait.
• Biaya pelayanan lainnya yang tidak ada hubungan dengan Manfaat Jaminan Kesehatan yang diberikan


Peraturan Terkait
1. Peraturan Mentri Kesehatan RI no 28 tahun 2014 ttg Pedoman Pelaksanaan Program Jaminan Kesehatan Nasional Bab IV huruf C poin 2.
2. Pedoman Penyelenggaraan dan Prosedur Rekam Medis bagian alur rekam medis rawat inap poin (a) hal (39) "Setiap Pasien yg membawa SPR (Surat Pengantar Rawat) poliklinik/ IGD menghubungi tempat penerimaan pasien rawat inap, sedang pasien rujukan dari pelayanan kesehatan lain terlebih dahulu di periksa oleh dokter rumah sakit bersangkutan" dan ketentuan umum penerimaan pasien rawat inap (c) hal (43) "tanpa diagnosa yg tercantum dalam surat permintaan dirawat, pasien tidak dapat diterima"
(Ratna Fitriasih & Erlangga - Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai Cerebral Digital Subtraction Angiography (DSA) disampaikan oleh dr. Bambang Tri Prasetyo, Sp.S, FINS yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 27 Januari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar peserta penyuluhan mengenal lebih jauh mengenai alat canggih DSA serta manfaatnya bagi pasien stroke dan tumor.

Digital Subtraction Angiography (DSA) merupakan pemeriksaan penunjang terbaru dan canggih yang digunakan untuk penderita stroke dan kelainan pembuluh darah. DSA juga merupakan suatu teknik pencitraan pembuluh darah otak ekstra dan intracranial yang dikerjakan pada ruang angiografi mesin angio serta kontras. Alat ini sudah tersedia di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional.

Indikasi Penggunaan
DSA bisa digunakan untuk kasus-kasus sebagai berikut :
1. Stroke iskemik akut, sirkulasi anterior < 8 jam dan sirkulasi posterior < 24 jam
2. Perdarahan sub-arachnoid spontan yang disebabkan pecahnya aneurisma
3. Perdarahan intracranial yang disebabkan oleh arteriovenous malforasi (AVM) atau dural AV fistula
4. Kasus tumor otak meningioma untuk embolisasi pre operatif dan tumor THT juvenile angiofibroma.

Kontra Indikasi
1. Alergi terhadap kontras
2. Gagal ginjal kronik

DSA Lebih Nyaman
Teknik DSA merupakan tindakan invasif. Resiko implikasi yang terjadi hanya 1% yaitu thrombo – emboli, perdarahan otak, alergi kontras serta hematoma groin. Pada DSA konvensional, untuk menggambar pembuluh otak, cairan kontras disemprotkan melalui pembuluh leher sebagai pembuluh terdekat. Film yang digunakan pun berlapis-lapis. Kini dengan teknologi canggih dan sistem digital yang terkomputerisasi, DSA bisa mendeteksi kelainan pada pembuluh darah secara akurat dan terukur, serta penggunaan cairan kontras seminimal mungkin. Jadi dengan tindakan invasif seminimal mungkin, hasil yang dicapai pun menjadi lebih baik.

(Ratna Fitriasih– Humas)

Pada 22 Januari 2016 di Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RS PON) telah diluncurkan layanan Magnetic Resonance Imaging (MRI) Skyra 3 Tesla untuk mempertajam diagnosis dokter. Layanan pemeriksaan MRI ini dilaksanakan oleh Instalasi Radiologi RS PON.

Pemeriksaan MRI adalah pemeriksaan yang memanfaatkan medan magnet yang memungkinkan melihat organ dalam tubuh dengan lebih teliti. Pada kasus stroke akibat penyumbatan pembuluh darah akut (sangat dini), MRI dapat mendeteksi kelainan yang sangat awal, yang tidak dapat dinilai dengan metode lain. MRI Skyra 3 Tesla memiliki teknologi paling mutakhir memungkin penilaian terhadap kelainan pada otak seperti tumor dengan nilai diagnostik dan ketepatan yang sangat tinggi, sehingga dapat membedakan tumor jinak dan ganas. Di RSPON, juga tersedia pemeriksaan untuk menilai fungsi bagian-bagian otak secara spesifik sebagai bagian dari penanganan pasien tumor sehingga efek samping akibat pembedahan dapat dihindari seminimal mungkin.

Oleh karena itu RSPON meluncurkan MRI yang terbaru dikelasnya, dengan kekuatan 3 Tesla yang mampu menghasilkan citra (image) dengan resolusi yang tinggi. Dengan keunggulan-keunggulannya adalah sebagai berikut :

1. menggunakan coil dengan kerapatan yang tinggi sehingga menghasilkan kualitas gambar yang lebih baik, SNR yang lebih tinggi, dan resolusi yang lebih tinggi dengan waktu pemeriksaan yang lebih cepat.
2. Diameter alat 70 cm, paling luas di kelasnya, sehingga pemeriksaan lebih nyaman dan lebih bisa ditoleransi oleh orang yang takut dengan ruang sempit (claustrophobic).
3. Sebagian pemeriksaan lebih cepat dan tidak berisik (quiet).
4. Lama pemeriksaan pada kasus stroke akut hanya dalam waktu 6-8 menit.
5. Membedakan kasus infeksi, tumor primer atau metastasis, dan tingkat keganasan dengan memanfaatkan protokol DWI, MR spektroskopi dan MR perfusi.
6. Protokol MR navigasi dan DTI untuk kepentingan perencanaan operasi sehingga memiliki presisi yang tinggi dan meminimalisasi efek samping.
7. Mampu menilai saraf cranial dengan teknik 3 dimensi.
8. Memiliki kemampuan fMRI (functional MRI) untuk menilai area aktifitas otak yang mengalami eksitasi setelah diberikan rangsangan yang sesuai. Banyak digunakan untuk menilai fungsi luhur dan pre surgical planning.
9. Dapat melakukan pemeriksaan seluruh vertebrae (whole spine).
10. Dapat mendeteksi lesi metastasis pada tulang (hampir) seluruh tubuh pada satu pemeriksaan whole body DWI.
11. Mampu menilai pembuluh darah, otak, dan tungkai (MRA-MRV).
12. Pemeriksaan payudara dapat dilakukan dengan kualitas gambar yang lebih baik, sehingga sangat baik untuk deteksi dini maupun evaluasi.
13. Dengan kekuatan magnet yang lebih besar, untuk pemeriksaan pada organ yang dipengaruhi oleh pergerakan nafas seperti regio thorax dan abdomen, pasien hanya perlu menahan nafas dalam waktu yang lebih singkat.
14. Kemampuan auto aligned, memungkinkan menghasilkan gambar yang sama dengan pemeriksaan sebelumnya, sehingga memudahkan penilaian pada pemeriksaan follow up.

Sedangkan layanan pemeriksaan MRI yang dapat dilakukan di RSPON adalah sebagai berikut :
1. MRI kepala pada kasus stroke akut.
2. MRI kepala pada kasus stroke berulang.
3. Tumor kepala: dilengkapi DWI, MR spektroskopi, MRI perfusi.
4. DTI (Diffusion Tensor Imaging) atau tractography.
5. MR Angiography dan venography, tanpa dan dengan kontras.
6. MRI kepala pada kasus lain: epilepsi, demensia.
7. fMRI (Functional MRI)
8. MRI vertebrae: whole spine, cervical, thoracal, lumbosacral.
9. MR Angiography spine
10. Ekstremitas: shoulder, elbow, wrist, hand, hip, genu, ankle, foot.
11. MR Angiography dan Venography ekstremitas atas dan bawah.
12. MRCP
13. MR abdomen, tanpa dan dengan kontras.
14. MR urography.
15. MR lung dan mediastinum.
16. MR plexus brachial dan lumbosacral.
17. MR breast.

(Erlangga – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai risiko jatuh pada pasien disampaikan oleh Ade Martiwi, S.Kep, Ners, yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 21 Januari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar peserta penyuluhan bila memiliki anggota keluarga yang memiliki risiko jatuh dapat mencegah atau meminimalisasi kejadian jatuh serta apa yang harus dilakukan bila dirinya atau anggota keluarganya/pasien yang memiliki risiko mengalami jatuh.

Dengan mengenali orang-orang disekitar kita yang memiliki risiko jatuh, maka 50 % - 60% kejadian jatuh bisa diminimalisasi. Kita bisa mengidentifikasi apakah diri kita ataupun anggota keluarga atau orang terdekat memiliki tanda-tanda risiko sebagai berikut :
1. Penggunaan obat-obatan tertentu dan alkohol. Umumnya terjadi pada pasien yang diberikan obat minimal 4 macam. Disarankan untuk bertanya kepada dokter atau farmasi mengenai efek samping apa saja bila meminum obat yang diresepkan.
2. Lansia dengan perubahan fisiologis: misalnya berkurangnya penglihatan.
3. Penderita penyakit tertentu: misalnya stroke, Parkinson.
4. Seseorang dengan masalah ketidakseimbangan atau kurangnya aktifitas fisik.
5. Penggunaan alat bantu gerak.
6. Seseorang dengan nyeri.
7. Seseorang dengan gangguan daya pikir, daya ingat, atau masalah kesehatan mental.

Bila kita atau anggota keluarga terdeteksi memiliki satu atau lebih faktor resiko diatas maka perlu dilakukan modifikasi terhadap faktor lingkungan di rumah yaitu perawatan dan pemilihan lantai yang tidak licin, kondisi pintu dan jendela pastikan dalam kondisi baik, pencahayaan dan ventilasi yang cukup, penyusunan furniture rumah tangga, perawatan kamar mandi agar tidak licin, serta kondisi kelistrikan yang aman.

Hal-hal yang bisa dilakukan untuk mencegah pasien jatuh di rumah yaitu :
Mendampingi dan membantu pasien saat berjalan atau berpindah duduk.
Mengawasi pasien saat beraktifitas, jangan ditinggal sendirian.
Mengingatkan pasien untuk menggunakan alat bantu jalan yang sesuai kondisi pasien.
Mengingatkan pasien untuk menggunakan alat bantu penglihatan atau pendengaran.
Menghindari jalan yang licin/basah/gelap.
Tidak mengunci pintu kamar mandi atau ruang tertutup.
Menghidupkan lampu di malam hari.
Menggunakan alas kaki saat berjalan.
Cukup minum, selama tidak ada anjuran untuk pembatasan cairan.
Olahraga teratur dan berjemur di pagi hari.

Apa yang harus dilakukan bila pasien terjatuh:
1. Mengamankan pasien
2. Mengamankan lingkungan sekitar
3. Memeriksa kondisi pasien.
4. Memberikan tindakan pertolongan pertama pada pasien.
5. Mencatat kondisi pasien dan waktu kejadian.
6. Mengunjungi fasilitas kesehatan terdekat.
(Ratna Fitriasih & Erlangga – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai pentingnya latihan motorik halus untuk pasien stroke disampaikan oleh Ibu Handayani Andri, AmD, OT, yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional pada 14 Januari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga pasien penderita stroke mengetahui latihan motorik untuk pasien stroke dan manfaatnya untuk keseharian pasien stroke.

Stroke merupakan gangguan fungsional otak akibat dari kerusakan sebagian sel-sel otak, yang ditimbulkan oleh sumbatan aliran darah ke otak, atau ada robekan dinding pembuluh darah otak. Masalah pada penderita stroke yang seringkali terjadi adalah gangguan pada motorik, sensorik, komunikasi serta kognitif dan persepsi. Gangguan ini menyebabkan aktifitas sehari-hari, produktifitas serta hobi yang biasa dilakukan oleh pasien stroke terganggu karena pasien stroke menjadi tidak mandiri melakukan aktifitasnya.

Gangguan motorik yang terjadi terdiri dari gangguan motorik kasar yaitu pada bagian otot besar seperti otot tungkai serta gangguan motorik halus. Gangguan motorik halus yang biasa terjadi adalah kemampuan menjangkau atau meraih, menggenggam, membawa benda, membuka genggaman untuk mengeluarkan benda yang digenggam serta in hand manipulation (memanipulasi benda yang telah digenggam) serta bilateral hand use (menggunakan kedua tangan secara bersama-sama). Gangguan motorik halus terjadi di bagian bahu, lengan sampai jari tangan.

Untuk mengembalikan kemampuan motorik halus maka diperlukan latihan motorik halus pada pasien stroke. Prinsip utama sebelum melakukan latihan motorik halus sebaiknya latihan dimulai dari bagian tubuh yang besar ke bagian yang lebih kecil yaitu mulai dari bahu sampai jari tangan.

Latihan motorik halus yang paling efektif adalah latihan aktif yaitu latihan dilakukan atas kesadaran diri pasien stroke untuk menggerakan tubuhnya. Tapi bila hal ini tidak memungkinkan maka bisa dilakukan latihan motorik halus secara pasif yaitu membutuhkan bantuan orang lain untuk melatih bagian tubuh yang memiliki gangguan. Berikut contoh latihan pasif motorik halus untuk anggota gerak atas.

Latihan Pasif Anggota Gerak Atas

Gambar 1 : Gerakkan menekuk dan meluruskan sendi bahu


Gambar 2 : Gerakkan menekuk dan meluruskan siku


Gambar 3 : Gerakkan menekuk pergelangan tangan


Gambar 4 : Gerakkan membuka ibu jari


Gambar 5 : Gerakkan menekuk dan meluruskan jari-jari tangan


RS Pusat Otak Nasional melayani terapi okupasi sesuai rujukan dokter.
(Ratna Fitriasih & Teguh Andenoworeh – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai diet sehat dilakukan oleh tim PKRS dan disampaikan oleh Ibu Rodlia, S.Gz, MKM yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional di 7 Januari 2016. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga pasien penderita stroke mengetahui mengenai diet sehat untuk pecegahan stroke agar tidak berulang kembali.

Stroke merupakan gangguan fungsi otak yang terjadi secara mendadak, disebabkan oleh gangguan pembuluh darah di otak, dan dapat mengakibatkan kematian. Stroke bisa dicegah yaitu dengan cara berhenti merokok, olahraga teratur, istirahat yang cukup, pengaturan pola makan, serta kontrol dokter jika ada faktor resiko seperti hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi.

Pengaturan pola makan yang sehat sangat penting untuk pencegahan stroke ataupun untuk penderita stroke, yaitu makan sesuai dengan kebutuhan, perbanyak makanan tinggi serat, konsumsi lemak/minyak nabati (minyak kacang, minyak zaitun, minyak jagung, dsb), batasi makanan tinggi lemak jenuh (kolesterol), batasi makanan tinggi gula maksimal 35 g/hari (7-8 sendok teh peres), batasi penggunaan garam maksimal 10 gr/hari (1 sendok makan peres) serta hindari minuman beralkohol.
(Ratna Fitriasih – Humas)

RSPON – Penyuluhan mengenai makanan cair dilakukan oleh tim PKRS dan disampaikan oleh Ibu Anggita Marlida, Amd.Gz. , yang dilakukan di Lt.2 Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga maupun pengasuh pasien mengetahui mengenai makanan cair dan cara pembuatannya agar bisa dipraktekan pada pasien yang membutuhkan.

Makanan cair merupakan makanan yang memiliki konsistensi cair hingga kental yang ditujukan untuk pasien yang mengalami gangguan mengunyah, menelan, dan mencerna makanan yang disebabkan oleh menurunnya kesadaran, suhu tinggi, rasa mual, muntah, pasca pendarahan saluran cerna serta pra dan pasca bedah.

Jenis makanan cair yang tersedia di rumah sakit ada 4 macam yaitu makanan cair dengan susu (whole cream) yang ditujukan untuk pasien dengan lambung, usus dan kolon normal, makanan blender yaitu ditujukan untuk pasien yang memerlukan makanan tambahan, makanan cair rendah laktosa yang ditujukan untuk pasien yang tidak tahan terhadap laktosa, serta makan cair tanpa susu yang ditujukan untuk pasien yang tidak tahan terhadap protein susu.
(Ratna.F & Erlangga-Humas)

RSPON – Kebersihan tangan sangat penting dalam proses penularan penyakit khususnya di lingkungan Rumah Sakit. Karena itu RS Pusat Otak Nasional mengadakan penyuluhan mengenai pentingnya kebersihan tangan oleh tim PKRS yang disampaikan oleh Ibu Suci Fatimah Kendarti, S.Kep, Ners. Tujuan penyuluhan ini adalah agar pasien atau anggota keluarga maupun pengasuh pasien mengerti dengan benar dan tepat cara membersihkan tangan agar meminimalisasi penular penyakit yang berasal dari tangan. Kenapa penting memperhatikan kebersihan tangan dengan mencuci tangan dengan benar? Karena selain banyaknya kuman penyakit yang ada di tangan yang tidak/jarang dibersihkan, ada juga kondisi saat tangan sudah dibersihkan tapi seringkali ada bagian dari tangan yang tidak dibersihkan dengan tepat. Bagian tangan yang sering abai dibersihkan bisa dilihat dari tanda warna merah pada gambar di bawah ini:

Gambar 1 : Bagian Tangan yang sering terlewati dibersihkan dalam mencuci tangan


Cara mencuci tangan dilakukan dalam 6 langkah mudah, melalui 2 cara yaitu dengan menggunakan sabun dan air mengalir selama 40 sampai 60 detik atau menggunakan hand rub berbahan dasar alkohol selama 20-30 detik.

Gambar 2. 6 Langkah mencuci tangan


Kapan sebaiknya kita mencuci tangan? Segera setelah tiba di rumah sakit, gunakan hand rub yang tersedia. Sebelum kita menyentuh/memegang/bersalaman dengan pasien, sebelum makan serta sebelum meninggalkan rumah sakit. Selain itu perlu mencuci tangan setelah melakukan hal-hal berikut : kontak (memegang, bersalaman) dengan pasien, menggunakan toilet, menyentuh/melap hidung, menyentuh lingkungan pasien serta terpapar cairan tubuh pasien.

Tidak kalah pentingnya adalah selalu pastikan saat mencuci tangan, kuku terpotong pendek rapi serta jam tangan, gelang dan cincin dilepas sebelum mencuci tangan.
(Ratna Fitriasih/Humas)

RSPON – Acara Pengambilan Sumpah/ Janji PNS dilingkungan Rumah Sakit Pusat Otak Nasional denagn jumlah peserta 321 orang Pegawai Negeri Sipil yang dibagi ke dalam 3 (tiga) tahapan pengambilan sumpah tanggal 23, 26 dan 30 Oktober 2015. Pengambilan Sumpah/Janji PNS tersebut dilaksanakan di ruang serba guna Rumah Sakit Pusat Otak Nasional. Pengambilan Sumpah/Janji PNS berdasarkan pada UU nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara, Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1975 tentang Sumpah/Janji PNS, serta Peraturan Pemerintah Nomor 53 Tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, bahwa setiap PNS wajib mengucapkan Sumpah/Janji PNS menurut Agama dan Kepercayaannya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Acara Pengambilan sumpah dilakukan oleh Direktur Utama Rumah Sakit Pusat Otak Nasional dr. Mursyid Bustami, Sp.S (K), KIC, MARS dan peserta yang besrsangkutan, dengan disaksikan oleh Direksi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Direktur Pelayanan DR. dr. Andi Basuki Prima Birawa, Sp.S (K), MARS, Direktur SDM & Diklit drg. Sophia Hermawan, M.Kes dan Direktur Keuangan dan Administrasi Umum Drs. Syamsuri, MM, M.Ak. yang dibuktikan dengan penandatanganan Berita Acara Sumpah/Janji PNS.
(Humas RS PON)