RSPON- — Melanjutkan rangkaian Program Peningkatan Kapasitas Diagnosis Post-Stroke Cognitive Impairment (PSCI) bagi residen neurologi di Indonesia, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON Mahar Mardjono Jakarta) kembali menyelenggarakan kegiatan serupa di Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah strategis RSPON dalam memperkuat kompetensi tenaga medis, khususnya dalam penanganan gangguan kognitif pasca stroke.
Program ini merupakan inisiatif yang digagas oleh Direktur SDM, Penelitian, dan Pendidikan RSPON Mahar Mardjono Jakarta, Prof. Dr. dr. Syahrul, Sp.S(K), bersama research fellow Clinical Research Unit (CRU) RSPON Mahar Mardjono Jakarta, dr. Galih Ricci Muchamad, MSc, dan menyasar residen neurologi dari berbagai institusi pendidikan di Indonesia. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini turut didukung oleh tim RSPON yang terdiri dari dr. Nizar Yamanie, Sp.S(K); dr. Silvia F. Lumempouw, Sp.N, Subsp.NGD(K), FIAN; dr. Yuli Felistia, Sp.N, M.Res; serta dr. Bagas Ariffandi.
Setelah sebelumnya dilaksanakan di Makassar pada tanggal 8 April 2026, program ini dilanjutkan di Universitas Airlangga, Surabaya pada tanggal 9 April 2026. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Dekan Fakultas Kedokteran, Dr. dr. Abdulloh Machin, Sp.N(K).

Kegiatan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kompetensi klinis dalam skrining dan diagnosis PSCI, tetapi juga mendorong penguatan pendekatan multidisiplin dalam tata laksana pasien stroke. Pendekatan tersebut mencakup aspek rehabilitasi kognitif yang berkesinambungan, sebagai bagian integral dari proses pemulihan pasien pasca stroke.
Diagnosis Post-Stroke Cognitive Impairment (PSCI) sendiri dikutip dari(https://practicalneurology-com.translate.goog/diseases-diagnoses/stroke/poststroke-cognitive-impairment-and-dementia. merujuk pada kondisi gangguan fungsi kognitif yang terjadi atau berkembang setelah serangan stroke, terlepas dari etiologi atau proses patologis yang mendasarinya. Kondisi ini mencakup spektrum luas, mulai dari penurunan kognitif ringan (Mild Cognitive Impairment) hingga demensia berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari.  
Namun demikian, diagnosis PSCI masih sering terlewatkan dalam praktik klinis, antara lain akibat keterbatasan kompetensi dalam skrining kognitif, keterbatasan fasilitas memory clinic, serta modalitas diagnostik lainnya. Padahal, prevalensi PSCI diperkirakan akan meningkat hingga 27,6% dari seluruh pasien stroke pada tahun 2030.
Sebagaimana diketahui, PSCI merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi pasca stroke, namun masih kerap terlewatkan dalam praktik klinis akibat keterbatasan kompetensi skrining kognitif serta dukungan fasilitas layanan seperti memory clinic. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas tenaga medis menjadi sangat penting guna memastikan deteksi dini dan penanganan yang tepat.
Rangkaian kegiatan di Surabaya juga dilengkapi dengan kunjungan ke RS Kemenkes Surabaya sebagai bagian dari upaya penguatan jejaring layanan stroke. Dalam kunjungan tersebut, dilakukan diskusi dan pertukaran pengetahuan terkait pengembangan layanan stroke terpadu, termasuk penanganan gangguan kognitif pasca stroke serta peluang kolaborasi dalam bidang pelayanan, pendidikan, dan penelitian.
Melalui penyelenggaraan program ini, diharapkan dapat terjalin kolaborasi yang semakin erat antar institusi dalam bidang pelayanan, pendidikan, dan penelitian stroke di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran akan urgensi pengembangan klinik memori serta penanganan komprehensif gangguan kognitif pasca stroke sebagai bagian penting dari upaya peningkatan kualitas hidup pasien stroke di Indonesia.
RSPON Mahar Mardjono Jakarta sebagai pusat rujukan nasional di bidang kesehatan otak terus berkomitmen untuk menghadirkan program pendidikan dan pelatihan yang berkelanjutan guna mendukung peningkatan mutu layanan kesehatan di Indonesia. (a.n-Humas)

Share:

Tags: RSPON, Berita

admin.rspon.go.id
Tim Humas RSPON